Tawanan Presdir Kejam

Tawanan Presdir Kejam
Bab 43


__ADS_3

Kean melahap habis es krim dari tangan istrinya. Sementara perempuan itu hanya memperhatikan saja ada yang berbeda.


"Ayo masuk!" ujarnya meraih pinggang Sharen sambil berjalan.


"Tadi katanya mama ke sini? Ada apa? Apa beliau menyakitimu?" tanya Keanu serius. Mengingat ibunya tidak pernah setuju dengan pernikahannya.


"Menyuruhmu datang ke rumah," jawab Sharen sesuai pesan orang tua Keen.


"Baiklah kita akan ke sana malam ini, kamu siap-siap," ujar Kean lembut.


"Nggak Mas, tubuhku sedikit capek dan tidak enak badan, kamu datang sendiri saja," tolak Sharen tanpa berkata yang sejujurnya. Ia tidak ingin membuat pertengkaran di antara keduanya hanya karena ibunya Keen tidak setuju.


Keanu terdiam sesaat, apa yang akan dibicarakan perempuan yang telah melahirkan dirinya itu. Sebenarnya ia sedikit tidak minat pulang, apalagi tanpa istrinya. Entahlah, ia hanya ingin banyak menikmati waktu bersama, dan serasa ada magnet yang membuatnya selalu ingin dekat.


Pria itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara istrinya menyiapkan gantinya. Belum sempat beranjak, pria itu menyusul Sharen di ruang wardrobe.


"Aku pakai baju biasa aja, bukan acara resmi juga kan? Apa tidak sebaiknya kamu ikut?" tawar Keanu tidak yakin meninggalkan dirinya sendirian di rumah.


"Nggak pa-pa Mas, aku mau di rumah saja," jawab Sharen memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan matanya yang mungkin saja tercyduk berbohong.


"Sha!" panggil pria itu menghentikan langkah istrinya.


"Iya Mas, kenapa?" sahut Sharen tanpa merubah posisinya. Rasanya malu saat harus bertatapan dalam satu ruang dengan pria itu tanpa mengenakan pakaian.


"Nggak kepingin pakai baju yang berjejer rapih banyak gini, biar nggak itu-itu saja yang dipakai," ujar Keanu mengalihkan topik.

__ADS_1


"Kamu kan nggak suka Mas, kalau aku pakai baju-baju itu. Nanti aku dikira menggoda lagi, repot," sahut Sharen setengah menyindir.


Keanu sepertinya tak mau dengar, sadar betul sikapnya dulu yang sangat keterlaluan. Padahal jelas pakaian itu dipesan sesuai keinginannya. Walaupun ada sedikit kesalahan.


"Nanti malam pakai ya, ini perintah, jadi tidak mungkin aku mengulang perkataan aku dulu," bisik pria itu tepat di belakangnya.


"Tapi Mas, mm ... nggak janji," jawabnya setengah deg degan saat pria itu sedikit menyapu napasnya di sisi telinga kanannya.


Sharen kembali melangkah keluar saat Kean memberi jarak. Pria itu segera memakai pakaiannya yang tadi sudah disiapkan. Usai merapihkan penampilannya, Keanu keluar.


"Aku berangkat dulu, beneran nggak mau ikut?" tawar Keanu sekali lagi. Mendekati Sharen yang tengah duduk di ranjang.


Sharen menggeleng yakin, untuk apa dia ikut, yang ada makan hati melihat orang-orang yang jelas menolak dirinya.


"Iya," jawab perempuan itu mendadak begitu kesepian. Apalagi saat pria itu tak kunjung pulang hingga larut. Sebenarnya apa yang mereka bahas. Kenapa mendadak hati Sharen tak tenang memikirkan suaminya.


"Kenapa aku harus memikirkan pria itu sih, apa hubungan batin dengan janin ini sedekat ini," gumam Sharen resah menunggu Keanu yang tak kunjung pulang.


Sementara Keanu, lagaknya tengah mengadakan pertemuan penting keluarga. Yang dihadiri lebih besar dari keluarga mama.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga," sambut Nyonya Abraham. Ia bahkan sudah bersiap melabrak besok menantunya apabila kabar itu tidak disampaikan. Mengingat susah sekali bertemu dan menghubunginya lewat telepon.


"Ada apa, Ma?" tanya Keanu mengambil duduk setelah menjabat tangan beberapa orang yang datang.


"Kebetulan kamu sudah datang Kean, jadi begini, keluarga berencana membongkar kembali pemakan Fio, selama ini mama tidak tenang, selalu dihantui mimpinya seakan ada sesuatu yang mengganjal. Mengingat kematian adik sangat mendadak dan sedikit tidak wajar, mama ingin membongkarnya dan melakukan otopsi."

__ADS_1


"Untuk apa, Ma, Fio sudah tenang," jawab Keanu kenapa mendadak takut. Padahal itu semua malah akan memperjelas semuanya.


"Kenapa Keen, apa yang kamu khawatirkan, seharusnya kamu setuju dong, agar jelas kematian Fio karena apa, pembunuhan berencana, atau memang benar-benar karena suatu lainnya." Mesya yang notabene hanya kerabat jauh saja ikut berbicara, membuatnya muak saja.


"Kenapa mama seyakin ini, katakan padaku, hasutan dari siapa?" tanya Keanu melirik Mesya di meja sebelah penuh selidik.


"Berdasarkan mimpi mama selama ini."


"Cuma itu?" tanya Keanu kurang yakin.


"Iya," jawabnya meragukan. Tetapi cukup membuat Keanu akhirnya mengiyakan. Sesungguhnya ia juga penasaran. Apakah dalang kematian tersebut adalah Daniel, atau ada sangkut pautnya dengan istrinya, mengingat perempuan itu bukan satu-satunya orang yang berkunjung.


Pria itu menepi, sedikit ragu dengan keputusannya. Kalaupun Sharen tidak bersalah, kenapa ia malah sekarang takut perempuan itu akan menagih janji kesepakatan yang telah dibuat.


"Kenapa kamu sepertinya keberatan, apakah kamu menyembunyikan sesuatu, atau Sharen benar-benar pelakunya," bisik Mesya penuh penekanan. Mendekati Keanu yang terlihat galau.


"Jangan main-main denganku Mesya, Sharen tidak mungkin melakukan itu," jawab pria itu dengan rahang mengeras. Kenapa perempuan ambisius itu bisa tahu, sudah pasti ada orang yang berniat mencari perkara, siapa lagi yang tahu masalahnya selain dirinya, Sharen, dan Daniel tentunya. Apa mungkin itu Daniel yang masih dendam.


"Owh ya, kita lihat saja nanti," jawab Mesya seperti menemukan celah tentang kehancuran rumah tangga keduanya.


"Bagaimana bisa kamu menuduhnya, tahu dari mana kamu!" tandas Keen menatap garang.


"Tidak penting aku tahu dari mana, bukankah ada orang lain juga yang tahu rahasia ini, seharusnya kamu membayar mahal untuk menutupi mulutnya. Ups ... kamu kan bangkrut, bahkan meminta suntikan modal dari ayah yang telah menelantarkanmu." Keanu sampai berdiri dan mencengkram lengannya kuat karena kesal, sepertinya Mesya sengaja menyerangnya atas rasa sakit penolakannya.


"Ada apa ini Keen, apa yang kalian lakukan?" tanya Nyonya Abraham memergoki keduanya.

__ADS_1


__ADS_2