
Sharen yang mendengar ultimatum dari suaminya mendongak, memperhatikan raut wajahnya yang dingin.
"Taruh, kembali ke ranjang, kamu tidak dengar!" bentak Kean membuat Sharen menaruh kembali serpihan beling itu ke lantai.
Perempuan itu kembali ke ranjang dengan wajah bingung.
Sementara pria itu keluar, meminta art rumahnya untuk membersihkan dan membawa ganti yang baru.
"Habisin isi piringmu, pastikan meminum obatnya," titah pria itu datar.
Lagi-lagi Sharen tidak menyahut, tetapi mengambil piring itu lalu makan di bawah tatapannya yang dingin. Keanu benar-benar menunggunya, hingga gadis itu selesai minum obat. Setelah memastikan dengan benar, Keanu baru keluar dari kamar.
Sharen yang merasa bingung dengan sikap Kean pun berusaha mengabaikannya. Memilih mengistirahatkan tubuhnya tanpa banyak bertanya.
Sementara Keanu sendiri memilih menempati sofa. Netranya nyalang menatap langit-langit kamar. Memikirkan banyak hal yang mungkin saja terjadi.
Sharen sendiri berbaring dengan posisi memunggungi pria itu. Sama-sama belum tidur, tetapi memilih untuk pura-pura tidak peduli. Hingga perempuan itu benar-benar menemukan mimpinya.
Suara angin yang berdesir melewati tirai membuat Keanu terjaga. Suasana dingin langsung menyapanya, pria itu beranjak, menutup jendela balkon kamar. Setelah membenahi kordin, Keanu kembali ke sofa, merebah dengan netra berat. Tertidur begitu saja.
Setengah malam, Sharen merasa haus, ia turun dari ranjang keluar kamar. Suasana rumah nampak sangat sepi, hanya ada dirinya dan juga suaminya jika malam hari. Art rumahnya akan kembali ke rumah itu jika pagi hari.
Sharen menuju dapur, meraih gelas hendak menuang air putih tetiba lampu di rumah mendadak mati. Seketika ruangan menjadi gelap. Perempuan itu menaruh gelas kembali ke konter dapur, meraba udara untuk meraih kompor. Perempuan itu hendak menghidupinya untuk mendapatkan cahaya. Sayang sekali sebelum semuanya sempat diraih, seseorang membekapnya dari belakang.
Sharen terjatuh pingsan akibat bius yang tercium di sekitar hidungnya. Perempuan itu tak merasakan apa pun lagi, selain rasa tenang seperti tertidur.
Sharen digendong ke luar ruangan, diamankan ke dalam mobil. Sebelum membawanya pergi, lebih dulu melepas cincin pernikahan di tangan Sharen, lalu kembali masuk. Niat hati hendak menaruhnya di nakas kamar, keburu Anjing di luar sana menggonggong dengan suara lantang. Dengan sedikit tergesa pria itu menaruhnya begitu saja di meja tamu.
Pria itu segera berlari keluar, menjauh dari rumah menuju mobilnya yang terparkir. Langsung melesat sebelum keadaan rumah menyadari telah membawa Sharen keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Seseorang telah membawanya pergi, dia adalah pria yang beberapa silam sampai saat ini menaruh hati padanya. Tak peduli statusnya saat ini istri orang, dia hanya ingin memilikinya seutuhnya.
Keanu sendiri tidur dengan gelisah, netranya benar-benar terbuka saat mendengar anjing peliharaannya menggonggong begitu berisik. Pria itu terjaga sepenuhnya dengan keadaan sekitar padam. Lampu di kamar mati, terlihat sekitarnya juga padam.
Merasa ada yang janggal, Kean langsung menghidupkan senter di ponselnya dan berjalan meneliti saklar. Arus listrik ternyata sengaja dipadamkan. Membuatnya sejenak terdiam, meneliti ruang belakang. Kenapa Anjing miliknya begitu berisik, ada penyelinap yang sengaja mengusiknya.
Usai cahaya itu kembali didapati dengan sinar lampu, nampak Keanu meneliti sekitar, mengawasi dengan seksama. Belum menemukan sesuatu yang mencurigakan, tetapi cukup paham dengan clue yang diberikan hewan peliharaannya. Jelas terjadi aktivitas yang tak biasa di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Pria itu masih mengamati sekitar, menyorot setiap sudut dan sisi. Kembali masuk ke dalam, berharap tidak terjadi apa pun walau hatinya jelas tidak tenang.
Keanu kembali memasuki kamarnya, ia cukup terkejut mendapati ranjangnya yang kosong. Ke mana perempuan itu pergi?
"Lancang!" umpat Keanu menendang meja di kamar. Baru menyadari saat Sharen telah kabur dan menyisakan ranjang yang tidak berpenghuni.
Pria itu setengah berlari keluar kamar. Berharap Sharen belum terlalu jauh lantaran ia juga tengah sakit. Kean langsung memasuki mobilnya, mencari istrinya lebih tepatnya.
Sementara di pagi hari di kediaman Keanu. Art rumahnya baru datang pagi ini mendapati ruang dapur yang lumayan berantakan. Membuat art itu bertanya-tanya, apa yang terjadi.
Keen menerimanya dalam diam, ia tidak bisa menemukan Sharen semalam. Bahkan, setelah menelpon orang-orangnya pun, Sharen tak kunjung ditemukan.
"Terima kasih, Bik," ucap Kean menggenggamnya erat.
Sementara Sharen, terjaga menemui kesadarannya. Menilik sekitar bukan kamarnya. Ia kaget, langsung terduduk dengan memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut. Satu tangannya terpenjara dalam ikatan.
"Selamat pagi sayang, akhirnya aku bisa membawamu juga ke sini," ucap Daniel terdengar manis.
"Daniel? Apa yang kamu lakukan?" tanya Sharen menatap sekitar. Satu tangannya terbolgor dengan ranjang.
"Aku bosan setiap hari harus menghalu tubuhmu, apa salahnya bila aku membawamu kemari," ucap Daniel tersenyum tanpa beban. Pria itu sepertinya sudah tidak waras, sehingga nekat menculiknya.
__ADS_1
"Lepasin!" ronta gadis itu memekik marah.
"Jangan galak-galak, aku sebenarnya malas lagi-lagi harus berurusan dengan keluarga Abraham, dulu Fio, dan sekarang kenapa juga harus Kean. mereka berdua membuatku muak saja," ucap pria itu dengan santainya kembali duduk di sofa.
"Daniel, apa sebenarnya maumu? Aku sungguh tidak mengerti, cinta itu tidak menyakiti begini?" kata Sharen mencoba meminta penjelasan.
"Kamu telah mengambil keputusan yang salah, andai saja bisa menerima diriku dari dulu, pasti tidak akan seperti ini. Bagaimana rasanya dalam tawanan? Tetapi tenang, aku akan menyelamatkan dirimu dari suamimu," ucap Daniel tersenyum smirk.
Sharen menelan saliva gugup, sungguh celaka baginya di tempat pria psikopat seperti Daniel, pria yang pernah ia tolak perasaannya hanya karena harga sebuah persahabatan. Kenapa harus berakhir begini?
Sementara Keanu di rumahnya, mengamuk melihat banyaknya gambar yang terkirim ke ponselnya. Istrinya dalam tawanan orang lain, di mana Sharen tengah tertidur di ranjang pria itu.
"Breng***! Si Daniel, enyah saja kau dari muka bumi ini!" geram pria itu tersulut emosi. Apa yang sebenarnya pria itu inginkan, benarkah istrinya?"
Layar ponselnya yang memekik atas nama Daniel itu langsung Kean sambar dengan nada emosi.
"Apa maumu Daniel? Kamu dalam masalah!" kecam Keanu di ujung telepon.
"*Maaf, Bro, aku tidak sabaran, aku terlalu rindu dengan istrimu, aku pinjam untuk beberapa waktu," kata Daniel tertawa jahat.
"Bang**t! Akan aku bunuh kamu bila berani menyentuhnya!" ancam Kean dengan darah mendidih*.
Pria itu menutup teleponnya lalu melempar begitu saja tanpa berarti. Tertawa puas mendapati kemarahan Kean di ujung sana.
.
Tbc
.
__ADS_1
Promo novel