Tawanan Presdir Kejam

Tawanan Presdir Kejam
Bab 44


__ADS_3

"Tidak ada Ma." Keanu langsung melepas cengkraman tangannya. Lalu membuat jarak dengan perempuan itu.


"Maaf Ma, Keen harus pulang sudah malam," pamit pria itu beranjak.


"Sudah tahu malam, kenapa tidak tidur di sini saja, mama kesepian setiap harinya."


"Istriku di rumah sendirian, dia pasti sudah menunggu," kata pria itu yakin.


Nyonya Abraham terdiam, membiarkan saja putranya pergi. Walau sebenarnya ada rasa tidak rela, gara-gara Sharen putranya hampir tidak pernah pulang.


Benar saja setelah sampai rumah, Sharen benar-benar belum tidur. Entah mengapa perempuan itu merasa khawatir, saat mendengar mobil Keen kembali, perempuan itu merasa lega.


Pria itu membuka pintu kamar langsung disambut istrinya yang sudah menunggunya.


"Eh, kenapa belum tidur?" tanya Keanu sembari memperhatikan penampilan istrinya. Gaun malam terusan di atas lutut, cukup membuatnya tersenyum melihatnya.


"Mmm ... belum ngantuk, ini sudah mau tidur bentar lagi," jawab Sharen mendadak gugup diperhatikan suaminya demikian intens. Ia takut suaminya akan marah lagi melihat penampilannya yang sedikit seksi.


"Hmm ... nggak suka ya, biar aku ganti saja," ucap Sharen sadar tengah menjadi pusat perhatian Keen.


"Nggak usah, begini lebih enak dipandang, ayo tidur!" seru pria itu melepas pakaiannya. Seketika semakin' membuat perempuan itu gugup saja.


"Aku ganti baju dulu ya, tunggu sebentar," pamit Keanu beranjak.


"Mau dibantu," ujar perempuan itu sedikit salah tingkah.


"Nggak usah, kamu tunggu di ranjang saja," ujar Keanu berjalan cepat. Pria itu kembali langsung menyusul istrinya yang sudah setengah berbaring bersender di kepala ranjang.


"Maaf, tadi lama, nungguin ya?" goda Keanu melirik istrinya yang terlihat begitu berbeda.


"Nggak juga, cuma belum ngantuk aja," jawab Sharen merubah posisinya. Merebah sempurna seperti biasa memunggungi suaminya. Belum terbiasa dan rasanya aneh.

__ADS_1


"Sha, udah mau tidur?" tanya Kean melongok makin dekat.


"Hampir," jawab Sharen yang sedikit merasa tenang, Keen sudah pulang dan pria itu tidak nampak marah. Terlihat baik-baik saja, bahkan mulai terbiasa bersikap sedikit lebih hangat.


"Apa seharian ini janin kita rewel?" bisik pria itu sembari meraih pinggangnya, lalu mengelus perut istrinya perlahan.


"Nggak, dia hari ini nurut," jawab perempuan itu tanpa merubah posisinya.


Keanu terus membuat gerakan lembut di sekitar perutnya. Sharen pun tiba-tiba merubah posisinya, memberanikan diri menghadapnya. Keanu tersenyum menatapnya, ada gelenyar aneh yang mulai menelusup qalbu. Bahkan, selalu betah berlama-lama di dekatnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Keanu lembut. Keduanya saling menatap dalam diam.


"Kamu juga, aku nggak bisa tidur kalau tangan kamu terus gerak di perutku," kata perempuan itu jujur.


"Kamu terganggu? Aku hanya ingin selalu dekat dengannya."


"Nggak Mas, boleh kok," ujarnya menunduk mencari kenyamanan. Memejamkan matanya dengan perasaan lebih nyaman.


"Maaf," ucap pria itu memberanikan diri menyentuh mahkotanya. Mengusap lembut dengan perasaan berbeda. Untuk pertama kali interaksi itu mengalir begitu saja. Tersenyum lembut, hal yang selalu ia lakukan pada Fio. Selalu mengelus rambutnya dengan sayang. Ada getar kedamaian yang ia rasakan, bahkan tak kuasa marah sedikit pun bila mengingatnya. Dia rela mengandung anaknya sekarang.


Mungkin keputusan mama membongkar makam Fio memang tepat. Dengan begitu, semua akan menjadi jelas, dan Sharen jelas bersih dari tuduhan itu. Lalu, bagimana kalau ia tahu dan menginginkan perpisahan. Apakah Keen rela melepas semua itu, saat merasa dekat telah membuatnya terikat dan terasa nyaman.


"Jangan pergi!" gumam pria itu memeluknya makin erat. Membuat Sharen terjaga kaget mendapati Keanu terus bergumam dengan mata terpejam.


"Mas, Mas! Sadar Mas, jangan gini!" Sharen gelagapan dan merasa sesak dalam dekapan suaminya. Sepertinya pria itu mengigau seraya bermimpi.


Keanu terjaga seketika, sadar akan kebodohannya, langsung meneliti istrinya yang nampak ketakutan.


"Maaf Sha, aku mimpi," ujar pria itu spontan malah menarik dalam pelukan. Sharen terdiam untuk beberapa detik, sadar Keen mimpi dan tidak akan menyakitinya, perempuan itu membalas pelukannya.


"Maaf, aku membuatmu takut," ucap Keanu sadar akan hal itu.

__ADS_1


"Kenapa Mas? Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Sharen lembut, setelah melepas pelukan spontan itu.


"Tidak ada," jawab pria itu turun dari ranjang begitu saja. Langsung menuju kamar mandi.


Sharen ikut turun dari ranjang, menyiapkan ganti pagi ini. Ada sedikit yang berbeda, pagi ini tubuhnya begitu nyaman, bahkan tidak mual sama sekali. Apakah karena dekat dengan ayahnya, janin itu seperti mengerti.


Sharen menaruh pakaian gantinya di atas ranjang. Lalu beranjak membuat kopi. Pagi-pagi sekali mbok art sudah datang, seperti biasa sembari membawa olahan bahan untuk pagi ini.


"Non Sharen sudah enakan?" tanya mbok ikut bergabung di dapur.


"Sudah lebih baik, pagi ini bahkan tidak mual sama sekali," jawabnya sumringah.


"Syukurlah ... semoga sehat selalu."


"Mbok, aku bawa ini dulu ya ke depan." Sharen membawa secangkir kopi ke meja, Keen sendiri belum keluar dari kamar.


"Mas, kopinya," ujar perempuan itu menginterupsi.


"Sebentar, tolong pakaiin!" lintas pria itu menyodorkan dasi di tangannya.


Tanpa ragu perempuan itu segera mengalungkan dasi ke bagian kerah. Sedikit berjinjit menyamai tinggi Keen yang lumayan. Dalam posisi ini, lagi-lagi Keen berlama-lama menatapnya.


"Udah Mas," ujar perempuan itu membuyarkan lamunannya.


Sharen hampir beranjak, ketika Keen tiba-tiba menahan lengannya.


"Kenapa?" tanya perempuan itu lembut.


"Lusa, makam Fio akan dibongkar kembali, akan dilakukan otopsi dan semuanya akan jelas. Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Keanu menatap serius.


"Kamu masih menuduhku? Aku setuju, biar makin jelas," ucap Sharen yakin. Dirinya bersih dari perkara itu. Jujur, ia sangat penasaran apa penyebab kematian Fio saat itu.

__ADS_1


Keen menatap netranya, kali ini Sharen balas menatap tanpa ragu. Dia malah menginginkan bukti itu sejak lama, jauh sebelum Keen menyadarinya.


__ADS_2