Tawanan Presdir Kejam

Tawanan Presdir Kejam
Bab 52


__ADS_3

Sharen terjaga lebih dulu, ia beranjak ke kamar mandi lalu menyibukkan diri di dapur. Keanu ikut nimbrung kegiatan istrinya dengan menyeduh kopi yang ada.


"Kamu tidak ke kantor?" tanya perempuan itu belum juga melihat Keanu siap-siap.


"Libur, nanti jadi ke rumah sakit, 'kan? Mau jam berapa?"


"Siang," jawab Sharen datar.


Keanu hanya mengangguk datar, membawa kopinya ke ruang tengah lalu melakukan panggilan dengan seseorang. Sementara Sharen bergegas mandi, siap-siap lebih tepatnya.


Keduanya berangkat ke rumah sakit agak siangan dengan Keen menemaninya. Sampai di rumah sakit, lebih dulu mengambil antrian.


"Sha, aku kira datang sendiri, syukurlah suamimu ikut," sapa Dokter Arya yang pagi tadi sempat menghubunginya.


"Iya, harus dong, ayahnya juga ingin tahu perkembangan anaknya," jawab Keanu tersenyum. Keduanya saling berjabat tangan dan menyapa ramah.


Sharen sendiri hanya menimpali dengan senyuman. Setelah menunggu hampir setengah jam, saatnya perempuan itu dipanggil.


"Selamat siang Ibu Sharena, silahkan Ibu?" Seorang perawat yang membantu dokter mempersilahkan untuk dimulai pemeriksaan.


"Timbang dulu sini, Bu," ujarnya mengarahkan.


Setelah melakukan pemeriksaan awal, USG, dan cek lab juga, calon ibu itu nampak diberikan wejangan. Tidak ada keluhan apa pun, janinnya tumbuh sehat dan sudah berjalan empat belas minggu.


"Jangan lupa diminum vitamin yang Bu, boleh melakukan aktivitas sewajarnya saja asal tidak terlalu lelah."


"Bapaknya juga boleh membantu memantau ya Pak, agar ibunya selalu sehat," sambung Bu Dokter cukup jelas.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok," jawab Keanu dan juga Sharen hampir serempak. Keduanya keluar dari rumah sakit dengan wajah Keanu yang nampak sumringah.


"Kita cari makan sekalian ya udah siang, pasti dedeknya juga udah lapar." Keanu mengusap perut istrinya dengan tangan kirinya, sementara tangan lainnya sibuk menyetir.


Sharen balas menatap, memperhatikan suaminya yang nampak fokus mengemudi.


"Jangan dilihatin terus Sha, nanti kamu jatuh cinta," gurau pria itu tersenyum. Melirik istrinya yang langsung membuang muka dengan wajah merona. Kenapa istrinya menggemaskan sekali, membuat Keen senyum-senyum gaje. Tangan kirinya kembali terulur, kali ini meraih tangannya dalam genggaman.


"Aku harap aku bukanlah orang yang satu-satunya bahagia hari ini, tapi kamu juga merasakan hal yang sama," ucap Keanu membawa tangan itu dalam dekapan dadanya. Kembali melirik dengan penuh cinta.


Mobil berhenti tepat di halaman restoran, pria itu mempersilahkan istrinya untuk berjalan di depannya dengan Keen mengekor tepat di belakangnya. Menarik kursi agar istrinya duduk dengan tenang.


"Mau pesan apa?" tanya Keen mulai menatap menu-menu yang tersaji.


"Terserah kamu aja Mas," ujar perempuan itu apa saja.


Usai merampungkan makan siang yang syahdu, walau hanya didominasi dengan suara Keanu yang menawarkan ini itu. Terlihat jauh lebih baik.


"Ada yang mau dibeli, barang kali keperluan kamu atau apa saja?" tawar Keanu beranjak dari restoran.


"Nggak Mas, langsung pulang saja," jawab perempuan itu berjalan mendekati mobil.


Pria itu lebih dulu membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan istrinya duduk dengan nyaman. Tak lupa membantu masang sabuk pengaman. Lalu beranjak masuk di belakang kemudi.


Perjalanan pulang mereka didominasi dengan keheningan. Sharen terdiam, begitupun dengan Keanu yang fokus menatap jalanan. Tak terasa perempuan itu terlelap, membuat Keanu tersenyum kala sekejap menatapnya.


"Kita langsung pulang ke rumah ya Sha," kata pria itu melajukan mobilnya ke rumah Keanu sendiri. Tentu saja belum disrtujui, tetapi usaha itu perlu selagi ada kesempatan.

__ADS_1


Keanu bahkan menggendongnya saat sudah sampai tetapi istrinya tak kunjung bangun. Mungkin sedikit lelah mengingat seharian banyak di luarnya.


Sharen sendiri sedikit terusik, tetapi tidak membuka matanya. Berasa seperti melayang dengan perasaan damai. Bahkan tenang, hangat, dan begitu nyaman.


"Eh, Non Sha—" Keanu menyela saat asisten rumah tangganya merasa senang Sharen pulang.


"Sshhtt ... tolong bantuin buka pintu kamarnya Mbok, Sha tidur," titah Keanu setengah berbisik.


"Siap Tuan," jawabnya berjalan mendahului.


Pria itu merebahkan istrinya dengan hati-hati, lalu melepas sepatu dan menyelimutinya. Tak lupa meninggalkan jejak sayang di keningnya. Keanu memperhatikan istrinya yang terlelap damai, tersenyum lega melihatnya sudah kembali menempati ranjangnya.


Sementara perempuan itu benar-benar menikmati waktu istirahatnya siang itu. Ia merasa selimut besar membingkai tubuhnya, dan suasana kamar yang berbeda tetapi tidak asing. Ia rasa sekarang tengah bermimpi, mengedipkan netranya beberapa kali dengan mata setengah sayu.


"Sudah bangun?" tanya Keanu masuk ke kamarnya.


Ternyata ini bukan mimpi, Keen benar-benar membawanya pulang ke rumah.


"Kok udah di sini?" tanya perempuan itu masih sedikit linglung. Terduduk menatap galau.


"Iya, mulai sekarang kita harus tinggal bersama terus, biar kehamilanmu juga tenang," ujar Keen mencoba memberi pengertian.


"Jangan khawatir, barang-barang pentingmu sudah dikemas ke sini," ujarnya dengan senyuman kalem.


"Hah! Aku kan belum deal, kok main pindah aja."


Keen mendekat, duduk tepat di bibir ranjang, meraih tangannya.

__ADS_1


"Sekarang adalah waktu yang tepat itu Sha, percayalah ... aku akan menjagamu dan anak kita. Berdamailah dengan hati dan keadaan, aku benar-benar ingin berubah. Tolong beri aku kesempatan dan bantu aku untuk mewujudkannya," ucapnya sungguh-sungguh.


__ADS_2