Tawanan Presdir Kejam

Tawanan Presdir Kejam
Bab 48


__ADS_3

Sharen kembali ke kontrakannya dulu yang pernah ia tinggali. Ia masih mempunyai sisa beberapa bulan waktu tinggal karena telah membayar dalam kurun satu tahun ke depan sebelumnya. Sebenarnya ia ingin sekali pulang ke rumah, tetapi rasa takut akan kelakuan ayahnya yang pernah setega itu membuat nyalinya menciut.


Tidak ada yang perlu disesali, semua telah terjadi. Bukankah Sharen memilih kebebasan, kenapa terasa sakit walau belum ada cinta yang menjulang. Kenapa perasaannya jadi sekacau ini hanya karena merasa sendiri.


Perempuan itu menyusut air matanya, tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Biarlah semua rasa sakit itu ia kubur dalam-dalam. Walau ia sendiri tidak tahu kapan semua ini akan hilang.


"Aku pasti bisa melewati ini semua," gumamnya yakin. Memberi semangat untuk dirinya sendiri. Ada anak yang nantinya akan menemani.


Mulai dari awal lagi, walau tidak mudah, tetapi ia yang terbiasa mandiri dan tidak pernah bergantung pada siapa pun mencoba mencari jalan keluar.


Perempuan itu melepas kalung yang melingkar di lehernya. Ia bisa menjual dan memulai hidup dengan apa yang ada. Semua akan baik-baik saja, dia akan kembali hidup nyaman seperti dulu kala. Walaupun mungkin keadaannya tidak lagi sama. Di mana dirinya tidak sendirian, ia mempunyai teman bicara di perutnya yang akan selalu menemaninya.


"Sehat-sehat kamu Nak, walaupun kamu hadir dengan jalan yang rumit, semoga hidupmu kelak bersinar," gumam Sharen memeluk perutnya sendiri. Ini adalah malam pertama dirinya melewati sendiri. Sepi, tetapi harus dibiasakan.


Sama halnya dengan Keanu yang bahkan tidak bisa tidur sama sekali. Setiap malam ia selalu memeluknya, dan sekarang kasur itu kosong. Rasanya begitu hampa, tak ada lagi yang membuat dirinya semangat menapaki mimpi. Ia benar-benar kehilangan sesuatu yang benar-benar berarti.


Pria itu bangkit dari ranjang, gelisah, khawatir, tidak bisa tenang. Jangankan untuk terlelap, ngantuk pun tidak. Apakah istrinya di sana baik-baik saja. Bagaimana kalau ada orang jahat, atau bahkan psikopat seperti Daniel yang menginginkan istrinya.


Keanu terjaga semalaman, rasanya tidak bisa setelah mencoba menepis perasaannya. Malam adalah tempat ternyaman dirinya bersama Sharen yang benar-benar merasa hilang dari dirinya.


Pria itu pun memutuskan untuk keluar mencari istrinya. Tidak peduli hari sudah larut, ia lebih dulu mengunjungi rumah mertuanya yang tidak pernah Keanu anggap. Barang kali saja Sharen pulang ke sana.

__ADS_1


"Permisi!" pekik Keen mengetuk pintu usang tak sabaran.


Pintu itu terbuka, nampak seorang ibu keluar.


"Maaf, cari siapa ya Mas?" tanya Ibu itu bingung.


"Maaf Bu, Pak Afdal ada?" tanya Keanu sambil clingukan melongok ke dalam.


"Beliau sudah tidak tinggal di sini, kami membelinya satu bulan yang lalu," kata ibu itu memupuskan harapan Keen. Bingung, tidak ada yang bisa dihubungi, ke mana istrinya pergi. Sejauh otak mengingatnya, ia tidak punya pandangan arah dan tujuan.


"Kamu di mana Sha, aku tidak bisa tenang," gumamnya setengah frustrasi. Seharusnya tadi siang ia tidak meninggalkannya begitu saja, pasti hatinya begitu terluka dan salah kira.


"Ya Tuhan ... ke mana aku harus mencari." Muter-muter hingga larut tak ada tujuan dan arah yang jelas. Membuatnya makin galau tak terkira.


"Cari sampai ketemu, aku nggak mau tahu, dia sedang hamil," ujar Keanu memerintah cukup jelas.


"Siap Tuan," jawab Tomi bergegas. Berusaha mencari jejaknya walau belum ada petunjuk sama sekali.


Satu pekan telah berlalu, Keanu belum juga menemukan jejaknya. Membuat pria itu makin galau saja. Ia bagai kehilangan separuh jiwanya. Hampir setiap malam tidak bisa tidur terkecuali dengan obat penenang. Benar-benar tersiksa seorang diri.


Sementara Sharen sudah mulai terbiasa dengan hidup baru. Walaupun jauh dari kata mewah, tetapi hatinya lebih tenang. Mencoba mencari keberuntungan melamar pekerjaan seadanya dengan mendatangi toko kue tempat dulunya bekerja, namun, tidak semudah seperti dulu.

__ADS_1


"Sya, dari mana? Beneran kamu?" sapa Arya tanpa sengaja memergoki dirinya di jalan.


"Arya, mm ... cari kerja, tapi belum membuahkan hasil," jawabnya dengan senyuman.


"Nyari kerja? Suamimu mana? Kenapa nggak coba balik ke pekerjaan dulu." Arya memperhatikan gelagat yang tak biasa pada temannya itu.


"Nggak bisa Ar, banyak yang tidak mau memperkerjakan diriku yang sedang hamil."


"Sabar ya, sekarang tinggal di mana?" tanya pria itu iba.


"Di kontrakan dulu, tetapi rencana mau pindah minggu ini."


"Masukkan nomormu," pinta pria itu menyodorkan ponselnya.


Sharen mengetik deretan angka baru yang empat hari ini baru menemaninya.


"Hubungi aku bila ada sesuatu, aku harus ke rumah sakit. Akan kukabari bila ada lowongan untukmu dari mana saja."


"Terima kasih banyak, Ar." Pria itu mengangguk pamit.


Sharen kembali ke rumah, rehat sejenak karena merasa lelah. Sedikit merasa pusing dan tak nyaman pada perutnya. Kenapa tiba-tiba mendadak sakit.

__ADS_1


"Duh ... sshhh ...," desis perempuan itu mengaduh. Meraba perutnya sendiri yang mendadak nyeri.


__ADS_2