
Suasana masih sore hari tetapi kenapa auranya sangat berbeda sekali. Demi apa Keanu semanis ini, tak ingin percaya tetapi itulah yang Sharen rasakan saat ini. Berharap itu bukan hanya kamuflase belaka.
"Kenapa lihatin aku terus Mas," tegur Sharen jelas tidak nyaman.
Keen tersenyum lembut, "Pengen lihat cantiknya istriku kalau lagi malu-malu. Kamu lucu, kita udah sejauh ini tapi kamu masih malu aja dilihatin suamimu."
"Udah tahu nggak suka, makanya jangan digoda," ujarnya menghindari tatapan Keen.
"Sha, kemarin aku nyari kamu ke rumah orang tuamu, tapi mereka udah nggak tinggal di sana. Apa kamu tahu?" tanya Keen hati-hati.
Sharen menggeleng, ia belum sempat pulang walaupun ada rasa rindu dan takut membaur jadi satu.
"Aku nggak pulang ke sana Mas, aku takut tidak diterima ayah karena dianggap menjadi beban," ujarnya mendadak sendu. Teringat kisah masa lalu, bahkan ia bisa sampai kuliah karena beasiswa dan mencari uang sendiri. Disitulah perjalanan persahabatan Fio dan dirinya dimulai.
"Aku pikir kamu ke sana, takut banget kalau kamu pindah bersama orang tuamu. Jangan sedih gini, nggak pa-pa kan sekarang ada aku," ujar pria itu menggenggam tangannya.
"Apa kamu membenci orang tuamu?" tanya Keanu sungguh-sungguh.
"Nggak Mas, hanya takut pulang, takut kejadian menyakitkan itu terulang."
"Sepertinya aku harus belajar banyak dengan dirimu, agar mudah memaafkan tanpa dendam," kata Keen terdiam. Benar seperti yang ayahnya bilang, hidupnya selama ini dalam kebencian.
"Aku bukan orang baik, hanya saja belajar untuk tidak menyakiti orang lain," jawabnya kalem.
__ADS_1
"Terima kasih sudah memberikan kesempatan kedua untukku. Berjanjilah untuk tetap di sisiku apa pun yang terjadi nanti," pinta Keanu sungguh-sungguh. Sesungguhnya ia begitu takut orang-orang yang menyayanginya akan meninggalkan dirinya secara perlahan.
Ayah dan ibu yang meninggalkan dirinya dan cenderung dengan kesibukan masing-masing tanpa peduli. Fio yang pergi dengan takdirnya tanpa pamit. Ia seperti hidup sendiri dalam kehampaan. Hari ini rasanya begitu bahagia saat Sharen mengisi hatinya dengan tulus penuh kasih sayang dan cinta. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.
"Iya Mas, aku akan tetap tinggal asal kamu tidak singgah. Nggak marah-marah lagi kan?" seloroh perempuan itu tersenyum.
"Marah kalau kamu ninggalin aku, selebihnya nggak akan pernah, paling kalau nakal sama nggak nurut, baru aku sentil."
"Kamu seperti bukan Keanu yang aku kenal, apa benar ini suamiku yang kejam itu?" ledek Sharen sungguh ingin tahu.
"Sha, aku nggak kejam, aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap pria itu tertawa sembari merusuh tubuhnya. Menciumi dengan gemas.
"Aku masih belum mau percaya, tapi kenapa terasa nyata. Aku benci Mas sama kamu," jawabnya serius.
"Jawab dong Sya, aku pengen denger dari mulut kamu," pinta Keanu penuh harap.
"Nggak mau, pengennya nggak cinta sama kamu kalau bisa."
"Apa aku harus memaksa? Agar kamu menerima aku dengan sepenuh hati. Di perut sini bahkan ada buah cinta kita, bagaimana bisa kamu tidak mencintai ayahnya. Sementara aku dan anak ini satu paket."
"Jujur sama aku, apakah kamu bahagia?" tanya Keen serius.
"Bahagia Mas," jawabnya tanpa ragu. Sesuai kondisi hatinya saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, tidak harus menjelaskan apa lagi, tak perlu juga I love you too, asal kamu bahagia saat hidup bersamaku, sudah cukup yakin mewakili perasaanmu.
"Tapi aku pengen bilang I love you too, gimana dong."
"Love you more more, ya ampun ... gemes banget cantiknya istriku," puji pria itu kegirangan mendapat pernyataan dari istrinya. Pria itu bahkan mengusak rusuh tubuh istrinya seraya menciuminya dengan sayang.
"Mas, ya ampun ... jangan geli, aku nggak nyaman!" pekik Sharen membuat Keen langsung menghentikan kejailannya.
"Maaf, maaf sayang, gimana apanya yang nggak nyaman?"
"Jangan dekat-dekat, kamu meresahkan!" protes Sharen berusaha menghindarinya. Namun, Keen menatapnya seraya menahannya.
"Apa aku boleh colek dedek bayi di dalam, masih kangen," ujarnya menahan kedua bahunya.
"Masih capek, ngilu, dan nggak nyaman. Gimana kalau besok saja," jawab Sharen jujur.
"Gitu ya, ya udah cium aja nggak pa-pa, itung-itung latihan kalau besok makin hafal jalan."
"Bukannya udah hatam ya Mas, buktinya lihat jemari kamu." Sharen berkata sesuai fakta.
"Kamu yang ngajarin, makanya aku pinter," ujar pria senyum gaje.
Dengan Sharen Keanu seperti menemukan cintanya yang telah sebelumnya tidak pernah ada. Walau ada sedikit banyak masa lalu yang jelas membuat keduanya sama-sama terluka di keluarganya. Beruntung saat ini keduanya saling menguatkan.
__ADS_1