Tawanan Presdir Kejam

Tawanan Presdir Kejam
Bab 56


__ADS_3

Hari ini hari libur, rencananya Keen akan mengajak istrinya ke suatu tempat. Mereka perlu menghabiskan waktu berdua hanya untuk sekadar healing.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Sharen demi melihat suaminya yang sudah rapih.


"Ke mana saja yang kamu mau, kamu pengennya ke mana? Mumpung ada waktu dan libur," ujarnya benar-benar ingin memanjakan dengan penuh perhatian.


"Ke mana? Aku tidak punya arah dan tujuan selain dirimu," jawabnya setengah becanda.


"Eh, sekarang berani gombalin aku," sahut pria itu gemas sendiri.


Keasyikan mereka terjeda lantaran handphone Keanu berdering. Pria itu menerima panggilan terlebih dahulu, wajah tampannya sedih berubah menjadi keruh.


"Ada apa, Mas?" tanya Sharen hati-hati.


"Mama sakit, sekarang di rumah sakit, apa aku boleh menjenguknya?" pinta Keanu meminta izin.


"Kenapa kamu harus meminta persetujuanku untuk sebuah kebaikan, Mas. Jenguk lah, tunjukkan pada beliau kalau kamu sayang dan peduli," saran Sharena lembut.


Mendengar jawaban dari mulut istrinya, rasanya Keen begitu tenang dan merasa beruntung memiliki istri sebaik perempuan itu.

__ADS_1


"Apa kamu mau ikut?" ajak pria itu secara tersirat.


"Pengennya begitu, tapi nanti kalau ibumu nggak suka gimana?"


"Bagaimana kalau kita coba, siapa tahu dengan kasih tahu kamu hamil mama akan menerimanya."


Sharen sedikit galau, tetapi akhirnya mengangguk setuju. Kalaupun nantinya tidak diterima kedatangannya, Sharen lebih kepada pasrah.


Pria itu benar-benar mengajaknya ke rumah sakit. Ekspektasi Keen hari ini ingin mengajak jalan istrinya ternyata belum terealisasi.


"Ayo sayang, masuk!" ajak Keen menggandeng tangan istrinya. Mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Iya Mas, aku tunggu di sini saja, kamu masuk dulu. Aku takut ibumu tidak akan suka melihatku," ujarnya ragu. Memilih tetap menunggu di luar demi kenyamanan hatinya dan juga hati mertuanya.


Saat Keanu sampai di ruangan, Nyonya Abraham tengah beristirahat. Keanu membiarkan saja sampai terjaga, tak berani membangunkannya.


"Keen, kamu datang ke sini, mama kira kamu sudah tidak mau lagi datang ke mama," ucap perempuan setengah abad itu.


"Iya Ma, maaf, jarang nengok mama. Bagaimana keadaan Mama?"

__ADS_1


"Tidak lebih baik setelah kamu pergi Keen, pulanglah ... tinggal bersama mama lagi," pinta perempuan itu terlihat sendu. Hanya Keen sandarannya saat ini, terlebih kesehatannya jiga memburuk belakangan ini.


"Aku tidak bisa meninggalkan Sharen Ma, aku juga tidak bisa tinggal sama Mama, aku tidak bisa membiarkan mama dan istriku dalam suasana yang tidak nyaman. Sharen sekarang sedang hamil anak Keen, Keen harus menjaganya," ujar pria itu terlihat galau.


"Sharen hamil? Kamu mau punya anak? Dia pasti marah sama mama ya, mama udah banyak nyakitin dia."


"Nggak Ma, Sharen nggak pernah marah sama Mama, dia bahkan menyarankan Keen agar cepat datang ke rumah sakit. Dia tidak masuk karena takut membuat Mama tidak nyaman dan kesehatan Mama menjadi taruhannya."


"Dia bilang begitu, apa boleh mama ketemu, mama ingin mengenal menantu mama lebih dekat, apalagi dia lagi mengandung cucu mama," ujarnya melunak. Sadar tidak punya siapa-siapa lagi selain Keen dan itu cukup berimbas saat tengah sakit seperti saat ini.


"Mama mau ketemu, sebentar Ma, Keen panggil dulu," ujar pria itu beranjak. Saat Keen keluar, tidak menemukan istrinya di luar, membuat Keanu tiba-tiba cemas. Entahlah, ia sedikit patnoan saat berhubungan dengan istrinya dan ternyata istrinya tidak ada, takut sekali kehilangan.


Keanu menghubungi istrinya yang ternyata tengah ngobrol asyik bersama Dokter Arya. Perempuan itu pamit lebih dulu setelah suaminya menyusulnya.


"Ya ampun ... dicariin malah lagi asyik berdua, nggak ngerti apa suaminya cemas nyariin," protes Keanu terdeteksi cemburu. Mukanya langsung berubah masam begitu mendapati lagi-lagi Dokter Arya berakrab ria dengan istrinya. Hatinya sedikit pegel dan juga ngilu tak nyaman melihat istrinya tersenyum lembut suka becanda dengan pria berprofesi dokter itu.


"Jangan berlebihan Mas, dia tuh baik banget sama aku, dia sahabat aku juga yang udah banyak nolongin aku. Masa ketemu nggak boleh ngobrol," protes Sharen tidak setuju dengan pendapat suaminya.


"Aku pikir dia menyukaimu, pantesan saja baik," jawab Keen sedikit sewot.

__ADS_1


"Benar Pak Keen, pria mana pun pasti akan jatuh cinta dengan istri Anda yang cantik dan lembut itu. Tetapi Anda tidak usah khawatir, saya sudah mempunyai tunangan dan sebentar lagi akan menikah," sahut Dokter Arya yang kebetulan lewat mendengar perdebatan pasutri muda itu.


Sharen tersenyum tipis melihat suaminya mati gaya diskak sahabatnya. Rasanya wajah yang selalu terlihat dominan itu menjadi lucu.


__ADS_2