
Kean bergegas setelah melacak keberadaan Sharen dengan nomor ponsel Daniel. Pria itu sudah mengantongi posisi Daniel di mana ia membawa istrinya. Dengan orang-orangnya, Keanu menuju tempat lokasi hari itu juga. Sebuah villa megah, menjadi tempat di mana Sharen disekap oleh Daniel.
Sementara di kediaman Daniel, Sharen diperlakukan dengan lembut, hanya saja perempuan itu merasa takut, sebab pria itu jelas menaruh sakit hati padanya. Seseorang yang merasa terancam, tentu akan berbuat apa pun yang mereka inginkan, bahkan Sharen sekalipun. Berusaha meloloskan diri, walau pada kenyataannya seperti mustahil baginya, sebab Daniel mengikat tangannya dengan ekor ranjang.
"Ayo makan Sayang, tubuhmu butuh energi untuk tetap cantik di depan mataku," ucap pria itu seraya mengelus bibirnya. Seakan tak sabar merasai manisnya di sana.
Sharen menggeser tubuhnya, memalingkan wajah menghindari sentuhannya. Melirik pria itu penuh kebencian.
Daniel mengelus pipinya dengan punggung tangannya. Membuat perempuan itu merasa jijik dan memberi jarak.
"Buka mulutmu, sayang, aku akan menyuapimu," ucap pria itu lembut.
Sharen melipat bibirnya ke dalam rapat-rapat, menatap pria itu penuh kebencian.
"Jangan menatapku begitu, seharusnya kamu merasa senang karena terbebas dari pria tukang drama itu," kata Daniel sembari membujuknya.
"Tolong lepaskan aku, tanganku sakit," pinta Sharen memohon. Mencoba berbicara layaknya teman lama yang pernah dekat.
"Aku maunya begitu, tapi aku tidak begitu percaya kamu akan menurut," jawab pria itu cukup santai.
"Makanlah, biar ada tenaga untuk berusaha meloloskan diri," saran Daniel menyeringai tipis.
"Kenapa kamu melakukan ini, Dan, kita pernah sama-sama saling mengenal, aku tidak mengerti kenapa kamu jadi seperti ini?"
Daniel menatapnya dingin, mendekatkan wajahnya penuh dengan amarah yang menyala.
"Semua karena kamu, kamu yang membuat aku begini," bisik pria itu lalu mencium belakang telinga Sharen.
Perempuan itu memejam, merasakan gejolak kebencian yang semakin tumbuh di hatinya.
"Apa kematian Fio juga ulahmu?" tanya perempuan itu penuh hati-hati.
"Menurutmu?" tanya pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Aku berharap itu bukan, kalaupun iya, kamu harus mengatakan itu dan meminta maaf pada keluarganya."
"Kamu tidak punya cukup bukti kuat untuk menuduhku, selebihnya kamu adalah dalang dibalik kematian itu," tuduh Daniel penuh misteri.
"Aku tidak mungkin melakukan itu, dari mana kamu tahu semua itu kalau bukan karena kamu memang terlibat."
Daniel tersenyum menatapnya, "Bagaimana itu mungkin? Hanya kamu yang tahu, Sayang," ucapnya seraya mengelus mahkotanya.
Sharen lagi-lagi bergeser memberi jarak, enggan menerima sentuhan bentuk apa pun. Membuat Daniel meliriknya dengan hati kesal.
"Buka mulutmu, aku tidak mau kamu sakit," ucap pria itu memaksa menyuapi Sharen.
Perempuan itu menyemburkan isi mulutnya, tak sudi rasanya makan dari tangan pria itu. Ia bahkan tidak peduli jika dirinya akan dimaki, atau bahkan lebih dari ini, ia hanya ingin terbebas dari Daniel yang membuatnya merasa muak.
"Wao ... jangan membuatku marah, kalau hanya kerikil kecil saja bisa aku singkirkan dengan mudah, bukankah mudah juga bagiku untuk membuatmu merasa lebih dari pada apa yang kamu rasai saat ini," ucap Daniel mencengkram dagu perempuan itu, lalu mengecup dengan nakal.
Sharen meronta, saat pria itu menciumnya dengan paksa, menggigit sengit hingga membuat Daniel memberi jarak dan melepas pagutannya.
"Daniel lepas! Breng*** kamu! Jangan sentuh aku!" murka Sharen meronta kasar, saat pria itu mencoba mencumbuinya dengan brutal. Menyusuri leher jenjangnya seakan menjadi santapan manis sebelum menuju pusat utama.
"Bagaimana rasanya sayang? Akan aku beritahu padamu, aku lebih bisa membuatmu mendes@h dari pada Kean. Ayolah, menurut padaku, kita nikmati hari ini dengan bersenang-senang," bisik pria itu sembari menanggalkan satu persatu kancing pakaian Sharen.
"Daniel jangan! Kepar** kamu! Jangan!" pekik Sharen berusaha mempertahankan dirinya.
"Ssshhhttt ... kenapa responmu begitu aneh, aku baru permulaan kamu sudah menjerit begini, sepertinya ini akan sangat menyenangkan," ucap pria itu terdengar menjijikkan.
Pria itu tersenyum smirk, melihat Sharen yang menangis malah membuatnya tertawa senang. Sudah lama menantikan moment bersama, di saat tidak ada lagi yang membuatnya beralasan untuk menolaknya.
"Sesungguhnya aku benci melihat air matamu, harusnya kamu bisa bekerja sama yang baik dan menurut, kita akan sama-sama menikmatinya," ucap pria itu menatapnya dingin.
Sudah sejauh ini melangkah, ia tidak peduli lagi dengan apa pun di belakangnya. Semua apa yang pria itu inginkan, harus berhasil dengan indah. Termasuk wanita yang ada di depannya, Daniel harus memiliki seutuhnya.
Pria itu mengungkungnya, menguasai sepenuhnya apa yang ada, membuat gadis itu setengah putus asa. Haruskah ia berakhir dalam kekejaman psikopat gila macam Daniel? Sekuat hati mencoba mempertahankan diri, hingga satu tendangan berhasil ia layangkan pada asetnya yang nakal.
__ADS_1
Pria itu mengaduh serta memberi jarak, merasakan kejut yang luar biasa melumpuhkan otot-ototnya. Sharen yang melihat Daniel lemah, berusaha meloloskan tali yang mengikat tangannya dengan ekor ranjang.
"Please ... ayolah ... tolong aku ya Tuhan ... aku tidak mau berakhir di sini," batin Sharen memohon. Tubuhnya gemetaran seraya menatap Daniel yang masih menikmati kesakitannya.
"Berusaha semampumu, karena usahamu akan sia-sia," ucap Daniel seraya mendekat kembali. Mengabaikan rasa sakit yang tersisa. Tersenyum devil menindih tubuhnya. Mencumbu kasar bagian tubuh atasnya. Tangannya nakal melepas satu persatu kain yang menutupi tubuhnya.
"Daniel jangan, Daniel!" ronta Sharen di tengah putus asa.
Pria itu baru saja hendak menyibak celana panjang Sharen, tetiba terdengar kegaduhan di luar sana. Namun, seakan tak peduli dan lebih tertarik dengan aktivitas yang akan dilakoninya.
Suara dentuman pintu yang didobrak cukup keras tak mampu mengusik keasyikan Daniel yang tengah bermain di sana.
"Breng***!" Bang***!" umpat Keanu langsung mendekat. Menyingkirkan tubuh pria itu dari atas tubuh istrinya. Menghempaskan ke sisi dinding.
"Baji**** kamu!" hardik Kean murka. Meninju cukup keras pria yang bersikap kurang ajar terhadap istrinya itu.
Keduanya saling tinju adu kekuatan, saling balas memberi pukulan hingga membuatnya sama-sama tersungkur. Tak peduli siapa yang akan memenangkan, keduanya beradu sengit saling melawan.
Daniel terjungkal ke sisi nakas, merasa sakit luar biasa punggungnya terkatup benda keras. Pria itu membuka laci, lalu mengambil pistol yang tersimpan di sana. Mengarahkan pada Sharen, dan Juga Kean secara bergantian.
Sementara Sharen terkesiap kaget melihat Daniel menodongkan padanya dan juga Kean yang menatapnya waspada. Pria itu benar-benar sudah gila.
"Menyingkir dariku, atau aku tarik pelatuk ini ke kepalamu!" ancam Daniel murka.
.
TBC
.
Promo novel
__ADS_1