
Sharen terdiam beberapa saat, menatap pria yang kini tengah menggenggam tangannya penuh harap. Jujur, ia juga merasa nyaman saat di dekatnya, walau tak bisa disangkal masih menyimpan kesal. Ia hanya takut, setelah benar-benar melabuhkan perasaannya, berakhir sakit lagi.
Keduanya saling tatap dalam diam, menyelami perasaannya yang mungkin telah terpaut.
"Aku takut," jawab Sharen sambil menatap ke arah lain.
"Takut kenapa? Apa yang membuatmu ragu?"
"Kamu," jawabnya jujur. Berusaha melupakan semuanya, tetap saja masih terbesit perasaan tak nyaman saat mengingat perangainya yang pertama kalinya. Tetapi ia juga bingung saat tahu dirinya bahkan hamil anaknya.
"Maaf, maaf sudah menorehkan luka dari awal bertemu," ucap Keen menarik dalam pelukan. Hingga membuat Sharen tak mampu berucap.
"Jangan nangis, aku minta maaf, izinkan aku menebus semuanya," ucapnya sungguh-sungguh. Melepas pelukannya yang hangat, lalu menghapus pipinya yang basah.
"Turun yuk, isi perutmu dulu, kasihan anak kita lapar," ujar Keanu membimbing istrinya. Keduanya menuju ruang makan.
"Sore Non, mbok seneng banget akhirnya Non Sharen pulang juga," sapa Mbok Art terlihat sumringah.
"Iya Mbok," jawabnya tersenyum.
Sharen dan Keen mengambil menu dengan pria itu lebih dulu meladeni istrinya. Menawarkan semua menu yang tersaji di meja.
"Makan yang banyak, biar sehat dan anak kita di dalam senang," ujarnya tersenyum.
Tak berselang lama, asisten rumah tangga Keen pamit pulang karena waktu sudah hampir petang. Tersisa mereka berdua yang tidak melakukan apa pun setelah makan.
"Kalau ngantuk istirahat dulu, aku tinggal bentar di ruang kerja," ujar pria itu sedikit lebih tenang. Setelah memastikan istrinya sudah makan dan lebih tenang, Keen meninggalkan sebentar ke ruang kerja.
Sharen sendiri lebih dulu mandi, menukar pakaiannya lalu beranjak tidur. Namun, kenapa tidak ngantuk-ngantuk, mungkin karena efek tadi siang tertidur cukup lama, jadi belum mengantuk.
Tidak ada kegiatan apa pun ditambah belum ngantuk, membuat perempuan itu memilih menyibukkan diri dengan gawainya. Lama perempuan itu menggulir layar, belum juga menemukan kantunya. Padahal malam makin larut.
"Belum tidur?" Keanu ke kamar sambil membawa segelas air putih, menaruhnya di nakas.
__ADS_1
"Nggak bisa merem," jawab Sharen menyingkirkan ponselnya, lalu merebah.
"Tidurlah ... sudah malam, kangen ya pengen dinina boboin?" seloroh pria itu tersenyum. Merangkak ke kasur, lebih dulu mencium keningnya lalu ikut merebah dengan nyaman.
Keen mengelus-elus puncak kepalanya. Posisi mereka saling berhadapan. Sharen sendiri mulai terpejam setelah merasa lebih nyaman. Sepertinya benar, ia mulai terbiasa dengan sentuhan lembut tangannya, kenapa rasanya begitu menenangkan.
Keesokan paginya, Sharen mengerjakan kegiatan pagi seperti pada umumnya seorang istri. Mulai menyiapkan ganti untuk Keen dan meladeni saat sarapan. Keduanya sarapan dengan khusuk.
"Aku berangkat dulu ya, jangan ke mana-mana, hubungi aku bila butuh sesuatu. barang kali nanti pulangnya mau nitip sesuatu."
"Belum kepikiran Mas, hati-hati di jalan!" ujarnya mengantar beberapa langkah.
Keanu yang sudah beranjak kembali menghadap istrinya.
"Kenapa Mas? Ada yang ketinggalan?" tanya Sharen sedikit merasa bingung.
"Iya, ini yang tertinggal," jawab Keen lebih dulu meninggalkan jejak sayang di pipinya lalu berangkat ke kantor.
Sharen terdiam tak percaya, suaminya kenapa mendadak manis sekali. Membuat perempuan itu terngiang-ngiang saja. Rasanya aneh, tetapi kenapa hatinya tidak marah.
Pria itu kembali ke rumah cukup awal dengan menenteng buah tangan.
"Mbok Sharen ke mana? Kok nggak ada di kamar?" tanya Keanu yang belum terlalu sore sudah pulang.
"Kenapa Mas, mencariku?" tanya Sharen dari halaman belakang.
"Ternyata di rumah, aku kira pergi ke mana," ujar pria itu tersenyum sendiri.
"Tumben jam segini sudah pulang?" tanya Sharen merasa sedikit aneh.
"Kangen sama yang di rumah, jadi pulang lebih awal biar nggak makin gila," jawabnya serius.
Sharen tidak menimpali, hanya saja hatinya makin nyaman dan berasa tumbuh bunga-bunga saat Keanu mengatakan itu.
__ADS_1
"Aku beli ini tadi, pakai ya pasti pas di kamu, motifnya lucu."
"Iya Mas, nanti," jawab Sharen menerima paper bag dari tangannya.
"Ini apa Mas, kok ada di sini?" tanya Sharen bingung dengan isi yang lainnya. Sebuah kotak kecil, nampak isinya berkilauan. Ada juga yang lainnya.
"Iya, semua buat kamu," ujarnya serius.
Dress, mungkin okelah, tetapi ponsel baru, Sharen bahkan baru saja beli belum lama ini. Walaupun dengan merk yang berbeda.
"Ini bagus dipakai ya, biar ponsel kita kembaran. Kamu kan udah nggak pakai, jadi aku ganti. Cantik kan?" ujar Keanu memakaiakan kalung di leher istrinya.
"Lebih cantik orangnya sih, fix no debat, jangan dilepas lagi, apalagi dijual. Tidak boleh," ujarnya tersenyum tetapi serius.
"Namanya juga kemarin butuh, ya jual yang ada," jawab Sharen dengan pembelaan dirinya.
"Sekarang cuma boleh butuh aku, katakan saja bila kamu menginginkan sesuatu."
"Kalau aku mau macam-macam, emang kamu sanggup."
"Akan aku usahakan, pasti sanggup, asal jangan nyuruh buat jauh atau ninggalin kamu," kata pria itu sungguh-sungguh.
"Makasih," jawab Sharen haru. Dirinya merasa begitu bahagia, tak menyangka Keanu bisa semanis ini.
"Sha, aku mandi dulu ya," pamit pria itu beranjak.
"Iya Mas," jawab Sharen lalu beranjak menyiapkan gantinya.
Pria itu mandi dengan cepat, tersenyum saat melihat pakaian yang sudah disiapkan di atas ranjang.
"Mas, itu gantinya, kok belum ganti." Sharen masuk ke kamar, sedikit bingung saat melihat suaminya tak kunjung memakai pakaiannya.
"Nggak suka sama pilihan aku ya, mau ditukar?" ucap perempuan itu hendak mengambilnya. Keanu menahan tangannya.
__ADS_1
"Suka sayang," jawab Keen lembut.
Sayang, sepertinya Sharen salah dengar, ini bahkan panggilan pertama yang tiba-tiba membuat pipinya memanas. Pria itu mendekat, lalu menatapnya lebih lama, dalam, dan lekat.