
Sharen merebah dengan perasaan gamang. Ruangan mendadak serasa aneh saat Keanu benar-benar memilih tidur di karpet usang daripada pulang. Perempuan itu sengaja memunggunginya agar cepat terlelap, nyatanya sulit menemukan mimpinya. Hatinya gelisah dengan pikiran menerawang. Berusaha tetap memejam agar cepat lelap.
"Sha, kamu udah tidur?" tanya Keanu yang masih terjaga. Telentang berbantal kedua tangannya.
Sharen belum sepenuhnya terlelap, bahkan masih cukup mendengar baik ketika suaminya bertanya.
Pria itu merubah posisinya, menatap punggung istrinya dari bawah. Rasanya rindu sekali memeluk dan mengelus perutnya.
"Sha, boleh nggak ngelus perut kamu, aku pengen nyapa anak kita," ujar Keanu memberanikan diri mendekat.
Tidak ada jawaban, tetapi dengkuran halus itu terdengar. Mungkin sudah terlelap, tetapi rasanya begitu nyaman dari biasanya. Ia tidak sadar kalau Keen memeluknya tanpa permisi. Namun, saat menjelang pagi, pria itu sengaja berpindah tempat, demi menjaga kenyamanan wanitanya yang masih enggan menerima dirinya.
"Aku berangkat kerja dulu ya, nanti sore pulang ke sini lagi, kamu mau pesan sesuatu?" pamit Keen di pagi hari.
Sharen mengangguk, kemudian menggeleng pertanda tidak memesan apa pun. Setelah Keanu berangkat, tak berselang lama Sharen juga berangkat. Perempuan itu langsung ke butik. Sengaja tidak mengunci pintunya, barang kali pria itu pulang tidak harus menunggu di luar.
Syukur semua dimudahkan, Sharen diterima baik di tempat kerjanya yang baru. Perempuan itu mulai menata kembali hidupnya yang pernah marut-marut.
Saat sore hari Sharen pulang, benar saja, Keanu sudah pulang lebih dulu dan sudah menunggunya di rumah.
"Dari mana? Kenapa setiap pulang kerja nggak di rumah?" tanya Keanu penuh selidik.
Sharen menatap lelah, berlalu begitu saja tanpa menjawab.
"Sha, aku nanya, kamu dari mana?" tanya Keanu mengikuti istrinya sampai kamar.
"Kerja," jawab perempuan itu jujur.
"Kerja! Kamu lagi hamil kok kerja, gimana bisa, aku kan ninggalin uang? Masih kurang?"
Sharen yang tengah sibuk mengambil ganti dari lemari menghentikan pergerakannya. Lalu menatapnya tajam, dengan cekatan perempuan itu mengambil uang Keanu dari laci kamar yang sengaja disimpan.
__ADS_1
"Belum aku pakai Mas, sama sekali tidak kurang, ini aku balikin, sekarang kamu pulang, aku lelah," ucap perempuan itu terlihat lelah.
Dada Keanu bergemuruh hebat mendengar itu semua, kenapa sakit sekali hatinya saat merasa tidak dianggap sama sekali. Pria itu menahan sabar, tidak boleh mengambil hati atau usahanya selama ini akan sia-sia.
"Mulai besok tidak usah kerja, kamu sedang hamil," pesan Keanu jelas tidak mengizinkan istrinya beraktivitas di luar.
Sharen tidak menjawab, berlalu hendak keluar sambil mendekap pakaian gantinya. Namun, langkahnya terhalang oleh tubuh Keanu yang sengaja memblokirnya.
"Minggir Mas! Aku mau lewat!" ucap perempuan itu menatap kesal.
"Bisa nggak nurut demi kebaikan calon anak kita, aku tahu kamu lelah, katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu maafin aku dan mau pulang ke rumah," mohon pria itu membujuk perlahan.
"Aku masih ingin di sini," jawabnya dingin.
"Sampai kapan? Apa aku harus memaksamu lagi?" kata pria itu serius. Mengikis jarak, sembari menatapnya lekat.
"Kamu mau apa?" tanya Sharen waspada. Keanu tak setega itu, dia memeluk istrinya, membawanya dalam pelukan.
"Tolong maafin aku, Sya, tapi aku nggak bisa membiarkan kamu beraktifitas di luar untuk kerja, ayo kita pulang!" bujuk Keanu mendekapnya makin erat.
"Bagaimana?" tandas pria itu meminta kepastian.
"Aku butuh mandi, biar kupikirkan nanti," jawab perempuan itu bimbang.
Keanu menggeser tubuhnya, memberikan akses jalan perempuan itu melewatinya. Ia menunggu giliran memakai kamar mandi. Suasana sudah cukup tenang, Sharen juga terlihat lebih nyaman duduk di kursinya. Tiba-tiba vibrasi handphone perempuan itu menyala. Rupanya Dokter Arya yang memintanya besok untuk chek up kandungan.
Sharen mengiyakan, ia memang belum pernah melakukan itu sebelumnya. Sepertinya memang perlu.
"Siapa?" tanya Keen begitu istrinya selesai melakukan panggilan.
"Teman," jawabnya datar.
__ADS_1
"Untuk apa menelpon, bisa kulihat," ujarnya posesif.
"Arya Mas, hanya mengingatkan aku untuk ke rumah sakit," jawab Sharen sambil beranjak.
Keanu mengikutinya ke kamar dengan rasa ingin tahu.
"Ke rumah sakit? Apa terjadi sesuatu denganmu?" tanya pria itu khawatir.
"Bukan aku, tapi aku harus chek kehamilan aku," jawabnya sembari mengambil duduk.
"Besok aku antar," jawab Keanu cepat.
"Aku belum mengiyakan," ucap perempuan itu memberanikan diri menatapnya.
"Aku juga mau tahu kondisi anak kita, izinkan aku ikut," pinta pria itu penuh harap.
"Terserah kamu saja," jawab Sharen sambil merebah. Tak ingin berdebat lagi, ia lelah butuh istirahat.
Keanu masih duduk di bibir ranjang, sementara Sharen sudah tidur lebih dulu. Berharap malam ini bisa memeluknya lagi untuk menenangkan hatinya yang gundah.
"Sha, kamu udah tidur? Aku merebah di sini ya?" kata pria itu meminta izin.
Perempuan itu tidak menyahut, membuat Keen memberanikan diri melakukan hal yang sama seperti semalam.
Sharen yang sudah tertidur, berasa ada yang meraba-raba perutnya. Awalnya sedikit kaget, dan merasa keberatan, tetapi kenapa rasanya begitu nyaman. Benar-benar anak Keanu sesungguhnya.
"Kamu belum tidur?" bisik Keanu mengusak tengkuknya.
"Kamu bangunin aku, mana aku bisa tidur," jawabnya tanpa merubah posisinya.
"Aku kangen gini, tolong jangan usir aku, tidurlah!" ucap Keanu mencium belakang kepalanya.
__ADS_1
Rasanya Sharen ingin menyingkir, tetapi kenapa sentuhan itu membuatnya nyaman.
"Sha, besok pulang ya?" bujuk pria itu lembut. Sharen tidak menjawab, terlelap dengan rasa nyaman dan membiarkan suaminya memeluk hingga pagi.