Tawanan Presdir Kejam

Tawanan Presdir Kejam
Bab 57


__ADS_3

"Owh ... jadi suamiku cemburu, benar begitu Pak Keen?" tanya Sharen sengaja menggodanya.


"Salah ya cemburu sama istri sendiri," jawab Keanu masih sedikit jengkel.


"Tentu saja tidak, tetapi wajahmu tidak enak dilihat," ujar perempuan itu jujur sekali.


"Maksud kamu aku jelek gitu?" tanya pria itu galak.


"Aku nggak ngomong gitu loh Mas, kamu kenapa sensitif banget sih."


"Itu karena kamu bikin aku gemes sayang, ayo!"


"Pulang?" Sharen kebingungan saat Keen meraih pinggangnya lalu melangkah dengan semangat.


"Belum, mama mau ketemu," ujar Keen antusias. Berharap istri dan ibunya bisa akur layaknya satu keluarga utuh.


"Mama kamu mau ketemu? Beliau nggak marah?" tanya Keen ragu.


Pria itu menggeleng, walaupun Sharen sedikit ragu, tetapi ini adalah saatnya yang tepat untuk membangun komunikasi yang baik dengan mertuanya. Berharap tulus dari hati, dan tidak sekalipun perempuan itu menaruh dendam. Bagaimanapun perangainya, beliau adalah cinta kasih suaminya.


Sharen mendekati mertuanya diantar Keanu yang menuntunnya.


"Ma, ini Sharen, dia mau jenguk Mama," ujar Keen mengawali dengan lembut.

__ADS_1


"Terima kasih sudah datang, Sha, Mama senang kalian ada di sini," sahut Nyonya Abraham tersenyum lembut menyambut menantunya.


"Bagaimana keadaan Mama? Semoga lekas sembuh."


"Lebih baik setelah kalian datang," jawabnya haru. Masa tuanya yang sudah dimulai, sepertinya tidak akan kesepian lagi. Apalagi dengan kehamilan istri Keen yang akan mewarnai rumah mereka.


"Maafkan mama, Sha, terima kasih sudah menjaga Keen dengan baik, dia tidak pernah mempunyai cinta setulus dirimu, kamu memang orang yang tepat yang dikirim Tuhan untuknya, dan mama baru menyadari itu semua sekarang."


"Sharen juga minta maaf, Ma, banyak salah, Mas Keen baik kok Mah, ya walaupun di awal sedikit serem sih," ujarnya jujur. Keen meliriknya dengan gelengan. Sepertinya ia tidak setuju bila masa lalunya diumbar kelayak keluarga. Pria itu bahkan selalu berbuat manis terhadap istrinya di depan ibunya walau dulu hanya sebuah kamuflase.


"Dia memang pribadi yang keras, semoga kamu bisa sabar dan tidak pernah lelah membawanya ke jalan yang benar."


"Ma, kapan aku menyimpang, aku selalu lurus dan manis, benar begitu sayang?" tandas Keen berkedip lembut.


"Besok kalau mama sudah boleh pulang, mama berharap kalian sudah ada di rumah," pinta perempuan itu secara khusus.


Sharen belum mengiyakan, ia lebih dulu menyerahkan semuanya pada suaminya. Sebagai seorang istri, tentu ia akan mengikuti di mana suaminya tinggal.


Keen mengangguk dengan senyuman, berharap istrinya juga mau pulang ke rumah utama.


"Aku baiknya kamu aja Mas, kalau memang harus pulang, aku akan mengikutimu," kata Sharen menurunkan egonya. Kasihan juga mertuanya tinggal di rumah besar nan mewah itu sendirian. Hanya dengan asisten rumah tangganya saja.


"Terima kasih sayang, love you," ucapnya dengan perasaan lebih baik. Berharap kedua perempuan yang begitu penting dalam hidupnya itu bisa rukun dan saling akrab layaknya ibu dan anak menantu pada umumnya.

__ADS_1


Apalagi dari sikapnya yang terlihat lembut, dan mau menerima, Sharen sedikit lebih nyaman. Ia memang butuh kenyamanan saat hamil.


Setelah kunjungan dari rumah sakit, mereka memutuskan pulang lebih dulu.


"Maaf, gagal jalan-jalan," sesal Keen karena ternyata ada hal lebih penting.


"Ganti dong Mas, ini kan masih sore," ujarnya pura-pura merajuk.


"Emang mau ke mana? Nonton gimana? Sepertinya seru," usul pria itu menarik juga.


"Boleh juga, apa ini kencan pertama kita?" tanya perempuan itu sambil tertawa.


"Lebih tepatnya begitu, aku merasa seperti ada banyak bunga yang bersarang di hatiku," ujarnya merasa bahagia.


"Benarkah, kapan kamu mulai jatuh cinta?" tanya Sharen serius.


"Saat pertama kali melihatmu, sayang waktu itu aku salah paham padamu, wajahmu membiusku waktu itu, tapi aku sangat membencimu. Maaf sayang, aku keliru, hingga benar-benar tersesat di hatimu, bahkan tak tahu arah dan jalan pulang."


"Hmm ... kejam-kejam bucin, udah gitu kenapa nyebelin terus, coba kamu nggak nikahin aku, eh malah perkosa aku juga, sakit tahu."


"Ya ampun ... pembahasan macam apa ini, aku udah bilang lah walau sedikit memaksa, mungkin aku bisa gila malam itu bila tidak menyentuhmu. Tapi aku bersyukur, ada buah cinta kita di sini." Keen mengelus perut istrinya lalu menciumnya dengan sayang.


"Dia penyelamatmu Mas, kamu harus berterima kasih dengan anak ini, karena aku jatuh cinta padamu setelah aku hamil, walaupun banyak bencinya. Tapi aku sadar, ada darahmu yang mengalir di dalam diri janin ini. Ah, rasanya sulit diartikan untuk tetap bertahan, tapi aku juga bahagia."

__ADS_1


__ADS_2