TeaAmore

TeaAmore
Episode 1 - Pertemuan


__ADS_3

Tidak terasa sudah tujuh tahun lamanya aku meninggalkan kota kelahiranku untuk menetap di Australia. Walaupun bukan kota besar dan memiliki banyak keistimewaan, namun Bogor tetap tempat tinggal kesukaanku karena orang-orang yang kusayang berada di sini.


Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana saat-saat terakhirku di sini, semua hal-hal kecil membuatku terbawa suasana, karena memang berat harus meninggalkan kenangan yang telah dibangun semenjak lama.


Namun begitulah hidup, tidak semuanya akan berjalan sesuai dengan keingananmu. Seringkali apa yang sudah kita rencanakan, entah karena suatu sebab atau kejadian rencanamu menjadi berubah tujuan. Demikian denganku yang sudah memustuskan untuk kuliah di Indonesia mendadak harus pindah ke negeri orang, karena pabrik orangtuaku terbakar dan kantor cabang mereka di Australia tak ada yang mengawasi.


Berat? Pastinya! Di usia muda waktu untuk bersenang-senang, tidak bisa kurasakan karena sibuk dengan sekolah


dan mengawasi bisnis keluarga. Namun karena aku anak pertama, dan adikku masih kecil, tak ada pilihan lain yang kumiliki.


“Desta!” Panggil Fanie.


Aku tersenyum senang melihatnya dan meminta Fanie masuk ke dalam rumah.


Fanie bukan hanya tetangga, tetapi Ia sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Begitupun dengan adikku yang lebih nyaman berbicara dengannya dibandingkan aku, mungkin bagi Erika ia menemukan sosok seorang kakak perempuan.


“Kapan pulang? Kok nggak ada kabar sih mau balik Indonesia?” Protesnya.


“Jadi ceritanya waktu kemarin Mama Papa liburan ke sana, mereka lihat peluang bisnis lagi maju banget, jadi mereka pikir lebih baik aku urus yang di Indonesia mereka di Aussie.”


"Jadi mereka nggak akan pulang Indonesia?”


“Pulang, cuma ya jarang banget! Lagian si Erika sudah besar, jadi mereka nggak terlalu ambil pusing.”


“Dest.”


“Kenapa?”


“Kita kan sudah nggak ketemu lama, makan yuk!”


“Besok aja deh.” Pintaku menolak, karena belum mandi dan ingin bersantai-santai di rumah.


“Sekarang aja.” Ajaknya sedikit memaksa.


“Emang mau makan di mana sih?”

__ADS_1


“Kafe deket sini kok, ada pancakenya enak bangettt lho di sana!” Rayu Fanie. “Oh ya ada Nino juga, kalian udah lama nggak ketemu kan? Masa nggak kangen.” Lanjutnya merayuku, seakan menu makanan tak cukup membuatku tertarik.


“Cuma bertiga aja?”


Fanie tertawa. “Sebenarnya sih ada teman gue. Cantik lho anaknya! Serius!”


Aku terdiam tak peduli, karena sebenarnya selama tinggal di Aussie berkencan sudah menjadi hal membosankan untukku. Bagaimana tidak, semua wanita yang kujumpai di sana mau dari negara apapun mereka hanya peduli pada uangku saja.


“Dicoba Desta, nggak semua cewek itu sama.” Lanjut Fanie karena tahu aku tak tertarik. “Percaya deh, nggak mungkin kan gue asal kenalin lu sama cewek nggak bener?”


Aku mengangguk, mencoba percaya dengan sahabatku. “Gue mandi dulu deh kalau gitu.”


“Katanya mau ketemu cewek yang nggak cuma lihat materi?”


Aku tertawa, memang itu yang kumau, tapi bukan berarti dong bertemu dengan seseorang dan pergi ke


tempat makan hanya mengenakan baju tidur, tanpa sempat mandi atau sekedar membasuh wajah. Tapi buat apa aku memikirkan itu, saat ini aku terlalu lelah berkenalan dengan wanita.


                                                                                        ♥♥♥♥


TeaAmor memang merupakan salah satu Kafe favorit orang berkumpul, bukan hanya warga Bogor, tetapi orang


yang berkunjung ke kota ini pun menyempatkan diri datang kemari. Selain karena tempatnya nyaman, makanan dan minuman di sini harganya terjangkau.


Restoran ini juga memiliki khas tersendiri, yaitu hanya menyediakan minuman serta makanan dari racikan teh.


Seperti milk tea, mint tea, lemon tea hingga stracolie tea, perpaduan strawberry dengan brokoli yang di campur daun teh. Sedangkan menu utama untuk makanannyaadalah kentang goreng with black tea. Aku pribadi setiap datang kemari, selalu memesan segelas mint tea.


Kelebihan lainnya, TeaAmor sengaja mengajak pelanggan untuk membaur bersama alam dengan cara membuat konsep tempat makan luar ruangan, tidak hanya menikmati angin sepoi-sepoi tetapi pamandangan hijau dari pepohanan sekitar mampu memanjakan mata.


 “Anggie.” Sapa Fanie.


Aku tersenyum membalas lambaian Fanie yang berjalan mendekatiku bersama seorang pria.


“Sorry gue telat.” Kata Fanie tertawa. “Kalau lu mau bete, betein dia aja.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa Fan. Baru juga sepuluh menit, biasa setengah jam.” Ledekku padanya. “Oh ini suami lu yang di


Jepang?”


“Gila lu? Bukan lha! Ini Desta. Tetangga gue.” Jelasnya dan memintaku berkenalan dengan pria tersebut.


“Oh. Hallo. Gue Anggie.” Sapaku padanya dengan ramah.


Desta hanya mengangguk membalas sapaanku, tanpa tersenyum ataupun memperkenalkan dirinya secara langsung.


Duh! Rasanya kesal, ketika kamu berbuat baik tetapi mendapatkan respon seperti tersebut. “Argh! Sabar ingat ini tempat umum dan dia teman Fanie.” Kataku dalam hati.


“Desta kan?” Sapa Nino yang baru tiba. “Apa kabar? Kapan balik?”


Desta tersenyum ramah dan membalas pelukan Nino. “Kemarin. Baik. Lu gimana?”


“Baik-baik. Wah, asik nih gue nggak cuma cowok satu-satunya kalau lagi jalan sama Fanie.” Seru Nino bahagia.


Desta kembali tersenyum dan hanyut dalam pembicaraanya bersama Nino. Entah apa yang mereka ceritakan, tetapi aku merasa kesal melihat sikapnya padaku. Ternyata di antara semua pria yang pernah ketemui, dialah yang paling tidak beretika!


“Gie.”


“Hm.”


Fanie mendekatkan wajahnya padaku dan berbisik pelan. “Dia baru balik di Australia. Lihat baik-baik deh Gie. Desta ganteng kan? Dia juga orangnya baik banget, udah gitu pintar, dan juga mandiri. Recommend deh pokoknya buat jadi cowok lu.”


 Aku menatap Fanie dengan bingung dan masih tak percaya dengan apa yang barusan kudengar. “Jadi cowok gue?”


Iya.”


Aku tertawa kecil pada Fanie. Bukan berarti meremehkan apa yang dia katakan, tetapi kali ini kami sama sekali tidak memiliki pemikiran sama terhadap tetangganya.


Oke memang tidak semua yang dikatakan Fanie salah, bila dia bertanya apakah dia ganteng? Memang aku akan memberi nilai 9 dari 10 sekalipun saat ini Ia terlihat salah kostum. Tapi, tetap saja sikap tidak ramahnya membuatku tidak tertarik padanya, apalagi menjadi pacar? Makasih deh!


                                                                                       ♥♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2