TeaAmore

TeaAmore
Episode 5 - Kerjasama


__ADS_3

Sudah satu jam lamanya aku berdiri di depan lemari dan membongkar seluruh isinya. Sebenarnya aku tak suka harus menggunakan pakain formal, namun karena Evan meminta kami menikmati makan di hotel bintang lima, dengan terpaksa aku harus memikirkan pakaian yang tepat.


Namun rasanya bila bisa jujur, entah kenapa sepertinya aku memiliki alasan lain yang membuatku ingin terlihat


cantik.


Aku menyentuh dress putih tulang tanpa lengan dengan manik-manik kecil disekitar leher. Cantik. Namun rasanya pakaian ini terlalu berlebihan untuk digunakan tanpa adanya acara khusus.


Aku kembali membuang dress tersebut, di atas tumpukan kelima pakaianku yang sebelumnya sukses kukomentari berlebihan, mencolok, aneh, gendut, dan hal-hal negatif lainnya.


Lagi-lagi aku menatap kembali ke dalam lemariku, rasanya seakan tak ada satupun pakaian yang tepat. “Hhh, lagi pula apa yang membuatku begitu ingin terlihat cantik? Ini kan hanya sandiwara bukan kencan pertama.”


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha mengalihkan pikiranku untuk tak memikirkan Desta.


BrrtBrrt ~


Aku melihat ponselku bergetar dan menampilkan nama Desta pada layarnya, tepat setelah aku memustukan memakai dress hitam dengan motif bunga kecil pada bagian bawah.


Aku merasa Ia terlalu cepat menjemputku, bahkan rasanya semakin aku melangkahkan kaki menuju pintu,


membuatku menjadi lebih gugup. “Ayo Anggie. Ini Desta. Cuma Desta. Bukan siapa-siapa.” Jelasku pada diri sendiri agar tenang.


                                                                        ♥♥♥♥


Satu kata yang dapat terucap dalam hatiku ketika melihatnya, cantik! Tidak peduli pakaian apa yang dikenakan, memakai makeup atau tidak, bagiku Anggie selalu mampu membuat sesuatu di hatiku bergetar.


Walaupun kami berjalan tanpa saling melihat layaknya pasangan kekasih pada umumnya, namun tak bisa kupungkiri bahwa diam-diam aku selalu mencuri pandang dirinya.


“Dest.” Bisik Anggie pelan sesaat setelah kami tiba di restoran. “Itu Evan.” Tunjuknya pada pria di depan kami dengan kepalanya.


Aku mengangguk tanda mengerti. Dari segi wajah perkirakanku usianya sama denganku, sedangkan penampilannya tidak hanya gaya berpakaian, namun wajahnya pun menunjukan bahwa Ia termasuk dalam golongan pria “nakal” seperti playboy.


“Gue gandeng?” Tawarku tanpa sadar, saat kami semakin mendekati Evan.


Anggie menatapku bingung dan membuatku semakin canggung karena telah berkata demikian. “Maksud gue biar kita meyakinkan, bahwa benar-benar pasangan. Susah sih lu nggak banyak pengalaman.”


“Oke. Tapi cuma di depan Evan ya.” Jelasnya.


“Yee, siapa juga yang mau gandeng lu terus-terusan?” Cibirku. “Lagi juga nih ya, kalau kita nggak terlihat beneran


pacaran, gue yang susah kalau Evan ajak kita ketemu terus!”


“Iya deh, ributnya nanti aja. Yuk.” Pintanya dan mengkaitkan tangannya pada lenganku.


Aku tersenyum simpul, rasanya ada perasaan senang di hatiku karena kami bisa sedekat ini. Namun geteran aneh di dadaku membuatku tak bisa bohong rasanya mendadak diriku menjadi sangat gugup hanya karena bergandengan tangan.


“Desta, kenalin ini Evan.” Kata Anggie mengenalkanku pada Evan. “Evan. Ini Desta.” Lanjutnya meminta kami untuk


saling berjabat tangan.


“Duduk.” Pinta Evan ramah kepada kami. “Kalian mau pesan apa?”


“Ice Tea, kalau kamu mau apa?” Tanya Anggie bersandiwara ramah padaku.


“Black Coffee less sugar.”


“Kalian udah lama saling kenal?” Tanya Evan tepat setelah waitress pergi mencatat pesanan kami.

__ADS_1


“Tujuh tahun, tapi kami baru sempat ketemu lagi beberapa waktu lalu. Cocok, nyaman, jadian deh.” Jelas Anggie tersenyum manis padaku.


“Tapi. Selama kita kenal, aku nggak ingat kamu ada teman namanya Desta?” Tanya Evan menyelidik seakan-akan mereka adalah sepasang kekasih.


“Emang lu perlu tahu?” Balas Anggie tegas dan membuat Evan hanya terdiam.


“Hm. Jadi seberapa serius lu sama Anggie Dest?” Tanya Evan kembali menyelidik.


“Seberapa serius gue? Bisa di lihat nanti, gue nggak cuma mau ngomong, tapi bakal tunjukin ke Anggie gimana serius dan sayangnya gue sama dia.”


Evan tersenyum dan membulatkan bibirnya tanpa suara. “By the way, sorry banget nih gue harus pulang.” Pamitnya, seakan-akan ia sudah merencanakan hal tersebut.“Sebenarnya tadi ada urusan mendadak.”


“Oke. Makasih sudah sedian dinner buat kami.” Balasku tersenyum, diikutin dengan senyum lega Anggie.


“Asli, gue seneng! Gue kira bakal lama dan susah buat yakinin dia kita pacaran!” Serunya bahagia..


“Itu karena ada Gue! Dia pasti minder lihat gue yang ganteng dan levelnya jelas di atas dia” Jawabku bangga.


“Gie.” Panggilku karena Ia tampak terdiam menatap kosong pada arah tak jelas.


♥♥♥♥


“Jadi lu cewek yang buat Desta tinggalin gue?” Teriak wanita tersebut padaku, sehingga orang di sekitar kami tampak mencuri pandang ingin tahu akan apa yang terjadi.


“Ehm, Hana?” Tanya Desta padanya.


“Desta... Gue ini Olivia bukan Hana.” Jelasnya kesal.


Aku bisa melihat Desta mengangguk mengerti bahwa saat ini Ia berjumpu dengan Olivia bukan Hana, namun tetap saja hal ini membuatku bingung mengetahui bahwa bisa-bisanya pria dihadapanku lupa dengan mantan pacarnya.


“Tapi buat aku, kita itu udah seperti pacaran. Gue nggak terima tiba-tiba lu nggak bisa dihubungi lagi!” Serunya kesal. “Lu tahu nggak, gue bela-belain buat balik ke Indonesia cuma buat nyusul lu Dest!”


“Nggak.” Jawab Desta tanpa dosa dan membuatku menendang kakinya.


“Gimana kalau kita bicara baik-baik?” Tawarku pada Olivia dan memintanya duduk agar bisa lebih tenang. “Gue bukan pacar Desta. Jadi saat ini kami pacaran itu karena…”


“Lu bukan pacar Desta. Tapi saat ini lu pacaran sama dia? Sama aja Desta pacar lu kan?” Potongnya tanpa peduli bahwa aku ingin menjelaskan hubungan kami seperti apa.


“Denger ya.” Lanjut Olivia menunjuk wajahku, sehingga membuatku reflek memundurkan kepala. “Lu lihat aja, seberapa lama bisa sama Desta. Masih bagus kalau bisa jalan sebulan dan lu nggak dibuang sama dia.”


Aku terdiam dan hanya mampu melihat Olivia pergi menjauh meninggalkan kami berdua. Entah apa yang membuatku tertegun, seakan takut bahwa apa yang dikatakannya benar.


“Gue bukan pria seperti itu Gie.” Jelas Desta memecahkan keheningan di antara kami. “Memang gue sering banget kencan, tapi seperti kataku tadi kami nggak pernah pacaran.”


Aku mengangguk berusaha mengerti, walaupun sebenarnya cukup bingung dengan diriku sendiri yang ingin tahu penjelasan Desta.


“Gue nggak mau punya hubungan hanya karena mereka tahu gue punya uang, terus dimanfatiin untuk kesenangan mereka pribadi.”


“Terus kenapa lu jalan sama mereka?” Tanyaku penasaran.


“Coba-coba aja, berharap ada satu dari mereka yang beda. Tapi lagi-lagi semua sama.” Jelasnya tertawa.


“Memang dari kapan lu selalu berpikir semua wanita yang mau dekat sama lu cuma ingin uang?”


“Jadi dulu banget waktu masih sekolah gue pernah ditantang untuk pacaran dengan cewek paling cantik di sekolah. Sebagai anak muda yang masih labil pikirannya, gue pun setuju buat buktiin ini lho Desta.”


“Terus?”

__ADS_1


“Nah teman gue minta minimal satu bulan untuk jalan sama dia, tapi belum ada sebulan jalan pabrik gue kebakaran. Dia tiba-tiba putusin gue, walaupun nggak ada perasaan cinta tapi perkataan dia ngena banget.”


“Memang dia ngomong apa?” Tanyaku semakin penasaran.


“ ‘Gue nggak bisa lagi jalan sama orang yang nggak ada masa depan.’Hmm, dari sana gue berpikir semua


sama aja dan benar waktu di Aussie semua cewek yang deketi gue alasannya juga sama karena gue ada uang.”


Aku tersenyum lega, entah apa yang membuatku merasa senang mengetahui bahwa Desta bukanlah pria yang akan meninggalkan seseorang tanpa sebab. “Nggak semua sama. Mungkin belum waktunya aja lu menemukan orang yang tepat.”


“Terus kalau lu pribadi Gie, misalnya nih ada cowok yang kaya banget tapi nggak pasti dia sayang dan setia atau lu pilih yang biasa aja cuma dia sayang banget sama lu gimana?”


“Ya gue bakal pilih pilihan kedua.” Jawabku tegas.


“Eh, kenapa?” Tanyanya bingung.


“Uang bisa dicari Dest, karena kebahagian itu nggak cuma dari harta kan? Gue percaya kalau ada orang yang benar-benar sayang sama kita, dia akan berusaha menjadi terbaik dan membuat kita bahagia walaupun nggak hidup berkelimpahan.”


                                                                        ♥♥♥♥


Aku mengangguk setuju dengan pendapat Anggie. Uang adalah sesuatu yang mudah di cari, asalkan mau berusaha. Walaupun pasangan juga mudah di cari dengan kemapanan, tetapi itu tidak menjamin bahwa seseorang ingin denganmu karena perasaan cinta.


Aku tersenyum melihat Anggie yang saat ini juga tersenyum padaku. Rasanya apa yang dikatakan Erika bahwa Ia bisa mengubah pandanganku benar adanya.


“Dest.” Panggil Anggie karena aku terdiam. “Lu masih kaget gara-gara Olivia tadi?”


Aku menggeleng. “Nggak, udah biasa. Gue sering banget kalau lagi jalan sama cewek, ada aja yang datengin


marah-marah dan paling parahnya ditampar.” Jelasku tertawa geli mengingat kejadian tersebut.


“Ditampar?” Tanyanya tak percaya. “Wah pantes aja lu dah kebal.”


Aku tersenyum mengangguk menyetujui apa yang di katakan Anggie padaku.


“Kalau boleh tahu, kalau lu nggak cinta Evan kenapa pacaran sama dia?” Tanyaku penasaran.


Aku melihat Anggie langsung terdiam dan berhenti tertawa. Seketika aku sadar bahwa untuk wanita pertanyaan seperti ini adalah hal sensitif dan tak bisa sembarang ditanyakan. “Gie, sorry, lu nggak perlu jelasin kok.”


Anggie tersenyum padaku. “Nggak apa-apa, lu udah bantuin tapi gue nggak pernah jelasin. Jadi gue pacaran sama dia karena iseng aja. Gue kesepian. Gue kira dengan punya pasanganbisa bikin gue senang, ternyata nggak.”


“Karena dia selingkuh?”


Anggie menggeleng. “Bukan, karena gue nggak cinta sama dia. Gue kira dengan mencari pacar gue bisa lupain seseorang yang dulu dekat banget sama gue, tapi nggak.”


“Seseorang itu maksudnya cowok?” Selidikku tanpa sebab.


“Iya cowok. Kenapa? Cemburu yaa?” Tanyanya menggoda.


“Mana ada! Kan sekarang lagi marak LGBT.” Candaku.


“Enak aja!” Balasnya tertawa.


“Kalau lu masih cinta kenapa putus?” Lanjutku kembali pada topik.


“Kita nggak pernah pacaran Dest, jadi ketika dia memilih pergi Ke Amerika gue nggak ada hak apapun. Lagi pula kalau dibilang cinta pun, gue nggak tahu gimana perasaan gue sebenarnya.”


♥♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2