TeaAmore

TeaAmore
Episode 13 - Memendam


__ADS_3

Aku bingung dengan diriku sendiri yang selalu ingin menangis setiap memikirkan Desta. Bahkan ketika dikeramaian pun rasanya hatiku tetap merasa kesepian. “Hhh.”


Ingin rasanya menceritakan perasaan sakit ini kepada seseorang, namun apa pendapat Tania dan Fanie bahwa aku yang selama ini mengelak ternyata telah benar-benar jatuh cinta pada Desta?


Aku tersenyum menatap buku dengan sampul merah muda, berjudul “Cara Memodifikasi Rambut.” Buku ini merupakan salah satu kenangan di antara banyakan cerita yang telah kami lalui berdua.


Rasanya begitu lucu, ketika hal yang sebenarnya telah lama berlalu seperti terasa baru terjadi kemarin. Aku bahkan masih ingat bagaimana kesalnya diriku bertemu dengan Ia terus menerus, namun saat ini justru berharap bisa berjumpa dirinya.


“Ironis.” Kataku tanpa sadar.


“Apanya yang ironis?” Tanyanya dan membuatku menjatuhkan buku tersebut, karena terkejut mendengar suaranya begitu dekat. “Bukannya ini buku yang waktu itu aku beli? Kamu mau?” Lanjutnya, mengembalikan buku yang jatuh tersebut ke tempatnya.


Aku tidak bisa bohong, mendengar suara saja membuatku begitu senang. Walaupun rasanya tak pantas


merasa senang berada di dekat laki-laki yang tak mencintaiku.


“Sorry Dest, aku mau pulang dulu.” Jawabku dan segera pergi meninggalkannya agar tak terus-terusan berpikiran bodoh untuk ingin memeluknya.


 “Hei, kamu nggak apa-apa?” Tanyanya khawatir karena aku hampir terjatuh menghindari dua anak kecil yang berlarian.


Aku mengangguk terdiam dalam pelukan Desta. Rasanya sangat nyaman dan membuatku hampir lupa bahwa


hubungan kami tak sedekat dulu. “Makasih.” Kataku tersadar, dan segera melepaskan pelukannya.


“Gie.” Panggilnya ketika aku berjalan menjauh.


“Ya?” Kataku penuh harap, berharap Ia memintaku untuk tinggal.


“Hati-hati dijalan ya!”


Aku berusaha tersenyum dan menahan air mataku agar tak jatuh di depan Desta. Rasanya aku benar-benar merasa sangat bodoh, karena berharap Ia akan menahanku dan mengatakan bahwa Ia merindukanku seperti diriku kepadanya. “Iya, kamu juga.”


                                                                        ♥♥♥♥

__ADS_1


Pepatah pernah berkata, “Bila kamu mencintai seseorang maka dirimu akan senang melihat Ia bahagia bersama orang yang dicintai.” Namun menurutku hal tersebut sangat konyol, karena aku sama sekali tak merasa bahagia. Mungkin terdengar egois ingin memiliki Anggie hanya untukku seorang, namun aku benar-benar tak sanggup


melupakan dirinya.


“Hhh.” Rasanya baru berjalan beberapa minggu, namun terasa seperti berbulan-bulan aku menghabiskan waktu dalam kekosongan. Bahkan diam-diam aku merasa iri melihat orangtuaku yang masih sibuk kencan berdua, agar hubungan mereka masih harmonis layaknya pasangan muda.


“Kletak.”


Tanpa tersadar aku tersenyum penuh harap mendengar suara pintu terbuka. Besar harapku bahwa seseorang yang datang adalah Anggie, karena memang Ia kerap kali menghabiskan akhir pekan bersamaku.


“Destaa!” Sapa Erine senang saat melihatku.


“Hhh.” Aku mendengus kecewa.


“Kamu nggak senang ketemu aku?” Tanyanya kesal.


“Nggak.” Jawabku jujur. Rasanya tidak hanya Ia menghancurkan harapanku bertemu Anggie, namun juga membuatku kesal karen terus menerus menjumpaiku.


“Kenapa?” Tanyanya bingung. “Harusnya kamu senang dong bertemu aku lagi.”


“Kamu dari dulu nggak berubah ya, dingin.” Balasnya tertawa tak peduli pada ucapanku. “Nggak heran kenapa banyak cewek-cewek yang tertarik sama kamu.”


“Hhh.” Aku hanya dapat menghela nafaskesal, seakan tak tahu harus berkomentar apa agar Ia mengerti bahwa selama ini salah paham menganggapku mencintai dirinya.


 “Desta. I Love You.” Kata Erine memelukku.


“Rin, lepasin!” Pintaku padanya.


“Sorry­ nggak sengaja.” Potong Anggie, membenarkan vas bunga yang terjatuh. “Maaf banget ganggu, ke sini cuma mau balikin buku Erika kok.”


“Gie.” Panggilku.


“Iya kenapa?” Tanyanya tersenyum seakan tak peduli aku dipeluk wanita lain.

__ADS_1


Aku mengumpat diriku sendiri yang dengan bodohnya lagi-lagi ingin menjelaskan hal tak perlu.


“Dest?” Panggilnya karena aku terdiam. “Kenapa?”


“Nggak apa-apa.”


“Oh. Ya udah ini titip buku Erika ya, makasih.”


                                                                        ♥♥♥♥


Aku berdecak-decak kesal pada diriku yang tak bisa melupakan Desta yang dipeluk wanita lain. Rasanya begitu konyol mengharapkan Ia menjelaskan bahwa yang kulihat hanyalah kesalahpahaman.


“Hhh.” Kecewa, marah, cemburu, kesal, dan perasaan sakit ini bercampur menjadi satu dalam hatiku, namun lagi-lagi tak ada hak untukku marah kepadanya.


Aku kembali menghirup nafas dan menghembuskannya dengan perasaan kesal. Waktu memang berjalan maju, namun hatiku seakan tetap berada dimasa lalu bersama Desta. Sulit, sangat sulit melupakannya.


Walaupun ada yang berkata cara melupakan seseorang adalah mengingat segala hal buruk tentangnya, namun


untukku dia tak memiliki sisi buruk yang membuatku ingin menjauh. Sungguh menjadi kebodohanku seorang, jatuh cinta kepada pacar sandiwara!


 “Gie.” Panggil Brian menyadarkanku bahwa Ia berada di sampingku semenjak tadi. “Kamu kenapa?”


Aku menggeleng dan berusaha tersenyum, agar terlihat baik-baik saja.


“Gie. Aku tahu kamu bohong. Aku bisa melihat di mata kamu.”


Aku menunduk manahan air mata yang tak kuasa kutahan karena memikirkan Desta. Rasanya sangat kesal mengetahui Brian tahu aku terluka, sedangkan Ia sama sekali tak peduli.


Brian tersenyum dan memelukku erat. “Nangis aja sepuas kamu, biar perasaan kamu lebih lega.”


“Maaf.” Katakukarena membuat bajunya basah oleh air mataku.


“Nggak apa-apa.” Jawabnya membelai lembut rambutku. “Justru aku senang bisa menghibur kamu. Terus kamu tahu nggak? Kalau aku senang bisa peluk kamu kayak gini, aku kangen! Maaf ya aku nggak hubungi kamu, karena ketika sampai di sana Handphone aku hilang, dan orangtuaku meminta tolong agar menyelesaikan semua urusan di sana sebelum balik ke Indonesia.

__ADS_1


“Iya aku ngerti, makasih juga kamu udah hibur aku sekarang.”


“Aku nggak ingin orang yang aku sayang sedih.” Jelasnya. “Aku benar-benar menyesal pergi selama ini dan nggak bisa cari tahu kabar tentang kamu.”


__ADS_2