TeaAmore

TeaAmore
Episode 19 - Lupa


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 11:50 malah hari, sebentar lagi adalah hari ulang tahun Anggie. Namun jangankan bisa bertemu dengannya, mengucapkan melalui telfon pun rasanya sangat canggung.


“Hhh.” Erika memang tahu bahwa hubungan kami sedang bermasalah, sebagai adik yang baik Ia tidak banyak ikut campur dengan urusanku. Walaupun Erika tahu aku ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk Anggie namun Ia hanya diam.


Aku menutup mataku, mengingat kembali bagaimana tahun lalu menghabiskan perayaan ulang tahunnya bersama.


*“*Desta.” Sapa Anggie. “Kenapa malam-malam datang? Masuk yuk!”


“Ini mamaku habis arisan, terus kata nyokap suruh bagi aja kue ini buat kamu.”


Kataku berbohong.


Anggie tersenyum simpul. “Makasih. Boleh aku pasang lilin di atasnya?”


“Buat apa?”Tanyaku pura-pura tak tahu.


“Lagi pingin aja bikin wish waktu ulang tahun.”


“Oh kamu ulang tahun?”


Anggie mengangguk.


“Happy birthday.” Balasku.


“Makasih Desta!”Jawabnya tanpa melihatku, karena sibuk memasang lilin pada kue pemberianku.


“Oh iya besok kamu harus ikut aku ke Bali!” Pintaku usai Anggie meniup lilin dan membuat permohonan.


“Ngapain?”


“Besok aku ada meeting di sana. Biar keluargaku percaya kita pacaran, kamu harus ikut dong!” Jelasku berbohong.


“Meeting? Ah jangan-jangan kamu mau kasih aku kejutan yaa?” Tanyanya menyelidik.


Aku terdiam karena terkejut Ia bisa menebak jalan pikirku.


“Hahaha.” Anggie tertawa mengisi hening yang ada. “Aku becanda! Kamu aja nggak tahu hari ini aku ulang tahun, gimana mau siapin kejutan?”


♥♥♥♥


Dua jam lamanya aku menghabiskan waktuku hanya untuk melihat layar ponsel. Memang aku sadar melihatnya terus menerus seperti ini juga tak akan membuatnya berbunyi karena Desta menghubungiku.


Namun sebenarnya aku menunggu pun percuma, karena selama ini dia tak pernah ingat hari ulang tahunku! Tahun pertama Ia mengucapkan karena Erika ingin memberiku kejutan, tahun kedua kebetulan Desta datang membawa kue sisa arisan orangtuanya.


“Hhh.” Apalagi sekarang? Aku bukan siapa-siapanya, dan dia telah memiliki Erine sebagai pacarnya.


“Brrt~”


“Happy birthday Gie. Semoga semua yang kamu inginkan tercapai.” Harapnya.


Aku tersenyum simpul. “Makasih Bri! Makasih juga buat cakenya.”


Brian tertawa. “Maaf aku nggak bisa ke sana.”


“Nggak apa-apa.”Balasku tersenyum.


“Kamu mau aku bawain apa dari Beijing? Atau ada hal lain yang kamu pingin?”


Hal yang aku inginkan? Desta! Aku sangat ingin bisa bersama Desta atau paling tidak dia ingat dengan hari ulang tahunku. Hhh, Lagi-lagi tanpa sadar aku mengingatnya.


“Anggie?” Panggil Brian karena aku tak menjawab.


“Maaf. Aku lagi mikir nih pingin oleh-oleh apa.” Jawabku berbohong.


Brian tertawa. “Apa kamu mau nyusul aja besok pagi? Aku kirim tiketnya via email sekarang.


Aku menggeleng tanpa sadar. “Nggak perlu Bri. Lain kali kalau kamu nggak kerja aja. Nanti malah kamu sibuk ajak aku jalan-jalan.”


“Okay. Kamu nggak tidur?”


“Ini mau tidur, kamu sendiri nggak istirahat malam-malam gini baru pulang kerja?”


Brian tertawa. “Iya aku


juga mau istirahat nih, nggak tenang kalau nggak ucapin langsung ke kamu.”


“Malem Bri.” Kataku mengakhiri percakapn kami.


“Malem Gie.”

__ADS_1


“Hhh.” Aku kembali menghela nafas. Hampir pukul dua dini hari, namun tetap tidak ada pesan dari Desta. Pengirim pesanku tetap sama Erika, Tania, Nino, Fanny, Tristan, Eriko, Kevin, Rena, Kelvi, dan tentunya Evan.


                                                                        ♥♥♥♥


There's only so many songs, that I can sing to pass the time


And I'm running out of things to do, to get you off my mind (Oh ohh)


All I have is this picture in a frame


That I hold close, to see your face every day


With you is where I'd rather be


But we're stuck where we are


And it's so hard, you're so far


This long distance is killing me


I wish that you were here with me


But we're stuck where we are


And it's so hard, you're so far


This long distance is killing me


It's so hard, it's so hard


Where we are, where we are


You're so far, this long distance is killing me


It's so hard, it's so hard


Where we are, where we are


You're so far, this long distance is killing me


Now the minutes feel like hours and the hours feel like days


You know right now I can't be home but I'm coming home soon, coming home soon


All I have is this picture in a frame


That I hold close, to see your face again (Ohh!)


With you is where I'd rather be


But we're stuck where we are


And it's so hard, you're so far


This long distance is killing me


I wish that you were here with me


But we're stuck where we are


And it's so hard, you're so far


Can you hear me cryin'? (Ohhh!)


Can you hear me cryin'? (Ohhh!)...


Can you hear me cryin'? (Ohhhhh!)


With you is where I'd rather be


But we're stuck where we are


And it's so hard, you're so far


This long distance is killing me


I wish that you were here with me


But we're stuck where we are

__ADS_1


And it's so hard, you're so far


This long distance is killing me


It's so hard, it's so hard


Where we are, where we are


You're so far, this long distance is killing me


It's so hard, it's so hard


Where we are, where we are


You're so far, this long distance is killing me


There's only, so many songs, that I can sing, to pass the... time


“Destaa!” Sapa Erine saat melihatku.


“Kapan datang?” Selidikku, karena semenjak tadi aku tak mendengar adanya pintu terbuka atau langkah kaki mendekat.


“Sebelum kamu main piano.” Jawabnya. “Lagunya buat aku waktu di Kanada ya?”


Aku mendengus tak peduli. Memang lagu ini bercerita tentang long distance, namun bukan berarti hubungan yang terpisahkan jarak tempat. Bisa jadi, jarak seperti yang terjadi antaraku dan Anggie.


“Dest, kok diam aja sih?” Tanyanya kesal.


“Bukan buat lu Rin, puas?”


“Terus buat siapa?”


“Bukan urusan lu.” Jawabku kesal. “Ngapain ke sini?”


“Kamu tidak ingat ini hari apa?”


“Ingat. Ini hari minggu.” Jawabku malas.


“Minggu, tanggal 11 November ingat?”


Aku mengangguk bahwa aku ingat dengan tanggal dan waktu saat ini, namun menurutku tak ada yang sepesial dari itu semua.


“Desta! Aku ulang tahun, masa kamu nggak ingat?”


Aku membulatkan bibirku tak peduli, memangnya bila dia berulang tahun apa yang harus kuperbuat?


“Just that?” Tanyanya tak puas.


“Terus lu mau apa? Gue bilang selamat ulang tahun, semoga cepat pergi dari kehidupan gue. Gitu?” Balasku kesal.


“Desta!Serius sedikit.” Pintanya.


“Gue serius.” Tegasku, karena memang itu yang aku mau.


“Ngapain sih lu ke sini terus? Ganggu saudara gue tahu nggak!” Potong Erika tak suka melihat Erine.


“Lu nggak sopan banget sih jadi orang? Nggak heran deh cocok sama si Anggie, satu otak sama-sama nggak


punya etika! Udah tahu Desta lebih tua, sok banget akrab panggil aku kamu.”


“Lu tuh nggak punya etika di rumah orang! Lagian suka-suka Anggie dong mau panggil Desta gimana.”


"Kok lu nyolot banget sih Er?” Tanya Erine kesal. “Lu tahu kan gue ini pacar Desta!”


“Pacar?” Tanya Erika tertawa tak percaya. “Desta masih normal, buat bisa lihat mana cewek yang pantas buat dia mana yang nggak.”


“Erika!” Seru Erine.


“Apa?” Tanya Erika. “Nggak suka? Gue tahu lu terkenal, tapi itu bukan hal yang bisa dibanggain! Gue juga tahu Desta nggak suka sama lu, lunya aja bebal masih aja kejar-kejar dia terus. Mending lu pergi deh dari sini, rusak pemandangan!”


“Pergi?” Tanya Erine tak percaya.


Erika mengangguk. “Iya pergi. Bisa bahasa Indonesia kan?”


“Dest. Kenapa kamu nggak bantu aku?” TanyaErine kesal.


“Karena gue setuju sama saudara gue.”


                                                            ♥♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2