TeaAmore

TeaAmore
Episode 7 - First Kiss


__ADS_3

Sejak pertemuan keluarga, hubunganku tidak hanya direstui oleh orangtua Desta namun sang adik Erika begitu ingin kami benar-benar serius menjalin hubungan. Contohnya, seperti saat ini Ia sengaja mengajak kami menikmati makan siang dengan konsep perdesaan.


Uniknya tidak hanya suasana sejuk dan rindang yang bisa dirasakan, namun juga para pengunjung bisa dengan bebas menaiki perahu di atas danau hanya dengan membayar Rp 20.000,-.


Tentunya Ia tak kehabisan akal membuatku dan Desta memiliki waktu berdua, dengan sengaja Erika memesan perahu untuk kami dan beralasan bahwa tiba-tiba dirinya merasa pusing dan mual, sehingga ingin duduk saja.


“Sial banget sih gue.” Gerutuku ketika perahu telah menjauh dari daratan.


“Sial?” Tanya Desta bingung.


“Iya sial.” Tegasku. “Nih ya pemandangan bagus. Suasana enak. Eh naik perahunya sama lu. Menurut lu apa


faedahnya? Romantis juga nggak kan jadinya!”


“Ih dipikir gue mau harus begini?”


“Terus kenapa nggak nolak?” Protesku.


“Kalau bisa gue mau, tapi adik gue nggak cuma maksa tapi ngancem akan kasih tahu orangtua gue kalau kita sandiwara. Terus kalau gue jadinya dijodohin, Evan…”


“Iya ya Evan akan tahu kita juga sandiwara.” Potongku kesal.


“Nah, itu lu pintar.” Jawabnya dengan menekankan kata-kata pintar, seakan meledekku.


“Lu kenapa manyun-manyun kayak ikan koi?” Tanyanya geli menatapku, yang tanpa sadar memajukan bibir karena kesal padanya.


Belum sempat aku membalas apa yang Ia katakan padaku, tiba-tiba butiran air hujan dengan cepat membasahi kami. Aku hanya bersyukur, karena saat ini sama sekali tidak membawa tas yang berisikan ponsel dan berbagai macam barang berharga.


“Ini pakai jaket gue.” Tawar Desta padaku dan memberikan jaket yang digunakan. Aku hanya diam dan menatapnya tak percaya, karena Ia bisa berbuat baik dan lembut padaku.


“Anggie.” Panggilnya karena aku hanya terdiam dan tak segera mengambil jaket miliknya.


“Ehm. Ki. Kita pakai berdua aja.” Tawarku padanya.


Desta mengangguk dan memegang ujung jaket bagian kiri dan aku kanan. Aku tersenyum melihatnya yang saat ini juga tersenyum melihatku. Sehingga mata kami saling menatap satu sama lain. Tatapannya yang semakin dekat, membuat getaran aneh di dalam tubuhku. Dan ‘Deg.’ Jantungku berhenti berdetak seketika.


                                                                        ♥♥♥♥


Aku masih tak menyangka, hanya karena rencana Erika yang mengajakku dan Anggie pergi menikmati makan di danau membuatku menciumnya! Memang hal ini sama sekali diluar perkiraanku, namun aku tak mengira akan menikmati saat itu dan ingin waktu berhenti.


Namun momen manis tersebut hanya berlangsung sesaat, sebelum Anggie menyadari dan langsung membuang wajahnya. Bahkan Ia menjadi sangat diam selama perjalan pulang dan berlanjut dengan menghindari telfonku.


Pastinya bukan hanya Anggie saja yang dibuat salah tingkah, aku pun demikian. Bagaimana tidak? Selama dekat


dengan berbagai macam wanita, ini adalah pertama kalinya aku mencium seseorang.


“Hhh.” Dengusku, menatap pintu apartemen Anggie. Sebenarnya, aku sendiri masih merasa canggung untuk bertemu dengannya. Namun karena tak kunjung ada kabar, dan orangtuaku ingin Ia ikut dengan acara natal keluarga, aku pun harus kemari.


“Gie. Anggie.” Panggilku. “Gue mau bicara sama lu.” Lanjutku karena tak ada tanda-tanda Anggie akan membukakan pintu untukku.


“Anggie.” Panggilku lagi. “Apa perlu gue bilang sama satpam. Kamar sembilan tiga belas telah mencuri di kantor gue.” Candaku.

__ADS_1


“Gue sibuk. Jangan ganggu gue!” Sahutnya dari balik pintu.


“Lu kenapa?” Tanyaku ingin tahu. “Gue telefon, nggak lu terima. Gue sms, lu nggak bales.”


“Emang lu siapa gue?” Tanyanya.


“Gue itu pacar lu, di depan keluarga gue dan Evan.” Kataku menjelaskan hubungan kami. “Buka pintunya Gie, gue mau ngomong.”


“Ngomong apa?”


 “Bentar.” Kataku padanya dan menunduk untuk mencuri lihat wajahnya. “Pipi lu kenapa jadi merah?”


“Diam ah! Nggak usah lihat-lihat. Cepet mau ngomong apa?”


“Ah lu masih ingat ciuman kita kemarin?” Candaku.


“Lu yang cium gue!” Serunya kesal. “Ayo mau ngomong apa?” Desaknya lagi.


“Tapi lu menikmati kan?”


“Lu mau ngomong apa?” Tanyanya tak peduli pada pertanyaanku. “Kalau nggak jadi ngomong pulang aja.”


“Mau ciuman lagi nggak sama gue?” Tanyaku kembali bercanda.


 “Desta! Gue itu serius.” Cubitnya.


Aku tertawa geli. “Iya iya. Jadi gini, orangtua gue mau ajak lu ikut acara natal keluarga. Bisa kan?”


                                                                        ♥♥♥♥


Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan! Sudah seminggu lamanya, namun aku sama sekali tidak bisa melupakan saat-saat Desta yang menciumku dan bisa-bisanyaaku ikut menikmati dan membalas ciumannya.


Coba ada mesin waktu seperti milik doraemon, aku pasti akan menolak ajakan Erika yang meminta kami naik perahu. Ah sayang saja peristiwa itu tidak bisa aku hindari.


“Gie.” Panggil Erika membuyarkan lamunanku. “Desta emang bilang jam berapa janjiannya? Tumben-tumbenan dia nggak on time.”


“Jam 11 Er. Oh iya ini udah jam 12 ya. Dia kemana ya?”


“Eh itu Desta.” Seru Erika. “Lho Dest, lu kenapa? Kok bisa babak belur sih? Berantem sama siapa?”


“Lu nggak apa-apa?” Tanyaku khawatir melihat kondisi wajahnya yang memar, serta kaki dan tangannya mengalami luka yang sama.


Desta menggeleng dan tersenyum padaku, seakan mengatakan, “Nggak perlu khawatir.” Walaupun aku bisa melihat dia sedang menahan rasa sakit.


“Gie, gue cari obat dulu. Tolong bawa Desta ke atas ya.” Pinta Erika padaku.


Aku mengangguk setuju dan menopang badan Desta pada tubuhku. Rasanya begitu konyol karena di saat seperti ini bisa-bisanya wajahku terasa panas karena gugup berada sangat dekat dengannya.


“Lu bisa khawatir sama gue juga.” Kata Desta memecah hening di antara kami.


“Nggak.” Jawabku berbohong.

__ADS_1


“Kalau gitu kenapa bantu gue?”


“Iya karena. Karena. Karena Erika minta tolong.” Kataku terbata setelah berpikir mencari jawaban tepat agar Ia tak berpikir aku simpati padanya.


“Oh iya kenapa lu bisa babak belur gini sih?” Lanjutku mengalihkan topik agar Ia tak terus menggodaku.


“Evan.”


“Evan?” Tanyaku terkejut dan tak percaya. “Lu berantem sama dia karena gue?”


Desta tertawa dan mencubit pelan pipiku. “Ya nggak lha! Ngapain juga. Kalau dia mau ambil lu gue kasih, dibanding muka ganteng gue jadi lebam gini.”


“Iya sih.” Jawabku setuju, karena apa yang dikatakan Desta benar. Buat apa Ia harus berkorban untuk aku yang


hanya sekedar sandiwara dengan dirinya?


                                                                        ♥♥♥♥


Suasana TeaAmor, selalu saja membuatku merasa nyaman. Walaupun sendirian dan berlama-lama di sini, perasaan bosan seakan tak pernah menghampiri. Di malam hari, aku akan memilih duduk di meja bagian belakang agar tak terganggu dengan orang-orang yang berlalu lalang maju untuk menikmati musik jazz lebih dekat.


Saat ini, keadaan TeaAmor sangat ramai. Karena musik jazz akan di mulai beberapa menit lagi. Sehingga tak mengherankan, dari banyaknya meja yang ada hanya tersisa satu yang kosong di sampingku.


 “Lu ngapain di sini?” Tanyaku pada Desta, yang saat ini dengan seenaknya telah duduk manis di sampingku. Kenapa juga dia bisa berada di sini. Jangan-jangan… “Lu ikutin gue ya?”


 “Emang ini kafe, punya nenek moyang lu?” Tanyanya melihat sekeliling, untuk memastikan apa TeaAmor ini bukan tempat umum.


 “Lu pikir, nenek moyang gue masih hidup?” Tanyaku kesal padanya. “Masalahnya itu kenapa lu duduk di tempat gue?”


 “Suka-suka gue dong, ini kan tempat umum.”


Aku diam, dan berdecak-decak kesal sendiri. Entah kenapa dia selalu dapat menjawab dengan benar dan justru membuatku terdiam karena kesal. “Lu kenapa nggak pilih bangku lain? Kenapa harus gue yang lu ganggu hidupnya!”


“Bangku lain penuh.” Jawabnya tersenyum seakan sedang melakukan pemotretan iklan pasta gigi.


“Anggie.” Sapa Evan tersenyum manis padaku.


Argh! Seruku dalam hati. Gila, rasanya sehari pun aku tak bisa beristirahat dengan tenang. Ada saja pertemuan


menyebalkan bersama Desta dan sekarang harus bertemu lagi dengan Evan!.


“Kebetulan kita bertemu.” Lanjutnya ramah dan mengambil kursi di sampingku.


“Gue mau pamit, gue mau pergi ke Solo.”


“O.” Jawabku tanpa peduli. Karena sekalipun Evan pergi ke Jepang, Amerika, bahkan keluar dari Bumipun aku tak peduli! Lagi pula hanya pergi dekat-dekat sini saja, kenapa juga harus bilang padaku.


“Tapi tenang. Gue bakal balik buat lu Gie.”


Lagi-lagi aku hanya menjawab “O.” tanpa peduli pada Evan, karena menurutku tak ada untungnya berbicara dengan orang seperti dia, hanya buang-buang waktu dan energi.


“Dest.” Lanjutnya berbicara pada Desta. “Inget gue bakal kembali buat Anggie.”

__ADS_1


                                                                        ♥♥♥♥


__ADS_2