TeaAmore

TeaAmore
Episode 16 - Canggung


__ADS_3

“Agh!” Kataku terkejut ketika bola basket mengenai kepalaku.


Aku melihat Desta berlari ke arahku, kejadian ini sama dengan yang terjadi dua tahun lalu. Namun bedanya


saat itu aku masih tak ingin mengakui bahwa tertarik dengannya, sedangkan saat ini terlalu terlambat dijelaskan.


“Kamu nggak kenapa-kenapa?” Tanyanya khawatir.


“Nggak.” Balasku tanpa melihat Desta, takut untuk membuatku tak yakin menjauh.


“Temeni aku main, mau?” Tawarnya menghentikanku yang ingin segera pergi.


“Main?” Jawabku ragu.


“Iya. Yuk.” Pintanya dan  langsung menarik tanganku menuju lapangan.


Aku benar-benar hanyut dalam genggaman tangan Desta, seakan tak ingin melepaskan dan menganggap kejadian yang kami lalui hanyalah mimpiku.


Aku ingat bagaimana kami sering menghabiskan waktu bermain basket di lapangan ini, walaupun hanya menontonnya bermain sambil menikmati segelas ice cream dengan beberapa gorengan, namun melihatnya saja membuatku senang.


“Dest.” Kataku sadar bahwa hal ini salah. “Kamu tahu aku nggak bisa main, jadi aku balik aja ya.” Pamitku, agar tidak terjebak terlalu lama dengannya.


“Iya udah, kali ini aku benar-benar mau ajari kamu. Nggak boleh nolak, oke?” Pintanya.


Aku terdiam seakan hatiku saling bertarung satu sama lain, mempertahankan keingannya. Namun akhirnya penolakan yang ingin terucap dibibir berhasil dikalahkan oleh genggaman lembut tangan Desta di kedua tanganku.


“Nah ini cara dribble bola yang benar.” Jelasnya padaku.


Aku mengangguk mengerti, walaupun sebenarnya pikiranku lebih fokus pada jarak kami yang begitu dekat. Walaupun gugup, namun perasaan nyaman dengan cepat memenuhi hatiku, seolah aku lupa akan perasaan sakit ini.


Tanpa terasa matahari mulai terbenam, namun tawa dibibirku seakan tak ingin berhenti. Kami masih saling merebutkan bola satu sama lain layaknya dua anak kecil, bahkan tanpa Desta sadari Ia telah memelukku empat kali karena ingin mengambil bola yang kupeluk erat di perutku.


“Kalian berdua ngapain di sini?” Tanya Erine menyelidik.


“Terserah kami mau ngapain.” Jawab Desta acuh.


“Terus lu ngapain ke tempat Desta?” Selidiknya kepadaku yang hanya diam, karena terkejut.


“Terserah dia dong mau kemana, bukan urusan lu kan?” Potong Desta membantuku.


“Aku nggak tanya kamu Dest!” Teriak Erine kesal.


“Apa bedanya?”


“Beda dong! Dia ya dia, kamu ya kamu!”


 “Sorry.” Potongku tak ingin mereka bertengkar. “Gue nggak ada maksud apapun kok.”


“Nggak ada maksud apapun? Tapi ketawanya bahagia banget ya?” Sindirnya tak suka melihat kedekatanku dengan Desta.


“Erine!” Bentak Desta.


“Udah Dest.” Potongku menenangkannya. “Gue pergi dulu ya, maaf ganggu kalian.” Lanjutku meninggalkan


mereka berdua yang masih beradu mulut bahkan ketika aku telah menjauh.


“You and me, we made a vow


For better or for worse


I can't believe you let me down


But the proof's in the way it hurts


For months on end I've had my doubts


Denying every tear


I wish this would be over now


But I know that I still need you here.


You say I'm crazy


'Cause you don't think I know what you've done


But when you call me baby


I know I'm not the only one.


You've been so unavailable


Now sadly I know why


Your heart is unobtainable


Even though Lord knows you kept mine


You say I'm crazy


'Cause you don't think I know what you've done


But when you call me baby


I know I'm not the only one


I have loved you for many years


Maybe I am just not enough


You've made me realize my deepest fear


By lying and tearing us up


You say I'm crazy

__ADS_1


'Cause you don't think I know what you've done


But when you call me baby


I know I'm not the only one


I know I'm not the only one


I know I'm not the only one


And I know, and I know, and I know..


And


I know, and I kno, And I know...


I know I'm not the only one.”


                                                                        ♥♥♥♥


“Kalian berdua ngapain di sini?” Tanya Erine menyelidik.


“Terserah kami mau ngapain.”


“Terus lu ngapain ke tempat Desta?” Selidiknya kepada Anggie, karena tak puas dengan jawabanku.


“Terserah dia dong mau kemana, bukan urusan lu kan?” Potongku kesal.


“Aku nggak tanya kamu Dest!” Teriak Erine tak kalah kesal.


“Apa bedanya?”


“Beda dong! Dia ya dia, kamu ya kamu!”


 “Sorry.” Potong Anggie menengahi. “Gue nggak ada maksud apapun kok.”


“Nggak ada maksud apapun? Tapi ketawanya bahagia banget ya?” Sindirnya tak suka pada Anggie.


“Erine!” Bentakku melihatnya semakin menjadi-jadi.


“Udah Dest.” Potong Anggie menenangkanku “Gue pergi dulu ya, maaf ganggu kalian.”


“Dest mau kemana?” Tanya Erine menarik tanganku, karena aku ingin mengejar Anggie.


“Suka-suka gue Rin mau kemana! Bisa nggak, nggak ganggu gue?” Tanyaku kesal.


“Dest, aku sayang kamu! Yuk kita balikan lagi.” Pintanya penuh harap.


“Rin gue nggak pernah cinta sama lu.” Jelasku berusaha sabar. “Cari pria yang mau sama lu, bukan kejar-kejar orang yang nggak cinta sama lu kayak gini.”


“Kamu kenapa sih? Bukannya senang ya cewek secantik aku mau sama kamu?”


“Nggak ada gunanya ngomong sama lu ya Rin! Bebal banget jadi orang.” Jawabku kesal, dan meninggalkannya.


Memang kebodohanku berpikir bahwa sikapku saja cukup untuk membuat Anggie tahu bahwa aku mencintainya.


Aku mengambil gitar di samping mejaku, perlahan aku melantunkan lagu “Let Her Go”. Entah untuk menghibur waktu kosongku atau hanya ungkapan sakitnya perasaanku


“Well you only need the light when it's burning low


Only miss the sun when it starts to snow


Only know you love her when you let her go


Only know you've been high when you're feeling low


Only hate the road when you’re missin' home


Only know you love her when you let her go


And you let her go


Staring at the bottom of your glass


Hoping one day you'll make a dream last


But dreams come slow and they go so fast


You see her when you close your eyes


Maybe one day you'll understand why


Everything you touch surely dies


But you only need the light when it's burning low


Only miss the sun when it starts to snow


Only know you love her when you let her go


Only know you've been high when you're feeling low


Only hate the road when you're missin' home


Only know you love her when you let her go


Staring at the ceiling in the dark


Same old empty feeling in your heart


'Cause love comes slow and it goes so fast


Well you see her when you fall asleep


But never to touch and never to keep

__ADS_1


'Cause you loved her too much


And you dived too deep


Well you only need the light when it's burning low


Only miss the sun when it starts to snow


Only know you love her when you let her go


Only know you've been high when you're feeling low


Only hate the road when you're missin' home


Only know you love her when you let her go


And you let her go (oh, oh, ooh, oh no)


And you let her go (oh, oh, ooh, oh no)


Will you let her go?


'Cause you only need the light when it's burning low


Only miss the sun when it starts to snow


Only know you love her when you let her go


Only know you've been high when you're feeling low


Only hate the road when you're missin' home


Only know you love her when you let her go


'Cause you only need the light when it's burning low


Only miss the sun when it starts to snow


Only know you love her when you let her go


Only know you've been high when you're feeling low


Only hate the road when you're missin' home


Only know you love her when you let her go


And you let her go.”


                                                                        ♥♥♥♥


“Bagus.” Kataku tanpa sadar. Aku merasa lega tidak melihat adanya Desta dan Erine. Perasaan cemburu sekaligus tak enak telah membuat mereka bertengkar masih menyelimuti hatiku. Rasanya sama sekali tidak mudah melupakan seseorang yang pernah mengisi hariku.


“Bagus?” Tanya Brian bingung. “Apanya Gie yang bagus?”


“Ehm.” Aku menatap sekeliling, berharap menemukan jawaban. “Ini Dekorasi. Dekorasinya bagus.”


“Ini pertama kali kamu bilang tempat makan bagus. Selama ini aku kira kamu nggak peduli. Walaupun aku bingung, dari segi mana kamu bilang ini bagus.”


“Ehm. Itu.” Jawabku terputus, karena dibandingkan dengan semua tempat makan yang telah kami coba, tempat ini


termasuk sederhana. Brian selalu mengajakku makan di restoran mewah, glamour, dan berkelas. Sedangkan kali ini, hanya restoran sushi dengan konsep tradisional. “Karena aku suka makan di tempat yang kesan tradisionalnya


kental.”


Brian mengangguk seakan percaya. Walaupun aku sendiri tidak yakin penjelasanku bisa diterima, tapi setidaknya dia tidak bertanya lebih lanjut.


“Bagus kalau kamu suka. Lain kali aku akan cari tempat dengan konsep seperti ini.”


Aku mengangguk setuju.


“Sushi di sini enak. Benar-benar seperti makan sushi di Jepang.” Jelas Brian. “Kamu harus coba sushi volcano.


Rasanya gurih, pedas tapi pas di lidah.” Lanjutnya menjelaskan padaku, dengan menunjukan menu-menu yang ada.  “Kamu juga harus coba dragon roll, rasa enaknya banget!”


Aku tertawa melihat antusias Brian semanjak tadi. Dia selalu baik padaku, bahkan tak pernah sekalipun membuatku kesal dengan sikapnya. Namun seperti seseorang yang telanjur cinta pada orang lain, seakan semua nilai positif Brian tak bisa membuatku mencintainya.


“Jadi kamu mau apa?” Tanya Brian.


“Ehm. Aku mau yang...”


“Gie.” Potong Brian.


“Ya.”


“Itu teman kamu bukan? Yang pernah berapa kali datang ke apartemen kamu.” Lanjutnya menunjuk ke arah pintu masuk “Ehm. De. Desta. Iya yang namanya Desta.”


“Desta.” Kataku dalam hati, untuk apa dia datang ke sini? Walaupun aku tahu ini tempat umum, tapi dari sekian banyak restoran sushi yang ada kenapa harus ke sini.


“Gie.” Panggil Brian, karena aku hanya terdiam menatap ke arah Desta dan Erine.


“Oh. Iya benar itu Desta.” Jawabku. “Pacarnya cantik bukan? Dia model. Namanya Laurensia Erine.”


Brian menggeleng. “Nggak. Terlalu kurus! Lagi pula reputasinya buruk.”


“Kamu tahu dari mana?” Tanyaku takpercaya.


“Banyak rekan bisnisku yang berurusan dengan Erine.”


Aku mengangguk tanda mengerti. “Tapi menurutku dia cantik, walaupun menurut kamu kurus. Soalnya bagi kita cewek, badan seperti itu ideal.” Kataku jujur tanpa maksud memujinya.


Brian tertawa dan mengenggam kedua tanganku. “Gie.” Katanya. “Menurut aku kamu lebih cantik dari dia. Bahkan kamu bisa bikin aku selalu jatuh cinta seperti ini.”


Aku tersenyum membalas pujian Brian untukku, walaupun dia selalu memujiku dan mengatakan mencintaiku,


namun perasaan senang bagaikan memiliki perasaan sama satu lain tak kunjung kurasakan, sekalipun kami telah bersama berbulan-bulan.

__ADS_1


__ADS_2