
Hari ini sepupuku kebetulan mampir dari Bali dan ingin mengajakku menikmati sushi yang cukup terkenal di daerah Jakarta, dan kebetulan Erine telah menungguku di kantor. Alhasil kami akhirnya harus pergi bertiga seperti ini.
Walaupun aku lebih banyak terdiam, karena sepupuku Lorita sibuk berbicara dengan Erine, namun terjebak
bersama dia membuatku merasa telah membuang waktu secara percuma.
“Brian.” Sapa Erinemembuyarkan lamunanku yang tak sadar bahwa kami telah memasuki Restoran yang dituju sebelumnya.
“Oh. Hallo.” Sapa Brian tersenyum menjabattangan Erine.
Brian mengijinkan kami bertiga duduk bersamanya, aku tidak tahu apa yang ingin dilakukannya. Namun aku sangat tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini.
“Brian dekat sama Anggie?” Tanya Erine menyelidik.
Brian tersenyum dan mengangguk. “Iya, sudah lama banget kami dekat.”
“Hubungan kalian?”
“Sekarang sih masih belum resmi, tapi nggak masalah selama bisa selalu di dekatnya.” Jelas Brian tersenyum.
“Lu tahu kalau Anggie dekat dengan Desta?”
Brian mengangguk.
“Bukan sekedar dekat, tapi sangat dekat! Apa lu nggak curiga ada sesuatu di antara mereka?”
Brian tersenyum. “Nggak masalah Anggie mau dekat sama siapa, selama dia bahagia.” Jawabnya bijak dan
membuat Erine terdiam.
“Kalian sendiri rekan kerja atau gimana nih?” Tanya Brian.
“Bukan…”
“Couple.” Potong Erine.
“Wah! Kapan jadian?” Tanya Brian lebih cepat, sebelum aku bisa menjelaskan bahwa tidak ada apapun di
antara kami.
“Ssts Bri, kamu kepo banget deh!” Bisik Anggie mencubit lengan Brian.
Brian tertawa. “Kamu kapan nih mau jadi pasanganku?”
♥♥♥♥
“Hhh.” Ternyata memang mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Penjelasan Erine lebih dari cukup. Sebenarnya tanpa Ia menjelaskan pun seharusnya aku sudah sadar bahwa Desta telah memilihnya.
Aku menghapus air mataku, rasanya perasaan sakit ini seakan tak ingin pergi dan terus mengendap di hatiku. Desta membawa pergi semua perasaan bahagiaku bersamanya, tanpa meninggalkan sedikitpun kebahagian kecil untuk kurasakan bila tanpanya.
“Aku benci Desta. Sangaaaat benci!!” Teriakku kesal, berharap rasa sakit ini segera hilang.
Aku berdiri dan melihat jam dinding, yang menunjukan 11:45. Siapa yang datang malam-malam seperti ini? Apa mungkin Desta?
“Hahaha.” Aku menertawakan diriku sendiri, yang masih dengan bodoh berharap padanya. Namun semakin aku mendekati pintu, perasaan mengharapkan kehadirannya semakin besar, seolah hatiku menolak melupakannya.
“Anggie.” Sapanya memelukku erat saat pintu terbuka.
Aku tidak tahu apa yang kulakukan, tapi air mataku keluar dengan sendirinya. “Desta, kamu mabuk?” Tanyaku setelah sadar dan melepaskan diri dari pelukannya.
“Aku nggak mau kehilangan kamu Gie.”
Aku tertawa, bagaimana mungkin ucapan seseorang yang sedang tak sadar bisa dipercaya?
__ADS_1
“Gie. Erine itu...”
“Iya aku tahu kalian pacaran, stop jelasin nama dia depanku!” Teriakku tanpa sadar, karena kesal.
“Aku sayang kamu!” Serunya seakan ingin aku percaya.
Aku mengambil nafas, berusaha menjernihkan pikiranku. Ingin rasanya aku percaya, namun pada kenyataan Erine pun telah menjalaskan bahwa mereka telah pacaran. Apalagi yang harus kuharapkan?
“Kamu lagi berantem sama Erine?” Tanyaku berpura-pura tak mendengar ucapannya.
Desta mendekatkan wajahnya denganku. “Aku sayang kamu Gie.”
“Dest, please kamu pulang aja.” Pintaku memundurkan wajahku.
“Aku nggak mau pulang Gie, aku nggak mau ketemu Erine.”
“Pergi Dest!” Pintaku.
Aku terduduk lemas di depan pintu.Rasanya sulit mengusirnya seperti ini, namun ucapan dari seseorang yang sedang di bawah pengaruh alkohol sama sekali bukanlah pilihan tepat untuk mempercayainya.
Bisa jadi Ia demikian karena bertengkar dengan Erine dan membuatnya melantur berkata hal yang tidak-tidak karena merasa bersalah denganku.
“Hhh. Kenapa kamu harus hadir dalam hidupkuDest?” Kataku lirih. “Kalau kamu cuma hadir buat bikin aku jatuh cinta, harusnya ketika kamu pergi, ajarin aku gimana cara menghentikan perasaan ini!”
“Bags
all packed, make sure you remember everything
No looking back, no more, not for anything.
This is what you wanted, isn't it?
Clear it out just like you've never been
There's nothing left of you to remind me
But somehow you're still standing behind me
I'm trying hard to forget you
But my empty walls won't let me let you go
When you took it all, you forgot your shadow
You say you wish me well without you
But something 'bout you tells me that you know, oh oh
When you took it all you forgot
Your shadow, your shadow
When you took it all you forgot
Your shadow, your shadow, your shadow, oh oh
Hide all your photographs,
But I can feel you watching me
How long does your memory last?
It's time I ought to be
__ADS_1
Moving on and getting over you
I bet it looks like I'm not even trying to
Here all alone, my past on the walls
With nothing left of you to remind me
So why are you still standing behind me
I'm trying hard to forget you
But my empty walls won't let me let you go
When you took it all, you forgot your shadow
You say you wish me well without you
But something 'bout you tells me that you know, oh oh
When you took it all you forgot
Your shadow, your shadow
When you took it all you forgot
Your shadow, your shadow, your shadow, oh oh
It's always there, too close, too much
The shape of something I can't touch
I turn, and find the shadow's grown
Those empty eyes I begged to stay
Are watching me from yesterday
You can leave me, can you leave me alone?
I'm trying hard to forget you
But my empty walls won't let me let you go
Let me go
You say you wish me well without you
But something 'bout you tells me that you know, oh oh
When you took it all you forgot
Your shadow, your shadow
When you took it all you forgot
Your shadow, your shadow, your shadow, oh oh
When you took it all you forgot
Your shadow, your shadow
Bags all packed, make sure you remember everything.”
__ADS_1