
Beradapatasi bukanlah hal yang kusuka, menurutku berjumpa pada sesuatu yang baru sama saja dengan melepaskan zona nyaman. Memang terdengar bahwa aku seperti seseorang yang tak suka mencoba,
namun semua orang pasti akan memiliki terus dalam keadaan ternyamannya bukan?
“Aagh!” Teriaku kesal. Rasanya semua ini seperti mimpi! Bagaimana tidak? Setiap saat hanya kegelapan yang kulihat! Bahkan aku tidak bisa mengetahui berapa lama diriku menghabiskan waktu untuk meratapi kekesalanku.
Seakan Tuhan tak ingin aku bahagia, orangtuaku sudah tak lagi peduli padaku karena menganggapku sebagai masa lalu dari mantan pasangan yang dibencinya. Bahkan sekarang aku tak bisa lepas dari tongkat yang membantuku berjalan walau hanya selangkah!
Aku kembali memejamkan mataku, berusaha membuat badanku rilek agar tak terlalu banyak berpikir.
“Agh!” Pekikku karena mendadak rasanya kepalaku terasa sakit dan berputar hanya karena berusaha mengingat
kenapa hal ini bisa menimpaku.
“Pagi. Sudah puas kamu teriak-teriaknya?” Tanya Brian meledek.
Aku tersenyum dan membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk. “Sedikit.”
Brian tertawa. “Ya udah kamu hati-hati ya di rumah! Kalau ada apa-apa langsung telfon aku. Inget kan caranya?”
“Call Brian.”
“Yap! Nanti otomatis kamu langsung telfon aku. Ya udah aku berangkat dulu ya.” Pamitnya, mencium keningku.
“Bri.” Panggilku. “Kenapa ya tiap aku ingat kejadian sebelum kecelakaan kepalaku selalu sakit? Memang kamu nggak tahu aku bisa kecelakaan kenapa?”
“Kamu jangan terlalu banyak mikir. Nanti nggak sehat-sehat! Okay?” Pintanya lembut. “Oh iya nanti siang aku datang lagi untuk makan. Dadaah.”
Aku tersenyum dan tersadar bahwa setidaknya walaupun orangtuaku tak lagi peduli, Brian masih ada dan begitu
menyanyangiku.
♥♥♥♥
Aku selalu berpikir bahwa bagi mereka yang kondisinya sama sepertiku belajar huruf braille akan mudah,
nyatanya meraba-raba titik dalam setiap kata tak semudah bayangan. Sehingga aku
lebih memilih mencari informasi dengan mendengarkan televisi atau radio.
Walaupun tak bisa melihat dan menangkap yang disampaikan sebuah acara dengan sempurna, setidaknya hal ini
menghibur dan membuatku terbebas dari rasa bosan.
“Selamat pagi permirsa. Jumpa lagi dengan saya Rianti Kusuma di acara BBS. Bincang-bincang Selebriti. Pagi ini
BBS kedatangan tamu istimewa, seorang model internasional yang sempat memutuskan kembali berkarir di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Laurensia Erine.” Jelas Presenter acara BBS, diikuti dengan tepuk tangan penonton dalam studio.
“Tentunya Laurensia Erine tak pernah mengecewakan, selalu cantik dan memukau!” Lanjutnya memuji bintang tamu yang hadir di acaranya.
Laurensia Erine tertawa renyah menanggapi pujian dari presenter BBS.
“Dengar-dengar anda akan kembali ke Kanada, setelah hampir dua tahun berada di Indonesia.”
__ADS_1
“Iya, tapi bukan berarti saya tidak cinta tinggal di Indonesia.”
“Wah lalu apa yang membuat anda ingin kembali ke sana? Bukankah waktu itu sempat ada gosip mengatakan kedatangan anda ke Indonesia karena ingin berjumpa dengan cinta pertama anda saat SMA?”
Laurensi Erine kembali tertawa. “Itu masa lalu, karena saya kembali ke Kanada selain untuk melanjutkan karir juga
menikah.”
“Menikah? Wah pasti penggemar anda patah hati yaa?”
“Saya akan selalu mencinta penggemar saya.” Jawabnya, diikuti dengan teriak senang penonton.
“Lalu siapa pria beruntung tersebut? Apa benar CEO agensi anda yang bernama Michael Leonardo?”
“Yes!” Jawabnya tersipu malu.
“Wah pastinya pernikahan anda akan menjadi spektakuler ya! Nah pemirsa, setelah jeda iklan berikut kita akan menggali lebih dalam kehidupan model cantik Laurensia Erine, jangan kemana-mana ya!”
Aku memejamkan mataku menahan nyeri di kepalaku. Rasanya ada sesuatu yang meledak-ledak dalam pikiranku saat mendengar nama Laurensia Erine, bahkan rasanya suaranya tak asing untukku.
“Anggie lu kenapa?” Tanya Tania khawatir.
Aku menggeleng. “Gue suka pusing sendiri.”
“Pusing? Kenapa nggak periksa dokter?”
"Masalahnya kepala gue pusing bukan karena sakit, tapi setiap gue merasa ada hal yang nggak asing, tapi nggak bisa ingat kenapa hal tersebut terasa familiar.” Jelasku. “Hm, apa kita pernah kenal dengan cewek yang barusan di TV?” Tanyaku memastikan.
“Laurensia Erine?”
“Dia kan mantan.” Jawabnya terpotong “Maksud gue model yang cukup terkenal itu.”
“Kita pernah nggak ketemu dia? Karena rasanya gue ngerasa suara dia nggak asing, tapi gue nggak suka lihat acara fashion show di TV.”
“Perasaan aja mungkin Gie.”
“Tapi Tan, nggak cuma kali ini aja lho gue ngerasa gitu.” Jawabku. “Walaupun gue nggak bisa lihat, tapi apartemen Brian terasa nggak asing. Bahkan setiap memikirkan hal itu kepala gue terasa sakit!”
“Gie lu tuh terlalu banyak mikir! Sekarang fokus aja sama kesehatan lu, okay?”
♥♥♥♥
Tidak bisa melihat membuat indra pendengaranku menjadi lebih tajam. Bukan karena aku ingin mengetahui apa yang orang lain bicarakan, namun karena tanpa sengaja suara mereka terdengar olehku.
Seperti malam ini, Brian memintaku menunggu sebentar karena dia memiliki urusan mendesak dan karena aku bosan seharian berada di apartementnya maka Ia mengijinkanku menunggu di Coffee Shop.
Aku sengaja memilih tempat duduk pada bagian dalam, agar sedikit jauh dari pengunjung lainnya. Namun meskipun demikian, aku tetap dapat mendengar percakapan mereka.
Dari samping kiri depan terdengar sepasang suami istri beradu argumen mengenai rencana perceraian
mereka dan siapa yang akan merawat kedua anaknya. Di samping kanan terdengar suara seorang anak kecil menangis mengajak orangtuanya pulang, karena sebentar lagi film kesukaanya akan tayang, dan di dekatku ada ibu-ibu yang sedang menolak jasa asuransi.
Aku memutar-mutar ponsel milikku. Seandainya penglihatanku masih ada, aku dapat menghabiskan waktu dengan bermain internet. Bukan seperti ini, hanya duduk terdiam dan mendengar percakapan orang.
__ADS_1
“Anggie.” Sapa seseorang membuyarkan lamunanku.
“Ehm, siapa ya?” Tanyaku menyelidikkarena merasa tak mengenal suaranya.
“Evan. Gue Evan.” Jawabnya mengulang namanya dua kali, seakan memberi penegasan bahwa aku
mengenalnya.
Evan? Nama yang tak asing di ingatanku, mengingat aku sangat suka pada aktor hollywood Chris Evan, namun tidak mungkin dia mengenalkudan bisa berbahasa Indonesia. Sedangkan bila Ia temanku di masa sekolah, kenapa aku tak ingat pernah sekelas dengannya?
Tapi seandainya dia salah menyapa seseorang, apa mungkin orang tersebut mirip dan juga memiliki nama yang sama denganku?
“Evan siapa ya?” Tanyaku memastikan, berharap bisa mengingatnya.
“Nicholas Evan. Mantan lu.” Jelasnya, membuatku terdiam karena bingung.
Nicholas Evan? Siapa dia? Kenapa aku sama sekali tak ingat pernah mengenal seseorang dengan nama tersebut? Lalu kenapa dia berkata bahwa Ia mantan pacarku, sedangkan aku merasa tak pernah mengenalnya.
“Sorry, mungkin lu salah orang. Karena gue nggak ingat punya teman namanya Evan apalagi mantan.” Jelasku.
Evan tertawa. “Nggak mungkin gue salah orang! Gue masih ingat dengan jelas gimana wajah lu, nggak ada yang berubah Nggie.” Jelasnya. “Nggak usah dingin lagi deh sama gue, apalagi pura-pura lupa. Gue tahu lu sama Desta dan sekarang gue udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama lu kok.”
Aku mengerutkan dahiku dan berusaha berpikir keras siapa di antara kami yang sedang membual? Bagaimana
mungkin aku yang tak mengenalnya bisa berpura-pura lupa, lalu siapa lagi pria yang disebutnya sebagai kekasihku saat ini?
“Benar deh gue nggak kenal sama lu dan gue nggak bohong.” Jawabku berharap Ia mengerti dan segera pergi.
“Gie please, nggak perlu pura-pura.”
“Gue serius!” Balasku kesal. “Ngapain juga bohong?”
“Ah gue tahu, kali ini lu nggak akan bisa ngelak kalau gue jujur satu hal.”
“Jujur soal apa?” Tanyaku tak mengerti.
“Lu ingat nggak Desta pernah pulang dalam keadaan memar? Mungkin dia nggak cerita kenapa bisa dapat luka
itu, tapi asal lu tahu hari itu kita berdua berantem supaya gue nggak ganggu lu lagi.”
Aku terdiam dan mungkin wajahku terlihat konyol karena tak mengerti apa yang dibicarakan olehnya. Walaupun rasanya ada perasaan tak asing ketika Ia menyebutkan nama Desta.
“Nggak ganggu gue gimana?” Tanyaku akhirnya setelah berhasil kembali fokus dan mencerna setiap kata-kata Evan.
“Dia siapa Gie?” Potong Brian yang datang menjemputku.
“Evan.”
“Teman kamu?”
Aku menggeleng. “Aku baru bertemu dia hari ini.”
Evan tertawa. “Lu cowok baru Anggie? Gue mantan Anggie.Sekarang gue tahu kenapa cewek lu pura-pura bego nggak kenal gue sama Desta.” Jelasnya seakan tahu kenapa aku bersikap demikian.
__ADS_1
“Kalau Anggie bilang nggak kenal jangan lu paksa. Okay? Gue percaya sama dia.” Jelas Brian dan meminta Evan pergi.
♥♥♥♥