
Sebulan berlalu sejak hari ulang tahunku, sejak saat itu aku sama sekali tak mendengar kabar Desta bahkan dia tak lagi mengupdate sosial media miliknya. Ia benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.
Sore ini aku memutuskan menghabiskan waktu di taman tempat perjumpaan pertama kami, entah apa yang membuatku memilih datang kemari.
“Kamu tahu.” Kata suara yang berasal dari bangku belakangku. “Gimana rasanya, jatuh cinta dengan seseorang, tapi takut mengungkapkan karena tak ingin Ia pergi? Namun ternyata pilihan itu salah, karena Ia memilih bersama orang lain.”
Aku mengangguk mengerti, karena apa yang ditanyakan olehnya memang sedang kualami. Ibarat sedang membaca buku, aku tak berani membuka halaman selanjutnya karena tak ingin kenangan manis yang pernah kualami tergantikan dengan kenyataan pahit bahwa kami memang tidak akan bisa bersama.
Bahkan setiap aku berdoa berharap bisa terlahir kembali agar dikehidupan selanjutnya bisa bersama dengannya. Hhh, sangat konyol!
Namun apa maksudnya bertanya seperti ini padaku? Apakah Ia sedang curhat mengenai masalahnya dengan Erine?
Aku membalikan wajahku mengintip sekilas dirinya yang sedang duduk memandang langit. Ingin rasanya bertanya, namun mengingat bagaimana status kami membuatku tak ingin banyak ikut campur.
“Kamu bawa gitar untuk apa?”
“Mengisi waktu luang.” Jawabnya tersenyum. “Aku tidak tahu kenapa, rasanya ingin sekali pergi ke sini.”
Aku kembali terdiam, menetralkan perasaanku yang tak menentu. Disatu sisi aku merasa senang bisa bertemu dengannya, namun disisi lain perasaanku berkata bahwa tidak boleh terus berharap kepada seseorang yang telah dimiliki orang lain.
“No, I don't understand
How I held it together
Before I could hold your hand
And I can't, I can't recall
If I knew who I was before
You knew me flaws and all
Whoa ~
Feels like a lifetime ago oh,
And do you know
Who did I used to be?
How was there ever me without you?
Don't want to ever be without you
Without you, me without you”
Baby I can't believe
I ever lived or breathed without you
Don't let me ever be without you
Without you, me without you
Lost at sea, I found your shore
And I can't crumble back to the man
That I was before
You're all I am, I'm only this
Since my world was reset
For the better at our first kiss
Whoa ~
The only world that I know oh,
Is yours alone
Who did I used to be?
How was there ever me without you?
Don't want to ever be without you
Without you, me without you
Baby I can't believe
I ever lived or breathed without you
Don't let me ever be without you
Without you, me without you
And what did I dream about before I knew your face?
In this empty world how did I fill that space?
It's now as though I've always known you'd be the one
To change my life and make the man
__ADS_1
That I've become, I've become
Oh, who did I used to be?
And how was there ever me without you?
Don't want to ever be without you
Without you, me without you
Baby, I can't believe
I ever lived or breathed without you
Don't let me ever be without you
Without you, me without you, oh
No, don't let me ever be without you
Without you, me without you
I don't understand
How I held it together
Before I could hold your hand.”
♥♥♥♥
“Lagu ini melukiskan perasaanku ke kamu.” Jelasku.
Anggie masih terdiam. Aku meletakan gitarku dan berpindah posisi di sampingnya. Setelah sekian waktu kami seperti ini. Harapanku tetap sama. Dia mau mendengarkan penjelasanku dan kami bisa bersama.
“Dest.” Pinta Anggie agar aku menjauh. “Tolong jangan seperti ini !Aku nggak mau merusak hubungan siapapun.”
“Maksud kamu?” Tanyaku tak mengerti.
Anggie menghela nafas panjang. “Kamu sudah bersama Erine, cukup buat aku semakin berharap sama kamu.”
Aku memeluk Anggie. Perlahan suasana canggung di antara kami mulai mencair. Semula dia hanya terdiam, kini mulai membalas pelukanku, seakan perasaan rinduku padanya akhirnya terbalas.
Entah siapa yang memulai, namun aku menikmati ciuman kami. Rasanya setiap kali bibir kami bersentuhan membuatku semakin menyadari bahwa memang Ia orang yang ingin kupilih menjadi pasanganku.
“Maaf.” Kata Anggie, menundukan wajahnya yang merona merah. “Seandainya kamu tahu aku saat ini benar-benar bahagia. Tapi ini salah, karena kamu sudah bersama Erine.”
“Aku sama Erine?” Tanyaku terkejut. “Kamu dapat kesimpulan dari mana?”
“Dia sendiri bilang kalian couple! Terus boneka yang pernah kamu kasih ke aku, dia juga punya! Oh dia juga pernah peluk kamu. Coba jelasin dari segi mana aku bisa berpikir bahwa kalian nggak pacaran?”
“Brian hanya.” Potong Anggie. “Brian. Brian hanya teman masa laluku. Aku memang sayang padanya, tapi setelah Ia kembali perasaanku akhirnya tahu bahwa perasaan ini hanya sebagai sahabat! Bahkan hari di mana kalian bertemu bersama, aku ingin menjelaskan bahwa telah memilih kamu. Namun kamu menganggapku sebagai teman,
bahkan esok harinya aku harus melihat Erine peluk kamu!”
Aku tertawa. Entah karena senang atau geli mengingat semua yang terjadi hanya karena salah paham, rasa malu menjelaskan dan tak percaya diri membuat kami saling menjauh selama ini.
“Ingat saat kita bermain basket dan Erine datang. Saat kamu pergi, aku marah padanya dan langsung meninggalkannya. Lalu sudah berapa kali aku ingin menjelaskan kepada kamu tentang siapa Erine. Namun kamu selalu menolak. Akupun nggak bisa memaksa karena berpikir kamu telah bersama Brian.”
“Aku takut kalau kamu mengatakan dia benar-benar pacar kamu.”
Aku kembali tersenyum dan mencium kening Anggie. “Buat aku cuma kamu satu-satunya wanita spesial yang bisa membuatku jatuh cinta.”
Anggie tersenyum dan meletakan headset pada telinga kami berdua. Di dalam lantunan lagu Perfect aku mengenggam erat tangannya.
“I found a love for me
Darling just dive right in, and follow my lead
Well I found a girl, beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me
Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was, I will not give you up this time
But darling just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you’re holding mine
Baby I’m dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favourite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling you look perfect tonight
Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I’ll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
__ADS_1
We are still kids, but we’re so in love, fighting against all odds
I know we’ll be alright this time
Darling just hold my hand, be my girl, I’ll be your man
I see my future in your eyes
Baby I’m dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favourite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don’t deserve this, darling you look perfect tonight
Baby I’m dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favourite song
I have faith in what I see
Now I know I have met an angel in person
And she looks perfect, no I don’t deserve this
You look perfect tonight”
♥♥♥♥
Seperti biasa, Brian akan menyempatkan mampir ke tempatku bila Ia memiliki waktu luang usai pulang kerja. Biasanya Ia akan menemaniku hingga makan malam, barulah beranjak pulang.
Aku mencuri lihat padanya yang saat ini terlihat sibuk menonton berita di televisi. Rasanya hatiku bimbang harus menjelaskan semua dari mana, aku takut Ia marah dan menjauh dariku. Sekalipun tak mencintainya, bukan berarti aku mau kehilangan seseorang yang sudah seperti sahabat untukku. “Hhh.”
“Kamu kenapa?” Tanyanya khawatir.
Aku menatap matanya, berusaha meyakinkan diriku bahwa ini harus dilakukan agar Ia tak semakin sakit berharap padaku yang tak pernah mencintainya. “Aku. Aku minta maaf.”
“Maaf? Maaf untuk apa Gie? Kamu nggak ada salah sama aku.”
Aku tertunduk, malu. Malu pada diri sendiri yang selama ini menerima kebaikannya berharap bisa melupakan Desta. Namun ternyata hatiku tak mampu berbohong, bahwa hanya mencintainya.
“Maaf karena perasaan sayangku ke kamu nggak lebih dari sahabat.” Jelasku, berharap tak membuatnya kecewa.
“Kamu nggak perlu minta maaf.” Balasnya tersenyum. “Aku tahu, karena itu aku ingin selalu berada di dekatmu agar perasaan cinta itu akan hadir.”
“Jangan.” Pintaku.
“Kenapa?”
“Karena selama ini, kita pergi, makan, jalan-jalan dan apapun kegiatan yang kita habiskan bersama nggak bisa buat aku menyangkal bahwa sebenarnya aku cuma sayang sama…”
“Desta?” Potong Brian.
“Dari mana kamu tahu?” Tanyaku terkejut.
Brian kembali tersenyum dan membelai lembut rambutku. “Mata kamu nggak bisa bohong Gie. Ingat bagaimana
kamu tersenyum ketika melihat Desta datang, saat pertama kali kita bertemu?”
Aku mengangguk.
“Setiap kali tanpa sengaja kamu bertemu dengan Desta, mendadak kamu menjadi berubah. Seakan ada perasaan sakit ketika melihatnya, terutama saat bersama Erine.”
“Maaf.”
“Gie, kamu nggak perlu minta maaf. Oke?” Pinta Brian.
“Makasih.”
“Tapi bukannya Desta berpacaran dengan Erine? Kenapa kamu tetap mencintainya?”
“Aku nggak tahu.” Akuku jujur. “Selama ini aku selalu berpikir dia memilih Erine, setiap waktu aku
juga berusaha melupakan dan mencoba menyanyangimu lebih dari sahabat. Namun
entah bagaimana ceritanya, perasaanku selalu ingin mencintai Desta.”
“Terus sekarang kamu mau gimana? Dia kan sudah bersama Erine.”
Aku tersenyum. “Mereka nggak pacaran, ternyata kita salah paham.”
“Kamu tahu dari Desta?”
Aku mengangguk. “Kemarin di taman kami menjelaskan semuanya dan berkata jujur satu sama lain.” Jelasku. “Oh iya kamu ingat tidak saat aku SMP, bajuku kotor karena es krim? Itu karena dia.”
“Dunia sempit ya.” Tawa Brian. “Bukannya saat itu kamu berkata akan memarahinya bila bertemu lagi?”
Aku tertawa. “Bukan hanya memarahinya. Namun kami seringkali bertengkar.”
“Lalu kenapa kamu bisa jatuh cinta padanya?” Tanya Brian penasaran.
“Nggak tahu.” Jawabku mengangkat kedua bahuku. “Rasanya terjadi begitu saja. Sekalipun kami kerap bertengkar, tapi dengana adanya dia aku bahagia.”
Brian tersenyum. “Kalau memang kamu cinta sama Desta, aku rela kamu sama dia selama kamu bahagia Gie.”
__ADS_1