TeaAmore

TeaAmore
Episode 26 - Wanita Itu


__ADS_3

Semenjak kecil pantai adalah tempat kesukaanku. Pantai pertama yang kudatangi adalah Nusa Dua, Bali ketika aku berusia empat tahun. Walaupun samar, tapi aku ingat bahwa semenjak saat itu suara deburan ombak menjadi salah satu hal favoritku.


“Kamu suka?” Tanya Desta.


Aku mengangguk, dan mempererat genggaman tanganku pada jemarinya yang membantuku berjalan. “Bila berada di pantai aku selalu lupa waktu. Saat masuk SMP sering kali aku diledek si hitam karena kulitku terpanggang matahari.” Lanjutku tertawa geli.


Desta tertawa. “Memang kenapa kamu suka berada di sini?”


Aku tersenyum dan mengajak Desta duduk di antara deburan ombak. “Saat liburan kedua kali bersama orangtuaku, aku berlarian dengan memakan permen. Namanya anak kecil, kerap kali ceroboh, permen itu jatuh dan membuatku


menangis.” Kenangku. “Tapi saat aku duduk di tepi pantai, deburan ombak yang datang membuatku merasa nyaman, seolah Ia bisa membuatku melupakan perasaan sedih itu.”


“Pantai Rancabuaya. Pernah dengar?” Tanya Desta.


Aku menggeleng. Sama sekali tidak familiar di ingatanku, karena selama ini pantai yang kukunjungi biasanya hanya di daerah Bali dan Lombok.


“Sekarang kita di Pantai Rancabuaya. Sunset di sini salah satu yang terbaik di Pulau Jawa! Walaupun namanya kurang terkenal, namun tidak kalah dengan yang lain. Di sini kurang cocok untuk yang suka berenang, banyak sekali batu karang. Selain itu ombak di sini cukup besar, sehingga lebih cocok untuk menikmati pemandangan.”


Jelas Desta mengambarkan pantai yang kami kunjungi.


“Kamu bercita-cita menjadi promotor pantai ini?” Tanyaku geli.


Desta tertawa renyah. “Keinginaku lebih ke arah menjadi mata untuk kamu.”


“Kamu pinter banget ngerayu cewek.” Balasku tertawa. “Jangan-jangan cewek kamu banyak? Ngaku deh!” Candaku.


“Banyak? Amin. Amin.” Balasnya tertawa. “Memang nanti kamu nggak cemburu?”


“Cemburu? Tentu nggak dong.” Jawabku tak yakin. “Memangnya kamu sekarang nggak punya pacar?”


 “Untuk sekarang nggak bisa dibilang bahwa dia pacarku.”


“Lho memangnya kenapa?” Tanyaku menyelidik tanpa sadar.


Desta tertawa. “Nanti kalau saatnya tepat kamu akan tahu.”


Aku mengangguk setuju. Walaupun rasanya ingin bertanya lebih lanjut untuk memuaskan hasrat keingintahuanku, namun dalam kondisiku seperti ini aku harus bersyukur ada orang ingin berbuat baik padaku, bukannya terbawa perasaan dan berharap lebih.


                                                                            ♥♥♥♥


Perjalanan pertama kami ke pantai telah berakhir. Aku kira akan mudah membuat orang yang terkena amnesia mengingat kembali seperti dalam film. Namun aku salah, karena sama sekali tidak ada perkembangan pada


ingatan Anggie.


Mungkin aku yang kurang mengerti bagaimana membimbing ingatanya yang hilang untuk kembali. Tapi aku tak bisa


bohong bahwa semenjak tadi berharap ada sedikit kenangan kami yang muncul dalam ingatannya.


Bahkan aku rasanya ingin mengatakan bahwa Ia adalah seseorang yang kucintai, namun lagi-lagi aku ingat pesan dokter untuk tak membuat ingatannya lebih parah.


“Dest, masih jauh?”

__ADS_1


“Mungkin satu atau dua jam lagi.” Jawabku. “Kamu lapar?”


Anggie menggeleng.


“Atau mau tidur lagi?”


“Nggak. Udah puas.” Jawabnya tersenyum. “Ehm gimana kalau kita cerita-cerita?”


“Cerita apa?”


“Pertemuan kamu dengan dia?”


“Eh.”


Anggie tersenyum. “Aku ingin tahu. Boleh?”


“Pertemuan pertama kami adalah hari terakhir aku di Indonesia, tanpa mengetahui siapa namanya. Hanya pertemuan singkat yang meninggalkan kenangan buruk untuknya.”


“Kenangan buruk? Seperti apa memangnya?”


“Aku sedang berpamitan dengan sahabatku. Saat berbalik, es krim di tangannya mengotori bajuku. Karena melihat wajah terkejutnya menggemaskan, tanpa sadar aku iseng membalas mengotori bajunya.” Jelasku tertawa mengingat saat itu.


“Iseng banget kamu.”Balasnya ikut tertawa.


Aku mengangguk setuju. “Tujuh tahun kemudian, aku kembali ke Indonesia. Hari itu sahabatku mengajakku untuk makan bersama. Awalnya aku tidak mengenalinya, namun seiring berjalannya waktu kami saling menyadari.”


“Kalian romantis ya.”


“Hari terakhir kamu di Indonesia, kamu bertemu dengannya dan hari pertama kamu kembali, juga bertemu dengannya. Seakan takdir ingin kalian bersama.”


Aku tersenyum berharap takdir mengijinkan kami untuk bersama. Bukan sementara, namun untuk selamanya. “Hubungan kami nggak pernah akur, selalu ada topik untuk berdebat. Namun justru hal tersebut yang membuatku semakin menyukainya! Bahkan dia satu-satu orang yang bisa bikin aku percaya apa itu cinta.”


“Lalu bagaimana kalian bisa pacaran?”


“Tidak pernah ada pernyataan cinta secara langsung. Hubungan kami awalnya hanya sebatas sandiwara. Aku membantunya menghindari mantannya dan dia membantuku menghindari perjodohan yang diinginkan orangtuaku.”


“Dan berhasil?” Tanyanya ingin tahu.


Aku mengangguk. “Tentu! Sayangnya selama dua tahun kami bersandiwara aku terlalu gengsi mengatakan bahwa benar-benar mencintainya. Singkat cerita itulah alasan kami pernah menjauh.”


“Karena itu kamu bilang, untuk saat ini nggak bisa bilang bahwa dia cewek kamu?”


“Kami sempat berbaikan setelah satu setengah tahun menjauh. Sayangnya dia mengalamai kecelakaan dan membuatnya lupa kepadaku.”


“Kenapa kamu nggak coba kasih tahu siapa kamu?”


“Dokter bilang, bahwa ingatannya yang hilang nggak boleh dipaksa untuk mengingat. Sebab bila kita terlalu memaksanya mengingat kejadian yang dilupakan justru semakin membuat amnesianya parah.”


“Tapi kamu sering berjumpa dengan dia?”


“Tentu! Kalau tidak bagaimana mungkin kita bersama seperti sekarang.”Jawabku dalam hati. “Terkadang.”

__ADS_1


“Semangat ya! Dia pasti akan ingat sama kamu.” Hiburnya.


Aku tersenyum penuh harap, agar apa yang Anggie katakan segera terjadi. Rasanya aku sangat merindukan Ia mengingatku bahkan berdebat hal-hal tak penting bersamaku.


♥♥♥♥


Aku berpikir apakah hanya diriku seorang yang pernah berharap pada seseorang hingga menganggap semua ceritanya adalah tentang kami?


“Hhh.” Sangat lucu, mengingat bagaimana diriku seolah-olah mengaitkan cerita Desta dengan kejadian-kejadian


yang kualami. Padahal sudah jelas bahwa seseorang yang dicintainya hilang ingatan bukannya mengalami kerusakan penglihatan sepertiku.


Seharusnya aku belajar menerima kondisiku dan tidak berpikir lebih kepada orang yang berbuat baik padaku.


Pastinya mulai saat ini aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berdua hanya berteman!


Walaupun perasaanku tahu pasti sulit untuk mengingkari perasaan nyaman yang tak dapat kuungkapan ketika


bersamanya.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku, seakan aku tersadar bahwa semenjak terbangun dari tidur, hal pertama yang kupikirkan adalah Desta. “Hhh.”


"Siapa?” Tanyaku waspada dari balik pintu, mengingat bahwa tidak ada temanku yang mengatakan ingin datang


kemari.


“Desta.”


Aku terdiam sesaat, sebelum akhirnya membukakan pintu untuknya. Rasanya aku tidak siap bertemu dengannya


saat ini, bukan karena benci tapi takut berharap pada seseorang yang jelas-jelas tak mungkin bisa kugapai.


"Sudah makan?” Tanyanya karena aku hanya terdiam.


“Belum.”


“Kebetulan banget! Nih aku bawain makan siang.”


“Kok kamu nggak kerja?”


“Ini kan sabtu Gie.”


Aku membulatkan bibirku tanda mengerti dan sadar bahwa Brian sangat sibuk hingga diakhir pekanpun Ia akan


sering berpergian.


“Aku ganggu nggak?”


“Apakah aku orang kedua yang kamu kunjungin setelah dia?” Tanyaku tanpa sadar.

__ADS_1


♥♥♥♥


__ADS_2