
Aku tidak bisa bohong bahwa akhir-akhir perasaanku sedang bahagia. Walaupun Anggie masih tak mengingatku, namun selama kami bisa sedekat ini, itu tak masalah.
Setidaknya kali ini aku mencoba mendekatinya layaknya hubungan normal antara pria dan wanita yang sedang PDKT (Pendekatan). Bukan seperti hubungan sandiwara yang dipenuhi dengan perasaan gengsi mengakui
bahwa kami saling mencintai.
“But I let my heart go
It's somewhere down at the bottom
But I'll get a new one
And come back for the hope that you've stolen
I'll stop the whole world
I'll stop the whole world... from turning into a monst..”
“Lu suka lagu rock ya?” Potong Anggie ketika aku mengikuti lantunan lagu monster di radio.
“Keren kan?”
Anggie tertawa. “Keren gimana? Gue nggak ngerti deh apa bagusnya lagu rock!”
Aku tersenyum melihatnya yang sama sekali tak berubah. Sekalipun sebagian ingatan hilang, tapi dia tetap sama..
“Lu tetap sama ya.” Kataku tanpa sadar.
“Sama? Maksudnya?” Tanyanya bingung.
“Ehm. Itu. Maksudnya sama seperti adik gue.” Kataku berbohong.
Anggie membulatkan bibirnya tanda mengerti. “Erika? Jadi penasaran pingin ketemu dia.”
“Mau? Kapan? Gue yakin dia bisa akrab sama lu.” Kataku menjamin, karena tahu adikku selama ini akrab dengannya. Walaupun Anggie tak mengingatnya, namun Erika tetap berharap hubunganku dan dia tidak akan berakhir.
“Musik Paramore memang nggak ada matinya. Tapi, sebelum kembali memutarkan lagu selanjutnya, Olive
akan membahas berita terhangat yang sedang menjadi trending topic. Apalagi kalau bukan tentang Laurensia Erine, yang di kabarkan lebih memilih Michael Leonardo dari pada cinta pertamanya yang merupakan salah satu pengusaha muda ternama di Indonesia Desta Hadi Setiawan. Tapi apapun pilihan Laurensia Erine kita mendoakan yang terbaik ya guys!”
“Gue pernah dengar berita ini di TV dan baru tahu kalau nama pacar pertama model itu Desta.” Potong Anggie sesaat setelah mendengar informasi di radio. “Jangan-jangan lu ya?”
“Eh.” Kataku terkejut.
“Becanda Desta.” Lanjutnya tertawa. “Nggak mungkin kan nama Desta cuma satu.”
Aku tertawa gugup. “Iya. Pasti banyak. Pelawak bernama Desta juga ada.”
Anggie tersenyum dan mengangguk. “Tapi gue penasaran lho, kenapa dia nggak sama cinta pertamanya? Padahal dia rela jauh-jauh balik Indonesia biar bisa dengan Desta. Sayang banget yaa?”
Aku tersenyum menanggapi respon Anggie terhadap berita Erine. Seandainya dia ingat bahwa Erine telah membuat hubungan kami menjauh, apa mungkin dia masih merasa sayang pada keputusan yang diambilnya?
♥♥♥♥
Sikap Brian yang begitu baik padaku memang sangat kuhargai, namun ada bagian dari diriku yang merasa bahwa
Ia menutupi sesuatu dariku.
“Hhh.” Entah kenapa hal ini membuatku sadar bahwa ternyata aku sangat tak tahu terimakasih, membalas
kebaikannya dengan pikiran buruk.
Tapi jujur saja banyak hal yang membuatku penasaran. Salah satunya, mengapa pigura di kamar yang kutinggali
dalam posisi terbalik, apakah alasannya? Namun pantaskah aku bertanya setelah tuan rumah berbaik hati merawat dan mengijinkanmu tinggal bersamanya.
Entah kenapa tanpa sadar aku berlari kecil dan mengintip dirinya yang menjauh melalui lubang pintu, seakan ada rasa rindu ingin terus bersamanya.
Aku menghelas nafas, sadar bahwa telah begitu konyol merasa senang menerima hadiah kecil darinya. Tapi aku tak bisa bohong, miniatur kaca bewarna biru transparan dengan ukiran namaku di bawahnya membuatku merasa
spesial karena memiliki sesuatu darinya.
Aku berjalan ke kamarku, meletakan pemberiannya bersama dengan foto-foto penting yang kupajang, seperti foto kelulusan, bersama keluargaku ketika mereka masih harmonis, Tania, Eriko, dan beberapa orang yang
tak kuingat hingga hanya menghasilkan siluet dalam ingatanku.
“Hhhah, hhhah, hhhah.” Nafasku terasa berat, kepalaku berdenyut-denyut nyeri, dan wajahku basah oleh keringat. Aku berusaha menarik nafas dalam-dalam, berharap sakit ini segera menghilang.
Aku membuka mataku, bayangan tadi terasa sangat nyata bukan seperti mimpi. Aku merasa peristiwa
tersebut pernah kualami, seakan perasaan yang tergambar dalam ingatanku masih kurasakan.
__ADS_1
Namun siapa dia? Mengapa aku sama sekali tak mengingatnya. “Hhh.”
Apakah yang terjadi denganku, mengapa aku merasa pernah mengalami sesuatu yang tak pernah kualami? Apa mungkin aku mengalami amnesia ketika kecelakaan kemarin? Tapi aku masih ingat dengan semua.
“Gie kamu nggak apa-apa?” Tanya Brian khawatir dan membantuku
berdiri dari lantai.
“Ini apa?” Tanyaku menunjuk miniatur
kaca yang sedang kupegang. “Kenapa bisa ada di rumah kamu?”
“Aku mengambil ini dari rumah kamu.”
“Siapa yang kasih itu buat aku?”
“Kamu nggak ingat?”
Aku menggeleng. “Tapi waktu aku nggak sengaja pegang ini, tiba-tiba aku merasa bahwa seseorang yang kasih ini buatku begitu spesial, tapi aku nggak tahu siapa dia.
Brian tersenyum dan mencium keningku. “Kamu terlalu capek, jangan mikir nggak-nggak.” Pintanya. “Kalau kamu amnesia coba sini aku test.”
“Test?”
“Iya coba aku tanya, siapa nama orang tua kamu?”
“Johanes Kurniawan dan Clarissa Soebagio. Ehm, tapi Bri tadi dibayanganku aku merasa bahwa telah lulus sarjana, sedangkan saat ini usiaku masih enam belas tahun.”
Brian kembali tersenyum dan memelukkulembut. “Kan sudah aku bilang, kamu terlalu capek. Jadi jangan mikir nggak-nggak. Okay?”
“Okay Alexander Rafael Brian.”
“Nah kalau kamu amnesia nggak mungkin ingat nama panjangku.” Hiburnya tertawa.
♥♥♥♥
Inilah sebuah kesalahan yang dilakukan manusia, Ia selalu ingin lebih dan lebih dari yang diterima tanpa bersyukur. Demikian denganku yang merasa kurang hanya bisa dekat dengannya, dan ingin Ia segera bisa mengingatku.
Namun apa yang bisa kuperbuat, bahkan mengembalikan penglihatannya pun aku gagal. Berbagai cara telah
kulakukan, mencari donor diberbagai rumah sakit hingga melakukan test pada mataku. Sayangnya hasil yang kuterima nihil. “Hhh.”
“When I look into your eyes
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?
Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up
I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
__ADS_1
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up
Well, I won't give up
on us
God knows I'm tough enough
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up.”
“Lu selalu bikin gue terkejut ya.” Kata Anggie mengejutkanku.
“Kenapa?” Tanyaku bingung.
“Gue nggak nyangka lu jago main alat musik.”
Aku tertawa, lagi-lagi Ia memberikan respon yang sama seperti waktu pertama kali menyadari bahwa aku bisa
bermain alat musik. “Cuma sekedar hobby.” Jawabku merendah. “Sejak kapan di sini?”
“Wah mendalami banget ya mainnya sampai gue datang dari tadi nggak sadar.” Balasnya tertawa.
“Tumben malam-malam lu berani keluar sendiri, biasa takut gelap?”
“Mau malam, pagi, siang, atau sore buat gue sama aja Dest, gelap. Apa yang perlu gue takutin?” Jawabnya tersenyum. “Eh tapi kok lu tahu gue takut gelap?”.
“Ah! Itu.” Jawabku terpotong. “Cewek. Hm, cewek biasanya takut gelap karena takut hantu.” Lanjutku tertawa menutupi rasa gugup.
Anggie kembali tertawa. “Gimana bisa takut? Lihat aja nggak bisa.”
“Pasti susah untuk kamu. Ehm. Susah untuk lu beradaptasi?” Tanyaku.
Anggie mengangguk. “Sangat!Rasanya seperti kesal tapi tak tahu harus bagaimana.” Jelasnya. “Oh iya gue perhatiin lu sering banget mau ngomong pakai aku kamu, kalau memang lebih nyaman gitu nggak apa-apa kok.”
“Nanti kamu pikir aku sok akrab?” Tanyaku memastikan.
“Nggak kok, santai aja lagi.” Jawabnya tersenyum. . “Ehm Dest, boleh tanya?”
“Boleh, mau tanya apa?”
Anggie mengigit bibirnya. Dari ekpresinya, terlihat bahwa dia ragu-ragu dan khawatir. “Ehm. Jangan tersinggung ya.” Pintanya.“Aku cuma ingin tahu, kenapa kamu mau berteman sama aku? Kan aku ini nggak bisa lihat, pasti orang akan berpikir dua kali untuk berteman dengan orang sepertiku.”
“Kenapa kamu pikir gitu?”
Anggie tertawa. “Ya apa yang kamu bisa lakukan bersama orang yang kasarnya di bilang buta? Kita nggak akan bisa have fun.”
Ingin rasanya untuk memeluk Anggie agar dia tak berpikir demikian, namun aku harus bisa menahan diriku untuk tidak melakukannya. “Tentu banyak dong hal yang bisa dilakuin bersama, dan kenapa orang harus melihat kekurangan kamu?”
“Aku heran aja masih ada orang seperti kamu.”
“Semua orang pasti memiliki kekurangan. Gimana kalau besok kita ke pantai?”
“Ngapain?”
“Aku ingin kamu tahu bahwa kita bisa melakukan hal meyenangnkan bersama.”
♥♥♥♥
__ADS_1