TeaAmore

TeaAmore
Episode 10 - Kemajuan


__ADS_3

Selama ini memang aku fokus belajar bisnis agar dapat menghandle dengan baik perusahaan orangtuaku. Namun aku memiliki minat pada musik dan juga dalam bidang seni lukis, walaupun memang tidak bisa kusalurkan setiap waktu seperti ketika masih bersekolah.


Aku menutup mataku membayangkan setiap titik yang dapat kutuangkan dalam gambar hanya melalui ingatanku. Namun sejujurnya, ini adalah kali pertamaku mencoba melukis seseorang tanpa perlu bertemu langsung dengannya.


“Baru kali ini, gue lihat wajah lu serius.” Kata Anggie mengagetkanku, karena Ia telah duduk tak jauh dari tempatku berada. “Gambar apa sih emang Dest? Gue mau lihat dong.”


Aku segera menutupbuku gambarku dan menyimpannya di bawah meja. “Lu itu ya masuk rumah orang bukannya ketok pintu dulu, main masuk aja. Udah gitu, ganggu kesibukan orang lagi.” Jawabku mengalihkan pembicaraan.


“Idih, jelas-jelas gue udah permisi. Ketok pintu sambil panggil nama lu.” Jelasnya. “Terus gue intip di jendela lunya ada di ruang tamu, sok-sok nggak denger lagi orang panggil.”


“Siapa yang suruh lu dateng nggak bilang-bilang gue.” Jawabku asal, yang membuatnya melotot. “Lagi juga ngapain lu tumben ke sini?”


“Gue janjian sama Erika.” Jawabnya, melihat sekeliling berharap menemukan adikku. “Rumah lu sepi amat, Erika mana?”


“Baru aja pergi, tiba-tiba ada saudara sepupu gue yang hari ini melahirkan. Mungkin karena cepat-cepat dia lupa kabarin.” Jelasku.


“Wah gambar lu bagus juga ya.” Puji Anggie yang tanpa kusadari telah mengambil buku gambarku dan membukanya.


“Nggak bisa!” Serunya jahil kepadaku, saat aku ingin mengambil buku tersebut dari tangannya.


“Anggie balikin.” Pintaku mengejar dirinya yang saat ini telah berdiri dan berusaha membuka setiap halaman pada buku gambarku. “Gie.” Lanjutku memelas, berusaha mengambil buku yang disembunyikan di belakang badannya. Sehingga tanpa sadar, membuatku terlihat sedang memeluknya.


Anggie kembali menggeleng dan tersenyum jahil padaku. “Nggak mau! Pokoknya mau lihat dulu.” Ujarnya dan kembali berlari menjauh.


“Eh.”


“Kenapa?”


“Kok ada gue?”


“Ada lu?” Tanyaku pura-pura tak mengerti maksud perkataanya.


“Iya ini gambar gue kan?” Tunjukunya pada gambar wajahnya.


“Masa iya mirip lu? Ngaco ah!” Kelakku. “Itu sepupu gue, lebih cantik kali dari pada lu.”


                                                                        ♥♥♥♥


Aku masih memikirkan gambar yang kemarin kulihat, entah kenapa rasanya perasaanku berkata bahwa sebenarnya wanita tersebut memanglah diriku. Namun tak ada gunanya juga Desta berbohong.


“Hhh.” Rasanya kesal dan bingung karena dibuatnya bertanya-tanya. Ingin percaya pada diri sendiri, tapi sang


empunya gambar sudah menegaskan demikian. Apa memang hanya akulah yang memiliki perasaan lebih ini untuknya dan dia hanya menganggapku sekedar pacar sandiwara?


“Hhh.” Lagi-lagi pikiran bodoh ingin bertanya langsung tentang hubungan kami muncul dipikiranku. Seandainya aku


bertanya demikian dan dia tidak memiliki perasaan serupa, tentu akan membuatku tidak hanya malu tetapi canggung kan?


“Desta! Ngapain sih?” Protesku kaget karena Ia mencipratkan air danau pada wajahku.


“Nih anak, udah bagus-bagus diajak jalan. Eh malah cuma diem ngelamun jorok.”


“Ih, Siapa yang mikir jorok?” Kataku kesal.


“Kalau gitu dari tadi diam, tatapan kosong itu mikirin apa coba?” Selidiknya.


“Hmm.” Jawabku bingung. “Itu.” Lanjutku masih memikirkan alasan yang tepat. “Gue...”


“Tuh kan lu mikir jorok! Buktinya bingung mau jawab apa.” Potongnya tertawa senang.


“Suka-suka lu deh.” Balasku tak ingin memperpanjang perdebatan kami karena tak bisa menjawab jujur pertanyaanya.


“Lu itu lucu ya.”


“Lucu? Gila lu ya orang marah-marah dibilang lucu.” Protesku memindahkan tangannya dari rambutku karena merasa hal ini akan membuatku semakin berharap padanya.


“Iya lucu aja gitu, apalagi lagi marah-marah makin cantik.”


“Kalau gue tanya serius? Lu pasti jawabnya ‘Iya nggak lha’. Benar kan?” Tebakku.


Desta tertawa dan mencubit pelan wajahku. “Nggak Gie, kali ini serius bukan becanda.”


Belum sempat aku membalas perkataanya, mendadak hujan turun dan membuat sekujur tubuhku basah. Rasanya aku seperti mengalami dejavu saat wajah Desta mendekatiku.

__ADS_1


Badanku yang semula merasa dingin karena hujan dan angin yang berhembus mendadak menjadi hangat, bahkan rasanya wajahku terasa panas ketika bibir Desta mendarat tepat dibibirku, seakan aku bisa mendengar lagu Can't Take My Eyes Off You di telingku.


“I know that the


bridges that I've burned


Along the way


Have left me with these walls and these scars


That won't go away


And opening up has always been the hardest thing


Until you came


So lay here beside me just hold me and don't let go


This feelin' I'm feelin' is somethin' I've never known


And I just can't take my eyes off you


And I just can't take my eyes off you


I love when you tell me that I'm pretty


When I just wake up


And I love how you tease me when I'm moody


But it's never too much


I'm falling fast but the truth is I'm not scared at all


You're climbin' my walls


So lay here beside me just hold me and don't let go


This feelin' I'm feelin' is somethin' I've never known


And I just can't take my eyes off you


And I just can't take my eyes off you


So lay here beside me just hold me and don't let go


Oh, this feelin I'm feelin is somethin' I've never known


And I just can't take my eyes off you


And I just can't take my eyes off you.”


                                                            ♥♥♥♥


Jatuh cinta membuat seseorang menjadi seringkali memikirkan orang yang dicintai, demikian juga denganku. Bagiku Anggie tidak hanya cantik, namun setiap hal yang ada pada dirinya membuatku semakin menyukainya.


Mungkin terdengar konyol, namun aku menyukai Ia bagaimanapun. Seperti tertawa ketika melihatnya panik


dalam kegelapan, meminta maaf bila terlambat datang karena merasa bersalah membuatnya menunggu, mengajaknya jalan-jalan ke tempat yang disukai, dan tersenyum akan setiap tingkah konyol yang Ia lakukan.


Rasanya aku menyesal baru merasakan jatuh cinta sekarang, karena ternyata menyukai seseorang membuat


hidup menjadi bewarna.


“Huah! Minum kelapa memang paling enak di pantai. Udah murah. Rasanya benar-benar beda!” Seru Anggie semangat.


“Gimana pantai ini, bagus nggak?”


“Baguus.” Jawabnya tersenyum. “Cuma jauh banget Dest.”


“Semua hal kan butuh perjuangan.” Balasku tertawa. “Itu Gie.” Lanjutku menunjuk ke arah segerombolan anak penyu yang baru saja menetas disalah satu titik pantai.


“Wah lucu banget!” Serunya mengajakku berdiri menghampiri anak-anak penyu. “Tapi kasihan ya mereka, baru lahir harus langsung berjuang menghadapi kerasnya hidup.”

__ADS_1


“Kan memang sudah begitu hukum alam mereka Gie, untuk bertahan hidup mereka harus kembali ke lautan.”


Anggie tersenyum dan mengajakku kembali duduk usai kami puas melihat anak-anak penyu menghilang satu


persatu dalam laut. “Nggak terasa ya, seharian di sini. Tahu-tahu udah gelap aja.”


Aku mengangguk setuju. “Walaupun malam hari, lihat deh pemandangan di sini tetap bagus.”


“Iya bagus banget!” Balasnya setuju. “Bintang di sini terang, nggak kayak di kota cuma beberapa yang terlihat.”


“Kamu tahu nggak, katanya ada bintang jatuh hari ini.”


“Oh ya?” Tanyanya antusias. “Aku mau lihat dong, seumur-umur ini pertama kalinya lihat bintang jatuh.”


“Bintang di kanan, bagus ya. Terang banget.” Tunjukku dengan mengarahkan tangan Anggie pada bintang yang


aku maksudkan.


Anggie mengangguk setuju. “Iya bagus banget! Aku suka. Tapi kok lama banget ya bintang jatuhnya?”


Aku tertawa. “Harus sabar dong, tapi gimana kalau kita pura-pura melihat bintang jatuh aja? Terus bikin harapan?” Tawarku padanya.


“Boleh juga.” Jawabnya setuju.


“Satu.”


“Dua. Tiga.” Seru kami bersamaan dan menutup mata berharap keinginan kami masing-masing akan terkabul.


                                                            ♥♥♥♥


Bukan hanya mulai menyebut satu sama lain dengan “Aku dan Kamu.”, namun rasanya aku ingin selalu berada di dekat Desta, orang pertama yang singgah dipikiranku ketika bangun tidur.


Entah kenapa sejak ketemu Desta, rasanya aku benar-benar bisa melupakan hal yang tak ingin kuingat setelah kepergiannya. Ia mampu membuatku merasakan rasanya perasaan nyaman dan terlindungi yang tak pernah kurasakan sebelumnya.


Kalau ini yang disebut jatuh cinta, rasanya aku ingin perasaan ini hadir seterusnya.


“Mikirin apa?” Belainya lembut pada kepalaku yang saat ini berada di bahunya.


“Nggak ada, cuma lagi menikmati aja indahnya matahari terbenam. Bagus banget!” Tunjukku pada matahari


yang mulai menghilang dibalik indahnya lautan.


“Mendadak jadi romantis ya suasannya.”


Aku tersenyum melihat dirinya yang saat ini begitu dekat denganku. Bukan karena suasana berubah menjadi romantis, namun menatap dirinya sedekat ini seakan menjadi kebahagian tersendiri untukku.


“Wah berani nih ya tantangin aku?” Tanyanya mencubit lembut pipiku karena telah membuat wajahnya kotor dengan pasir.


Aku berdiri dan menatap Desta dengan jahil. “Biarin.” Jawabku berlari dan menjulurkan lidah padanya.


Desta berdiri dan berusaha mengejarku yang berlari kecil menjauh darinya. Aku tersenyum dan terus menatap Ia yang mengejarku. Walaupun suasana pantai tidak sepi, tapi rasanya hanya ada kami berdua di sini. Mungkin ini


rasanya dunia hanya miliki berdua.


Kami terus berlari sepanjang pantai dan menyiramkan air satu sama lain. Walaupun udara cukup dingin, tapi


rasanya hatiku terasa hangat karena bisa melihat Desta tertawa. Rasanya membuatku ingin selalu berada di sisinya.


“Nih ya biar kamu jera!” Serunya,setelah berhasil menangkapku dan membuat wajahku kotor dengan pasir.


“A. Desta.” Protesku becanda, karena aku langsung tertawa saat berhasil membuat wajahnya kembali kotor. Sehingga kami seperti beradu gulat karena berusaha saling mengotori wajah satu sama lain. Memeluk dari belakang, berpegangan tangan, dan kembali berlari kecil sehingga tanpa sadar membuat kami jatuh bersamaan di


tengah-tengah ombak.


Kami tertawa satu sama lain, dan kembali bermain air. Rasanya dua tahun kebersamaan kami terasa sangat singkat. Aku sangat ingin seumur hidup menghabiskan setiap detik yang kumiliki bersamanya. Walaupun terdengar berlebihan, tapi hanya dia yang mampu membuat hidupku menjadi berwarna.


“Agh!” Kataku terkejut karena air masuk ke dalam mataku.


Desta mendekatkan wajahnya dan melihat mata kananku yang saat ini ku pegang karena perih. “Nggak apa-apa?” Tanyanya khawatir.


Aku menggeleng. Rasanya rasa perih itu mendadak tergantikan dengan perasaan gugup dan wajahku terasa


panas. Walaupun ini bukan kali pertama kami berada disituasi sedekat ini, namun setiap kali bibir Desta menyentuhku, membuatku terasa seperti tersengat listrik.

__ADS_1


__ADS_2