
Tidak ada yang dapat kuperbuat selain tetap mencintainya. Setiap waktu kosong yang kumiliki pasti kuhabiskan dengan melihatnya dari kejuahan, hanya sekedar memastikan bahwa Ia baik-baik saja.
Aku tidak hanya memendam rasa rindu yang begitu berat untuknya, tapi juga perasaan bersalah karena telah
membuatnya mengalami peristiwa ini. Seandainya bisa memilih, aku bersedia menggantikan keadaanya.
Memandang semua kenangan manis dalam sebuah foto justru membuatku semakin egois ingin merasakannya. Bukan hanya diam, mengintai dari kejauhan dan melihatnya tersenyum bersama pria lain.
Tapi, apa yang dapat kuperbuat ketika di dalam kenangan dirinya tidak terdapat aku?
“Sorry. Sorry.”
“Nggak masalah.” Jawabku tersenyum dan membantunya membereskan isi tas yang berserakan. “Lu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, lu gimana? Sorry banget ya gue belum terbiasa jalan di luar ruangan.”
“Nggak apa-apa Gie.” Balasku tanpa sadar.
“Sorry, apa kita saling kenal?”
“Ehm.” Jawabku terbata, karena bingung harus menjawab apa. Di lain sisi ingin rasanya menjelaskan siapa aku,
namun mengingat penjelasan dokter yang tak boleh memaksanya mengingat membuatku terpaksa berbohong padanya.
“Gie, maksud gue Gisel. Gue lagi denger lagunya, jadi nggak fokus.”
Anggie tersenyum dan tertawa lega. “Oh gue kira lu panggil Gie itu Anggie. Jadi nggak enak udah kepedean.”
“Bukan.” Jawabku tertawa canggung menutupi rasa gugupku. “Jadi nama lu Anggie?”
Anggie mengangguk. “Iya.”
“Lu kenapa sendirian perginya?”
“Lu kasihan ya lihat orang nggak punya penglihatan kayak gue pergi tanpa ada teman?”
“Bukan gitu, maksudnya….”
“Gue pingin aja jalan-jalan, walaupun mungkin ada resiko bikin orang nggak dikenal ikut susah. Tapi kalau
gue nggak mencoba, gue nggak akan pernah bisa berada di luar rumah sendirian dong.” Potongnya tersenyum.
“Kalau gitu mau gue temani nggak keliling?”
“Nggak usah, nggak apa-apa.”
“Tenang gue janji nggak akan macam-macam! Gue ada adik cewek kok.” Jelasku, agar Ia tak perlu takut padaku.
Anggie tertawa. “Apa coba hubungannya?”
“Karena gue nggak mau adik gue diapa-apain sama cowok, jadi gue nggak akan berbuat aneh-aneh ke cewek lain.”
“Jangan tersinggung ya, gue beneran nggak apa-apa sendirian kok. Lu nggak perlu kasihan karena gue nggak punya fisik sempurna.
“Anggie, gue nggak ada mikir gitu kok. Kebetulan gue juga pingin jalan-jalan dan nggak enak dong masa jalan sendirian?” Bujukku penuh harap, agar Ia mau menghabiskan sedikit waktunya bersamaku.
Anggie mengangguk setuju. “Ya udah kita kenalan dulu ya, nama gue Anggie. Lu?
“Desta.”
“Desta?” Tanyanya memastikan.
“Iya Desta, kenapa?”
“Lu kenal seseorang namanya Evan nggak?”
Evan? Bukankah dia adalah mantan pacar Anggie yang membuat kami terlibat hubungan sandiwara. Kenapa dia bisa mengingatnya? “Kenapa?”
“Aneh aja.”
__ADS_1
“Aneh?”
Anggie mengangguk. “Beberapa hari lalu gue ketemu cowok namanya Evan. Dia bilang gue kenal sama dia, padahal satu-satunya cowok bernama Evan yang gue tahu Chris Evans.” Jelasnya tertawa. “Tapi yang lebih bikin gue ngerasa aneh karena ketemu lu.”
“Kenapa?” Tanyaku tak mengerti.
“Karena waktu ketemu Evan, dia bilang bahwa gue punya cowok namanya Desta. Ajaibnya gue yang nggak punya kenalan nama Desta, ternyata bertemu seseorang yang namanya Desta.”
♥♥♥♥
Bisa dibilang keputusan orangtuaku memilih tetap tinggal dengan keluarga kecil mereka dan mempercayakan aku bersama Brian adalah keputusan terbaik. Bagaimana tidak? Dikesibukannya yang begitu padat Ia selalu menyempatkan waktunya untukku.
Setiap hari Brian akan menyiapkan semua hal yang kuperlukan seperti makanan, pakaian apa yang cantik kukenakan, bahkan Ia tak malu membeli segala kebutuhan wanita seperti pembalut misalnya.
Nggak hanya itu saja, seandainya Ia pulang lebih awal Brian akan menjagaku hingga aku tertidur barulah kembali ke kamarnya untuk istirahat. Bagaimana mungkin sebagai wanita aku tak merasa spesial?
“Susu coklat datang.”
Aku tersenyum menerimanya. “Makasih.”
“Gie.” Panggil Brian.
“Ya?”
“Aku tahu waktunya nggak tepat, tapi aku sayang banget sama kamu dan nggak mau kehilagan kamu lagi. Jadi bisa kita resmikan hubungan ini?”
“Maaf Bri, mungkin terdengar bodoh ketika seseorang yang nggak punya fisik sempurna menolak orang sebaik seperti kamu. Sebagian orang pasti berpikir bahwa aku menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Tapi aku nggak mau kamu berharap sama aku yang nggak bisa kasih kamu apa-apa.”
“Gie walaupun kamu nggak bisa lihat, itu bukan masalah untukku.”
Aku melepaskan pelukan Brian dan membelai lembut wajahnya. “Terlalu cepat untuk kamu memutuskan ini Bri, biar waktu berjalan yang kasih tahu bagaimana hubungan kita akan berlanjut.”
Brian mengangguk setuju. “Ya udah sekarang kamu istirahat ya, sudah jam sebelas malam.”
“Okay, kamu juga ya! Aku nggak apa-apa tidur sendiri.”
“Anggie, aku kerja seharian. Jadi jangan minta aku jauh dari kamu, ketika ada waktu senggang seperti ini.”Pintanya.
♥♥♥♥
Entah kenapa di saat sendiri seperti ini kerap kali Desta muncul dalam pikiranku. Seakan aku ingin mengetahui lebih dalam bagaimana sosok dirinya.
“Hhh.” Aku meminum coffee latte pesananku, tertawa kecil, dan menyadari bagaimana mungkin seseorang yang normal akan tertarik padaku? Meskipun meminta nomerku, namun nyatanya Ia tak pernah menghubungiku.
Iya setidaknya aku memiliki kenangan menyenangkan saat memghabiskan waktu bersamanya, sekalipun kami hanya membahas kegiatan masing-masing.
“Anggie.”
“Desta?” Balasku terkejut karena senang orang yang kupikirkan berada di tempat sama denganku.
“Ngapain sendiri di sini?”
“Lagi pingin ngopi aja. Lu sendiri?”
“Habis meeting dan kebetulan waktu mau balik lihat lu duduk sendirian.”
Aku tersenyum tanpa sadar, seakan hatiku merasa senang mengetahui Ia sengaja menghampiriku.
“Terus nggak balik?”
“Masa gue biarin wanita secantik lu duduk sendirian?”
“Idih gombalnya geli banget.” Balasku tertawa.
“Habis gue bukan tipe cowok romantis.” Belanya ikut tertawa.
“I can't do this alone
I can not let you go
__ADS_1
My heart can't take the beat of letting you go
If it's not you, it can't be
I can't be without you.
No being with you but day and month oh being year
Even if I am hurtin
Even if my heart is that fire
All I want is you
I love you
Please be mine
My heart is belong for you
It's only belong for you
So tell me where you are
Hey can you hear my voice?
It's calling out to you
So come to me
I'm here for you
I finally found you
I'm so alone without you
No being with you but day and month oh being year
You the one that I'm belong for
You the one that I truly love
You the only one I want
The one I need
Only one I want, the want I need.”
“Eh lagu ini familiar banget! Pernah dengar di mana ya gue.” Tanyaku usai mendengar lantunan lagu yang dinyanyikan penyanyi kafe.
“It has to be you. Mungkin lu pernah dengar waktu nonton drama korea cinderella sister? Adik gue suka drama korea.” Jelas Desta.
“Mungkin.” Jawabku ragu. “Lu punya berapa adik? Asik punya saudara? Dari kecil gue pingin banget!”
“Satu, seumuran sama lu. Namanya Erika.”
Erika? Lagi-lagi hanya mendengar sebuah nama saja membuatku merasa seolah-olah mengenal orang tersebut.
“Kenapa Gie?”
“Gue ngerasa aneh.”
“Aneh gimana?” Tanyanya penasaran.
“Gue suka ngerasa nggak asing akan sesuatu, seakan-akan gue tahu. Tapi gue nggak ingat pernah mengalami hal itu. Pernah nggak sih lu ngerasa gitu?”
“De javu?”
“Bukan.” Jawabku yakin. “Rasanya seakan-akan hal yang kurasakan sangat nyata.”
__ADS_1
♥♥♥♥