TeaAmore

TeaAmore
Episode 9 - Mengelak


__ADS_3

Aku mengetuk-ketuk jemari pada meja di hadapanku. Rasanya baru saja lima menit di sini, namun terasa sangat lama karena menanti kedatangannya. Sebenarnya, hal ini salahku sendiri karena datang terlalu cepat.


“Ih cowok ngeselin itu kemana sih, nggak tahu orang sengaja datang lebih ce, cepat.” Kataku tertahan karena terkejut Ia telah berdiri di depanku. “Ehm, sejak kapan datang?” selidikku berharap Ia tak mendengar apapun.


“Baru aja. Kenapa?” Tanyanya penasaran.


“Lu.” Balasku tertahan. “Dengar nggak gue ngomong apa?”


“Oh yang lu sengaja datang lebih cepat?” Tanyanya tersenyum.


Aku mengamati sekeliling, sepi. Sore ini hanya dua meja yang terisi oleh pengunjung dan jaraknya cukup jauh denganku. Lalu, bagaimana bisa aku sama sekali tidak mendengar langkah kaki Desta yang mendekat?


“Duh, bisa-bisanya aku menyebut hal-hal tak penting tersebut!” Makiku dalam hati.


“Iya, tapi maksud gue bukan karena pingin cepat ketemu lu lho!” Jelasku tanpa sadar.


Desta tertawa dan mencubit pelan pipiku. “Nggak usah malu-malu gitu kalau emang mau cepat-cepat ketemu gue, susah sih orang ganteng bikin kangen.”


Aku melotot kesal padanya. Bukan karena Ia memuji diri sendiri, namun karena malu mengucapkan hal yang tak perlu.


“Ngaku aja deh kalau lu mulai suka gue.” Tebaknya. “Tuh kan… Lu diem. Pasti lagi mikir, buat mengelak gimana.”


“Enak aja!” Jawabku. “Gue males aja berdebat, tentang hal yang jelas-jelas kita udah tahu jawabannya.”


“Cewek emang gitu ya?” Tanyanya penasaran. “Nggak pernah jujur dan selalu malu-malu sama perasaannya.”


“Idih, lu aja yang kepedean!” Seruku tak mau kalah. “Maksa banget pingin gue suka lu.”


Desta kembali tertawa. “Inget Gie jangan terlalu kesal sama gue, nanti beneran jatuh cinta lho.” Candanya.


“Nggak bakal!”


“Yakin?”


“Yakin.” Kelakku.


                                                            ♥♥♥♥


Sekilas aku melihat sosok pria dan wanita yang berjarak 10 meter dari tempatku tampak mirip dengan dengan Desta. Walaupun tidak begitu jelas karena keadaan pusat perbelanjaan sedang ramai, namun dari tinggi, bentuk tubuh, dan gaya rambutnya pria tersebut mirip dengannya.


Aku sendiri merasa canggung karena semenjak taditampak seperti agen mata-mata yang mengikuti target dari belakang. Bukan kenapa-kenapa, tapi hanya penasaran dengan wanita yang bersamanya.


Walaupun tidak ada hak aku tahu Ia berkencan dengan siapa saja, tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal dan membuat perasaan dihatiku seperti dicengkram erat oleh sesuatu yang tak nampak.


“Maaf, maaf. Nggak sengaja.” Kataku segera meminta maaf karena menabrak seseorang. “Aduh mau saya beliin baju nggak?” Lanjutku karena menyadari pakaian pria dihadapanku kotor dengan tumpahan kopi.


“Eh.” Kataku terkejut saat melihat wajahnya. “Desta?”


“Iya Desta, lu pikir siapa?”


“Nggak gitu.” Balasku bingung karena merasa tadi aku mengikut sosoknya dari jauh, bagaimana mungkin tiba-tiba kami bertabrakan? Lalu kenapa juga Ia bisa dengan cepat berganti pakaian. “Bukannya tadi lu pakai bajau hitam, terus jalan sama cewek?”

__ADS_1


“Iya baju gue hitam karena kena kopi.”  Sindirnya.


“Bukan.” Potongku kesal. “Baju hitam, benar-benar hitam bukan kotor kena kopi.”


“Gie, perasaan gue nggak ada bikin kepala lu benjol kenapa lu jadi linglung gini?” Tanyanya tertawa.


“Ih serius Dest!” Seruku. “Beneran gue tadi lihat lu pakai baju warna hitam lagi jalan sama cewek.”


“Itu bukan gue kali. Orang gue ke sini ada kerjaan terus klien gue cowok.” Jelasnya.


“Bohong ah!” Kataku tak percaya. “Bisa aja nih lu ganti baju terus ceweknya lu suruh duduk di mana dulu.”


“Nih.” Tunjuk Desta pada tasnya yang berisikan laptop dan buku. “Lu kenapa sih? Cemburu?” Tebaknya asal.


“Nggak lha!” Sanggahku.


♥♥♥♥


Lapangan basket di dekat rumahku sama sekali tak berubah, walaupun aku tak lagi memakai seragam abu-abu putih dan telah bekerja namun tempat ini tetap sama.


Aku mengambil bola dan kembali berlari untuk melemparnya ke dalam ring, rasanya sudah lama sekali tubuhku tak


digunakan untuk berolah raga, tidak hanya merasa kaku namun juga tak selincah dulu.


“Aagh!” Teriak suara yang tak asing ditelingaku.


Aku langsung berlari ke arah Anggie yang terduduk di aspal dengan tangan memegang kepala. Tanpa sadar aku tersenyum geli melihatnya meggerutuku kesal.


“Lu nggak bisa main?” Tanyanya kesal saat melihatku.


“Menurut lu?”


“Maaf-maaf, sini gue lihat.”


“Emang lu minta maaf benjol di kepala gue bisa hilang?”


“Udah bagus gue minta maaf, lain kali gue tinggalin aja.” Candaku.


“Dasar nggak punya hati.”


“Lu itu lucu ya.” Kataku tersenyum padanya dan mengacak-acak gemas rambutnya karena wajahnya selalu terlihat kesal ketika bersamaku.


“Nggak usah mengalihkan pembicaraan, dasar nggak bisa main!” Ujarnya.


 “Emang lu bisa?” Selidikku. “Nggak bisa ya?” Lanjutku meledek melihatnya hanya terdiam dan menggigit bibirnya.


“Bisa!” Jawabnya yakin. “Siapa bilang nggak bisa?” Lanjutnya mengambil bola ditanganku.


Aku berdiri dan menggandengnya berjalan kebagian tengah lapangan basket. Anggie terlihat gugup dan membuatku semakin ingin menjahili dirinya.


“Lu masukin bola ke sana.” Tunjukku pada ring di sisi kanan. “Dari sepuluh kali kesempatan minimal masuk tiga aja.”

__ADS_1


“Gitu aja?” Tanyanya menantang.


Aku mengangguk.


“Kalau gue sukses. Lu harus traktir gue makan satu bulan penuh pagi, siang, sore, malam. Gimana?” Tawarnya.


“Jangankan sebulan, setahun juga boleh.” Kataku mantap.


Anggie tersenyum setuju dan langsung mencari posisi tepat untuk memasukan bola ke ring. Sayangnya sepuluh kali kesempatan yang dimilikinya Ia hanya mampu memasukan satu bola dan membuatku tertawa terpingkal-pingkal karena Ia berlari kesana kemari mengejar bola.


“Agh!” Seruku kaget.


“Aduh sakit ya?” Tanyanya khawatir. “Maaf maaf, gue kira nggak bakal kena. Dari tadi aja gue fokus nggak masuk, eh lempar ke lu kena.”


“Gue teriak karena kaget bukan sakit. Kok lu khawatir banget sih sama gue?” Godaku padanya.


 “Gie.” Panggilku padanya yang terdiam dan langsung berdiri meninggalkanku. “Gue senang lu perhatian.”


Anggie membalikan badannya dan menjulurkan lidahnya saat menatapku, seakan-akan Ia menganggap kata-kataku hanya candaan.


                                                            ♥♥♥♥


“Sebal!” Teriakku pada diri sendiri dan mengacak-acak rambutku kesal, karena dengan cerobohnya bisa sampai terjatuh.


“Perasaan baru juga beli, kok cepat banget patahnya.” Gerutuku kesal masih terduduk di aspal karena kakiku terasa sakit dan mulai membiru.


Rasa kesalku bahkan meningkat dua kali lipat saat melihat Desta berdiri dan tertawa tak jauh dariku. “Bukannya nolong, malah ketawa. Agh! Kenapa juga gue suka sama lu.” Batinku.


“Lu ngapain duduk di aspal?” Tanyanya pura-pura bodoh.


“Menurut lu?”


“Sakit nggak?”


“Menurut lu?” Balasku kesal, karena Ia bertanya hal yang sudah pasti.


“Kalau menurut gue sih, lu baik-baik aja.”


“Hei hei lu mau kemana?” Protesku karena Desta berjalan menjauh. “Bukannya bantuin malah main pergi aja. Dasar nggak bertanggung jawab!”


“Lho lu nggak bilang minta ditolong, mana gue tahu lu kenapa.” Belanya seakan tak mau kalah.


“Lu kan pacar gue!” Seruku. “Walaupun sandiwara, masa iya lu tega biarin gue?” Tanyaku memelas berharap Ia menolongku.


Desta tersenyum. “Nah gitu dong, kalau mau ditolong bilang aja. Nggak usah banyak gengsi.” Jelasnya, menggendongku.


“Iya iya makasih.” Sahutku masih kesal.


“Idih ini anak udah ditolong bukannya bersyukur.” Serunya.


“Eh lu mau ngapain?” Tanyaku kaget karena Ia mendekatkan wajahnya padaku. “Jangan cium-cium gue.” Pintaku karena takut wajahku kembali merona merah dan tak bisa mengontrol diriku untuk tak membalasnya.

__ADS_1


Desta memajukan bibirnya didekat keningku dan meniupnya pelan. “Ada pasir dekat mata lu, nanti sakit kalau masuk mata.”


                                                            ♥♥♥♥


__ADS_2