
“Pasti bisa Dest!”Kataku menyemangati diriku.
Rasanya berpikir semalaman untuk meresmikan hubungan sandiwara ini menjadi lebih serius membuatku menjadi sulit tidur. Bukan hanya takut Anggie menolak, namun juga takut bila sebenarnya Ia tak memiliki perasaan sama denganku, Ia akan pergi.
Aku menghirup nafas mengeluarkan, menghirup mengeluarkan, namun rasanya perasaanku
tak kunjung tenang. Rasanya sangat gugup!
Walaupun ini bukan kali pertama mengajak seseorang berpacaran, namun ini adalah saat pertama aku mengungkapan perasaanku sesungguhnya kepada orang yang benar-benar aku sayang, bukan hanya sebatas menjadi bahan taruhan seperti dulu.
Aku mengambil kotak kecil berwarna merah yang kuletakkan dalam sakuku. Di dalamnya terdapat kalung dengan bandul berhuruf A. Selain manis, kalung berinsial nama Anggie ini juga merupakan perhiasan pertama yang pernah kubeli untuk seseorang.
Pelan tapi pasti pintu apartemen Anggie mulai terlihat. Aku menjulurkan kepalaku sedikit, untuk melihat melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat. Rasanya saat ini jantungku berhenti berdetak.
Sakit! Namun aku sadari ini salahku karena membiarkan hubungan kami tergantung terlalu lama. Tapi bukankah kami sudah sangat dekat?
“Desta.” Panggil Anggie saat melihatku.
Aku tersenyum canggung dan segera memasukan kembali hadiah untuknya kedalam saku celana. “Ayo masuk.”
Panggilnya lagi dan menarikku pelan karena masih berdiri mematung di depan pintu.
Kami berjalan ke arah ruang tamu. Suasana di sini terasa aneh dan membuatku tidak bisa berpikir. Suara yang tadi
aku dengar, berasal dari pria yang masih duduk dengan mengenggam sebuket mawar putih untuk Anggie.
Rasa canggung masih meliputiku. Semakin lama aku berada di sini, rasanya hanya semakin membuatku kesal pada diriku sendiri, marah karena terlalu lama menunda, kecewa karena berakhir seperti ini.
“Sorry.” Kataku memecah hening di antara kami bertiga. “ Kalau gue ganggu.”
Pria berkemeja abu-abu dengan kacamata frame hitam itu hanya menggeleng dan kembali tersenyum menatap Anggie dengan penuh cinta, seakan tak ingin melewatkan seditikpun.
Anggie tersenyum dan menarikku untuk duduk bersamanya.Dari wajahnya aku bisa menebak bahwa Ia sedang bahagia. Apakah mungkin bahwa pria tersebut telah menyatakan perasaannya dan mereka sudah menjadi pasangan?
“Kalian belum saling kenal kan.” Kata Anggie kepadaku.“Desta ini Brian. Brian ini Desta.”
“Kalian ada hubungan apa?” Tanyanya tanpa basa-basi usai kami berkenalan.
“Ka...”
“Kami cuma teman.” Potongku, saat Anggie akan berbicara. “Dan kebetulan karena lewat, gue mampir ke sini.”
Lanjutku berbohong.
“Terus kalian sudah lama saling kenalnya?” Lanjutnya menyelidik.
“Sorry. Kebetulan gue ada keperluan lain.” Balasku tanpa peduli pada pertanyaan Brian. “Jadi gue pamit harus
pamit dulu, maaf banget ya.”
“Dest.” Panggil Anggie.
Aku berhenti dan membalikan badanku. “Ya?”
“Jangan pulang dulu.” Pintanya setengah memohon.
“Gie.” Kata Brian yang juga ikut berdiri. “Desta ada janji. Nggak enak kan kamu minta dia tetap di sini.” Lanjutnya, dan mengajak Anggie kembali duduk.
“Tapi...”
“Have Fun.” Kataku, tersenyum palsu.
♥♥♥♥
__ADS_1
Aku masih tidak mengerti dengan sikap Desta padaku semalam. Ia terlihat sangat aneh! Pertama, Ia terlihat lebih rapi dibandingkan biasanya. Kedua, Desta terlihat gelisah seakan ingin cepat-cepat pergi.
Iya memang sih dia beralasan memiliki sebuah janji. Namun tetap saja sikapnya sangat ganjil!
“Hhh.” Rasanya sakit saat Ia menyebut kami hanya teman. Iya memang hubungan kami hanya pacar sandiwara, tapi bukankah dia dan aku sudah melakukan hal-hal layaknya pasangan yang saling mencintai? Lalu apa artinya ciuman yang selalu Ia berikan padaku?
Konyol! Percuma rasanya aku senang Ia datang kemari menjumpaiku kemarin. Tapi setidaknya bila Desta menganggapku teman, ada baiknya Ia memotong ucapanku dan tak membuatku malu karena berpikir bahwa kami lebih dari sekedar sandiwara.
Aku memarkirkan mobilku di depan rumah Desta. Perasaan ingin tahu dan tak sabar untuk mengetahui jawaban
atas sikapnya, membuatku menjadi lupa harus dari mana memulai pertanyaanku.
Namun pemandangan yang aku lihat membuatku sadar, bahwa semua pertanyaan yang ingin kutanyakan semalaman sudah terjawab. Jantungku terasa sakit, seakan air mataku ingin keluar melihat wanita tersebut memeluk Desta.
“Bodoh!” Makiku pada diriku yang telah jatuh cinta padanya. Seharusnya aku sadar bahwa itu memang tabiatnya, memainkan hati wanita.
“Anggie.” Panggilnya.
Aku membalikan badan dan tersenyum palsu kepadanya.
“Ayo masuk.” Pintanya.
“Siapa” Tanya wanita di samping Desta penuh selidik kepadaku.
“Anggie.”
“Bukan nama, tapi lu itu siapa?”
“Gue…”
“Gie, Kamu tumben ke sini nggak kasih kabar?” Potong Desta.
“Iya kalau aku kasih kabar, aku nggak akan tahu kamu dekat sama cewek lain!” Jawabku dalam hati, karena rasanya makian dan rasa kesalku tak sepantasnya kuungkapan kepada seseorang yang menganggapuku hanya sebagai teman.
“Erika?”
Aku mengangguk.
“Baru aja dia pergi. Kamu mau tunggu?”Tanyanya. “Eh aku angkat telfon dulu.”
“E..”
“Wait! Kalian ada hubungan apa? Kenapa harus berbicara dengan aku dan kamu?” Potong wanita tersebut seakan
tak suka dengan kedekatan kami.
“Gue teman Erika, wajar dong kenal Desta?” Jawabku sedikit kesal.
Rasanya begitu sakit! Bahkan ini lebih sakit dari perasaan kehilangan yang pernah kurasakan sebelumnya. Ingin rasanya aku menangis, namun kutahan agar tak terlihat bodoh dan menyedihkan di depan Desta.
“Lu beneran teman Erika?” Tanyanya seakan masih tak percaya. “Setahu gue, Desta dan adiknya beda empat tahun. Kok lu sok akrab banget panggil namanya?”
Aku terdiam menahan rasa kesalku. Rasanya ingin aku mencakar, menjabak, bahkan menendang wanita sombong dihadapanku. Namun aku sadar, hal itu tak akan membuat Desta menganggapku lebih dari sekedar pacar sandiwaranya.
“Gue pergi dulu.”Kataku acuh tanpa peduli pada pertanyaanya.
"Gie.” Panggil Desta yang telah kembali dari dalam rumah. “Mau kemana?”
“Erika kan nggak ada, jadi mau balik aja.” Pamitku, tanpa ingin melihat Desta.
♥♥♥♥
“Hhh.”
__ADS_1
Seminggu ini terasa begitu lama dan menyiksa! Hubungan kami yang semula baik mendadak menjadi kacau.
Aku tahu semuanya memang salahku, namun rasanya sulit untukku menahan agar tak menghubunginya. Walaupun memang Ia tak pernah lagi membalas pesanku atau mengangkat telfonku, namun hatiku seakan masih ingin berharap.
“Untuk berapa orang pak?” Tanya pelayan restoran mengejutkanku.
“Meja atas nama Bapak Joe Suherman.”
“Baik pak. Mari saya antarkan.” Jawab pelayan tersebut ramah. “Pak, ini meja pesanan Bapak Joe Suherman.” Lanjutnya usai kami tiba di meja nomer 53.
Aku tersenyum singkat, sebelum akhirnya menyadari dua orang dihadapanku adalah Anggie dan Brian.
“Des…ta.” Kata Anggie terkejut.
“Hai.” Sapaku. “Kebetulan banget ya bisa ketemu di sini.” Lanjutku menyindir karena Ia tak pernah membalas pesanku.
Anggie mengangguk, tersenyum, dan menundukan wajahnya usai melihatku, seakan sama sekali tak ingin berbasa-basi. Hhh, rasanya aku begitu bodoh masih mencari dan terus menghubunginya, hanya untuk
menjelaskan cinta bertepuk sebelah tangan ini.
“Lu udah kenal lama, sama pak Joe?” Tanya Brian memecah hening di antara kami bertiga.
“Bokap gue. Gue baru pertama kali.” Jawabku. “Lu sendiri?” Tanyaku balik sebagai formalitas.
“Cukup lama. Gue punya saham di perusahaan beliau, jadi keluarga gue sering bekerja sama.” Jelasnya. “Kalau boleh tahu, lu kenal Anggie udah lama?” Lanjutnya menyelidik, pertanyaan yang belum kujawab ketika di rumah Anggie.
“Lu sendiri?” Tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya, karena ingin tahu, sejak kapan Anggie mengenal Brian,
dan kenapa aku tak sadar bahwa ada pria lain di hatinya?
“Udah lama. Gue baru pulang dari Amerika.”
Anggie tersenyum padaku. “Nggak apa-apa, lu udah bantuin tapi gue nggak pernah jelasin. Jadi gue pacaran sama dia karena iseng aja. Gue kesepian. Gue kira dengan punya pasangan bisa bikin gue senang, ternyata nggak.”
“Karena dia selingkuh?”
Anggie menggeleng. “Bukan, karena gue nggak cinta sama dia. Gue kira dengan mencari pacar gue bisa lupain seseorang yang dulu dekat banget sama gue, tapi nggak.”
“Seseorang itu maksudnya cowok?” Selidikku tanpa sebab.
“Iya cowok. Kenapa? Cemburu yaa?” Tanyanya menggoda.
“Mana ada! Kan sekarang lagi marak LGBT.” Candaku.
“Enak aja!” Balasnya tertawa.
“Kalau lu masih cinta kenapa putus?” Lanjutku kembali pada topik.
“Kita nggak pernah pacaran Dest, jadi ketika dia memilih pergi Ke Amerika gue nggak ada hak apapun. Lagi pula kalau dibilang cinta pun, gue nggak tahu gimana perasaan gue sebenarnya.”
Aku membentuk huruf O pada bibirku. Seakan sadar, bahwa Brian adalah pria yang pernah Anggie ceritakan padaku. Mungkin pertemuan mereka setelah sekian lama, membuatnya sadar bahwa sebenarnya Ia ternyata mencintai Brian dan menganggapku hanya seperti Evan.
“Ehm. Sorry. Gue ada urusan mendadak. Gue pulang dulu ya.”Pamit Anggie kepadaku dan Brian.
“Mau ditemani?” Tanyaku dan Brian bersamaan.
Anggie menggeleng, dan tersenyum simpul. “Gue naik taxi aja.”
Aku mengangguk setujudan mengutuk diriku sendiri yang masih dengan bodoh menganggap bahwa hubungan kami masih dekat.
♥♥♥♥
__ADS_1