TeaAmore

TeaAmore
Episode 6 - Balas Budi


__ADS_3

“Oh, her eyes, her eyes


Make the stars look like they're not shinin'


Her hair, her hair


Falls perfectly without her trying


She's so beautiful


And I tell her everyday


Yeahh


I know, I know


When I compliment her she won't believe me


And it's so, it's so


Sad to think that she don't see what I see


But every time she asks me "Do I look okay?"


I say


When I see your face


There's not a thing that I would change


'Cause you're amazing


Just the way you are


And when you smile


The whole world stops and stares for a while


'Cause girl you're amazing


Just the way you are.”


“Lu bisa main gitar dan nyanyi.” Kataku tak percaya saat melihat Desta.


Aku memang tidak mengira bahwa dia memiliki bakat dalam bidang seni. Mengingat sifatnya yang menyebalkan itu


justru membuatku berpikir dia menarik hati wanita hanya karena penampilannya.


“Lagu ini buat lu.” Katanya seakan serius.


Aku terdiam dan menatapnya tak percaya. “Buat gue?” Tanyaku memastikan.


Desta tertawa, bahkan tawanya lebih keras dibandingkan selama ini yang pernah kulihat. “Aduh perut gue sakit lihat wajah kaget lu.” Jelasnya. “Nih ya dibandingkan gue nyanyi buat lu, mending gue godain ibu-ibu di depan tuh.”


Lanjutnya menunjuk sekumpulan ibu-ibu yang asik berbelanja sayur.


“Aneh banget sih lu ganteng-ganteng sukannya sama emak-emak” Celetukku tanpa sadar.


Desta memajukan kepalanya dan mengarahkan telinganya ke arahku. “Ganteng? Akhirnya lu sadar kalau gue ganteng!”


Aku  menggelengkan kepala dan mengutuk diriku sendiri yang tanpa sadar mengatakan kata-kata tersebut. “Bodoh.” Kataku dalam hati.


“Ya kan?” Desak Desta padaku.


“Nggak. Maksud gue itu, lu itu terlalu ganteng kalau buat ibu-ibu.” Jawabku lagi-lagi dengan bodohnya.


“Intinya, lu mau bilang gue ganteng kan?” Tanyanya masih mendesakku.


Aku kembali diam dan berdecak-decak kesal dalam hati. Argh! Aku merasa sangat kesal padanya! Kenapa sih jadi orang percaya diri banget dan kenapa juga dengan seenaknya bikin orang ‘GR’ (Gede Rasa). Menyebalkan!


“Eh iya lu ngapain berdiri depan pintu? Mau jadi satpam?”


“Suka-suka gue dong!” Jawabku sekenanya, kenapa juga dia harus peduli aku mau berdiri atau bagaimana? “Lu ngapain di sini?” Tanyaku menyelidik karena menyadari Ia berada di rumah Fanie.


“Ini rumah gue, masa gue nggak boleh di sini?” Tanyanya meledek.


“Rumah Fanie di mana?” Tanyakku tanpa peduli, walaupun rasanya sangat malu karena semenjak tadi akulah yang salah.

__ADS_1


“Di sebelah, catet ya nomer empat puluh tiga bukan satu.” Jelasnnya menekankan nomer rumahnya berbeda


dengan Fanie.


Aku kembali terdiam dan berdecak kesal. Dasar pria menyebalkan! Bisa-bisanya kemarin kami makan dan


sempat berbincang layaknya orang yang telah mengenal lama.


♥♥♥♥


“Gue jadi pacar sandiwara di depan keluarga lu?” Tanya Anggie menatapku tak


percaya. “Ngapain? Gila lu? Gue nggak mau!”


“Hm. Bukannya kita udah sepakat, kalau lu bakal bantu gue kapan pun?” Kataku mengingatkan perjanjian di antara kami.


Anggie menggaruk-garuk pelan kepalanya. Aku yakin dia pasti ingat tentang kesepakatan kami dan tak akan menolak. “Oke. Gue ingat. Tapi, kenapa harus gue dikenalin ke keluarga lu? Itu nggak sebanding.”


“Nggak sebanding? Lu jadiin gue pacar sandiwara di depan Evan dan lu jadipacar sandiwara depan keluarga gue. Nggak sebanding gimana?” Tanyaku. “Intinya.” Kataku memotong Anggie yang hendak berbicara. “Kita sama-sama jadi pacar sandiwara kan.”


“Gini deh, kata lu cewek yang deketin lu banyak. Terus, kenapa harus gue coba yang jadi pacar sandiwara lu? Jangan-jangan lu bohong lagi ya soal banyaknya cewek yang mau sama lu?” Selidiknya.


“Gue tinggal di Australia selama ini, bukan di Bogor. Lu ini pikun atau gimana? Lagi pula kalau gue jadi lu, gue sih pasti mau. Secara orang lain akan lihat lu bisa dapet cowok seganteng gue.”


“Itu kan kalau lu jadi gue. Kalau gue pribadi, nggak ada namanya di kamus gue mau sama lu!” Jelasnya tak mau kalah. “Lagi pula kita pacaran hanya di depan Evan, bukan benar-benar pacaran karena cinta, buat apa gue


bangga?”


“Jadi lu mau jadi pacar gue beneran, nggak cuma depan Evan?” Godaku.


“Males banget!” serunya.


“Eits lu galak-galak gitu gue bilang Evan nih kalau kita cuma sandiwara.” Godaku lagi.


“Ih jangan lha! Lu nggak lihat dia freak banget kejar-kejar gue sampai harus lihat cowok gue yang mana.” Serunya kesal.


“Ya udah gue nggak bilang, tapi lu harus balas budi jadi pacar sandiwara gue. Oke?” Tawarku.


“Iya deh iya.” Jawabnya pasrah. “Lu kan masih terbilang muda, kenapa sih harus cepat-cepat bawa pacar?”


“Bohong Ah!” Serunya tak percaya.


“Iya intinya nyokap gue nggak mau gue jomblo.”


“Kalau keluarga lu tahu, gue bukan cewek lu gimana?”


“Evan...”


“Evan bakal tau kita sandiwara?” Potong Anggie menebak jalan pikirku.. “Pokoknya kita cuma sandiwara ya.” Jelasnya.


“Mau sandiwara, pura-pura, mainan, benaran. Intinya lu udah berhutang budi sama gue. Jadi lu harus bantu gue. Sampai masalah ini selesai. Deal?” Tanyaku padannya yang tetap terdiam seakan menimbang-nimbang sesuatu.


“Ada bayaranya nggak?”


“Lu bayar gue nggak?” Ingatku padanya, bahwa aku bekerja gratis selama ini.


♥♥♥♥


“Dest, ini kan jam delapan pagi. Kita janjian jam dua belas?” Tanya Anggie, terlihat masih mengantuk.


Aku mengangguk tanda mengerti. “Iya. Gue cuma mau pastiin lu nggak kabur.”


“Gue nggak bakal kabur.” Jawabnya cemberut dan mengijinkanku untuk duduk.


“Gini Gie, gue nggak mau sandiwara ini gagal. Karena itu pagi-pagi gue ke sini.”


“Oke. Jadi biar sandiwara ini sukses gue harus ngapain?” Tanyanya tanpa memperhatikanku dan sibuk mengganti saluran televisi.


“Pertama, kita jawab bahwa telah saling mengenal tujuh tahun. Namun baru meresmikan hubungan ini setelah gue pulang dari Aussie. Kedua, siapa tahu mereka iseng bertanya apa hobby, makanan yang gue suka, dan kebiasaan-kebiasaan yang gue lakuin. Ketiga, lu harus panggil gue sayang di depan mereka.”


Anggie mematikan televisi dan menatapku ingin penjelasan. “Gue harus bohong, mengahafal tentang lu, dan juga manggil lu dengan sebutan sayang? Bisa gila gue.”


“Iya, lu harus lakuin itu semua! Kecuali lu mau sandiwara ini gagal dan Evan tahu bagaimana hubungan kita, gimana?


Anggie berdecak-decak kesal. “Oke. Demi Evan nggak tahu, gue rela.”


Aku tersenyum dan memberikan Anggie catatan yang sudah kupersiapakan semenjak tadi malam. “Dihafal dan dimengerti ya.”

__ADS_1


- Desta Hadi Setiawan


- Bogor 8 Juli 1990


- Golongan Darah 0


- Nasi Uduk


- Bermain alat musik


- Bangun pukul 06.00\, di lanjutkan sarapan dengan telur setengah matang. Kemudian mandi dan bersiap-siap menuju kantor pukul 07.45.


-Bekerja di kantor LePrief, dan memiliki cabang di Australia dan Jakarta.


- Anak pertama dari pemilik LaPrief\, sekaligus pewaris resmi dari Handoko Setiawan dan istrinya Vanessa Rini.


- Memiliki adik wanita bernama Charoline Erika Setiawan\, yang berusia 19 tahun.


- Kuliah di Australia selama 3tahun\, dan mengambil jurusan bisnis. 4tahun berikutnya\, sepenuhnya mengolah perusahaan LaPrief di Australia.


“Makanan favorite lu nasi uduk? Seriusan tujuh tahun di Aussie, selera lu Indonesia banget?” Tanya Anggie meledek. “Terus penting banget ya di masukin golongan darah? Nggak sekalian bintang sama shio lu? Atau hari lu lahir lengkap sama jam dan berat badan lu?” Lanjutnya masih tertawa meledek.


“Boleh tuh gue masukin. Tapi awas ya lu nggak hafal.” Balasku.


“Otak gue encer, walaupun gue nggak kuliah di Australia.” Jawabnya bangga. “Coba aja lu test.”


“Nama perusahaan gue?”


“LaBrief.”


“LaPrief.” Kataku meralat.


“Beda satu huruf nggak masalah dong.” Belanya.


“Tetap aja salah.”


“Iya udah ayo coba test lagi.” Tantangnya padaku.


“Nama keluarga gue?”


“Handoko Setiawan, Vanessa Rini, Erika Charoline Setiawan dan usia adik lu sembilan belas tahun, sama seperti gue.” Jawab yakin.


“Salah, Charoline Erika.” Cibirku meledeknya.


“Iya nggak apa-apalah salah dikit, namanya juga manusia nggak luput dari kesalahan.” Belanya lagi.


♥♥♥♥


Ini kali kedua aku berkunjung ke tempat tinggalDesta. Walaupun memang kunjungan pertama hanya mampir di depan rumahnya akibat salah mengira rumahnya sebagai tempat tinggal Fanie. Namun bukan berarti diundang langsung olehnya membuatku nyaman, justru perasaan gugup membuatku tak bisa berkonstrasi dengan benar.


Iya jelas saja aku merasa demikian, bagaimana tidak? Dia mengundangku untuk bersandiwara dihadapan keluarganya! Tentu buatku ini adalah hal gila, walaupun orangtuanya bukanlah calon mertuaku sesungguhnya, namun bagaimana bila mereka langsung ingin melamar?


“Tenang Gie.” Hibur Desta menggandeng tanganku masuk ke dalam rumahnya. “Gue gandeng lu, bukan karena apa-apa. Tapi biar meyakinkan.” Lanjutnya menjelaskan.


Aku mengangguk mengerti tanpa berniat membalas ucapannya. Saat ini dipikiranku hanya perasaan canggung dan


gugup, belum lagi dengan Desta mengandeng tanganku rasanya membuat wajahku terasa semakin panas.


Aku mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya secara teratur, berharap perasaanku dapat kembali normal. Namun semakin berjalannya waktu justru rasanya perasaan gugup ini tak dapat tertahan.


Oke mungkin ini terdengar berlebihan, tapi jujur saja ini adalah kali pertama aku bertemu dengan orangtua lawan jenis dan mengaku sebagai pacarnya. Bahkan tanpa sadar sebelum datang berkunjung aku memikirkan pakaian apa yang tepat dan bagaimana supayaterlihat natural tanpa berlebih.


“Itu orangtua gue, gue, dan Erika waktu berlibur di Jepang” Tunjuk Desta pada salah satu pigura di atas piano,


seakan tak menyadari keadaanku. “Nah di sampingnya waktu gue wisuda, ganteng kan?”


“Iya ganteng.” Jawabku sekenanya.


“Hahaha.” Balas Desta tertawa dan membuatku terkejut. “Lu kenapa sih? Takut banget mau ketemu nyokap bokap gue?”


“Menurut lu?” Kataku kesal karena harus terjebak dalam situasi ini.


“Aduh romantisnya.” Potong wanita sebayaku sesaat setelah masuk ruang tamu. “Lanjut nanti ya sayang-sayangnya, nyokap udah kelar masak tuh. Yuk masuk makan.” Ajaknya ramah.


Desta mengangguk dan segera membelai lembut jemariku, seakan Ia mengerti perasaan gugup dan khawatirku.


♥♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2