TeaAmore

TeaAmore
Episode 2 - Perjodohan


__ADS_3

Baru saja rasanya terlepas dari pria sombong yang membuatku kesal, kali ini sahabat baikku justru menambah hari burukku. Entah apa yang ada di pikiran Tania yang selalui ingin aku mendapatkan pacar. Rasanya kesal! Seakan Ia tidak puas bila teman semenjak kecilnya tak segera menemukan kekasih.


Okelah, bila pria yang dikenalkan padaku baik dan benar. Namun selalu saja dia menemukan spesies ajaib yang


membuatku justru menggelengkan kepala usai kencan buta.


Jujur saja, berkencan terus menerus seperti ini membuatku bosan dan semakin mengerti bahwa aku sama sekali tidak tertarik menjalin hubungan. Iya, sendiri rasanya lebih baik. Bebas bahkan tidak terikat dengan ketidakpastian yang akan membuatku bersedih.


“Hhh.” Rasanya kepergian dirinya semenjak tujuh tahun lalu masih membuatku terluka. Walaupun hubungan kami tidak memiliki ikatan apapun, tapi untukku dia berharga.


“Anggie.” Panggil Tania padaku. “Lu di dalam kan? Nggak kabur lagi kan?” Lanjutnya membunyikan bel apartemenku tanpa henti.


“Gue nggak kabur.” Jawabku mengijinkannya masuk.


Walaupun aku tinggal seorang diri, apartmentku cukup luas dengan dua kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, teras, dan dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.


“Gue kira lu kabur lagi.” Balas Tania tertawa geli dan menekankan kata “lagi.” karena sudah lebih dari empat kali, aku kabur dari acara pertemuan yang disiapkan olehnya.


Aku mendengus kesal. “Gimana gue bisa kabur dengan tenang. Kalau besok-besoknya, lu tetap datang ke apartment gue?” Prostesku.


“Gue cuma nggak mau lu jomblo Gie. Gue kan prihatin.”


“Oke maksud lu emang baik. Tapi Tan, semua yang lu kenalin ke gue itu absurd abis!” Balasku kesal. “Contohnya Leo. Dia ganteng, bersih banget orangnya, gue aja yang cewek kalah. Tapi lu tahu nggak, dia minta gue jadi pacarnya supaya balikin dia nggak jadi Homo lagi. My God!” Lanjutku.


“Terus Kelvi. Namanya boleh keren, mobilnya juga boleh oke. Tapi waktu dia ketawa giginya emas semua. Lu mau bilang itu trend?” Potongku pada Tania yang hendak membela Kelvi. “Kali ini nggak homo ataupun  bergigi emas kan Tan?”


“Nggak.”


“Nggak suka garuk-garuk kepala dan bikin salju juga kan?”


“Nggak.”


“Bukan om-om juga kan?”


“Nggak Anggie.” Jawab Tania berusaha sabar. “Percaya sama gue kali ini. Cowok yang ini beda banget! Pokoknya lu pasti suka. Cakep. Baik. Mandiri yang pasti recommend. Dia juga teman Eriko.” Jelas Tania padaku, tentang ciri-ciri pria ke tiga belas yang akan dikenalkan padaku.


Aku menghela nafas panjang dan pasrah. Berharap apa yang dikatakan Tania benar. Karena terakhir kali aku mendengar pujian itu, berakhir dengan bertemu Denta. Eh, Denta? Mungkin Seta. Atau Denti. Hm.


“Desta, apa kabar? Terakhir kita ketemu waktu gue ke Aussielihat Eriko wisuda bukan?” Sapa Tania girang tepat


setelah membuka pintu.

__ADS_1


Hm. Desta. Rasanya nama tersebut sama sekali tidak asing. Tapi siapa dia. “Ya ampun.” Kataku pelan dan berusaha mengintip Tania yang masih berdiri di depan pintu.


“Gie sini.” Panggil Tania padaku. “Ini Desta. Teman baik Eriko di Aussie.”


                                                                                    ♥♥♥♥


Alam seakan ingin aku bisa kembali bertemu dengan dirinya, wanita pertama yang membuatku merasa Ia berbeda dari yang lain. Senyum manisnya seakan tanpa sadar membuatku luluh.


Namun bukan berarti aku percaya bahwa perasaan ini getaran cinta. Sebab walaupun dibuatnya tertegun dan tak dapat berkata-kata, tapi aku percaya bahwa cinta akan timbul seiring berjalannya waktu, bukan karena satu pertemuan.


“Hhh, ketemu lagi.” Gerutu Anggie “Sial apa gue.”


“Kalian saling kenal?” Tanya Tania tak percaya dan mempersilahkanku masuk.


Aku dan Anggie mengangguk bersama.


Aku bisa melihat Ia masih terlihat kesal, namun ada perasaan tak asing dari cara dia menatap dan berbicara, seakan kami pernah berjumpa sebelumnya.


“Tan.”


“Hm.”


“Kok Anggie bisa ada di sini?”


Aku mengangguk paham pada maksud Tania, namun masih bertanya pada diriku sendiri yang merasa bingung dengan kebetulan orang-orang disekitarku yang ingin aku dekat dengan Anggie.


“Dan gue nggak tahu kalau kalian saling kenal. Kalau gini sih misi gue gampang suksesnya.” Lanjutnya tersenyum.


“Nih minuman lu orang.” Kata Anggie usai membawanya dari dapur.


“Gie, biar nggak ganggu gue balik ya sekarang” Pamit Tania, langsung bersiap-siap pergi. “Jangan berantem, apalagi benci. Nanti cinta lho.”


“Tannn.” Panggil Anggie.


“Dadah.” Balas Tania melambaikan tangan pada kami dan segera menutup pintu, seakan tak peduli pada ekspresi tak setuju Anggie.


 “Kapan lu pulang?” Tanya Anggie padaku.


“Lu ngusir tamu?”


“Lu bukan tamu gue, Lu tamu Tania. Dia udah pulang, kenapa lu masih di sini?”

__ADS_1


“Memang gue nggak boleh di sini?”


“Masih ditanya?”Tatapnya menatapku tak percaya. “Ya nggak lha!”


“Tapi gue masih mau di sini.” Balasku seakan tak peduli.


“Wah lu benar-benar gila ya! Dari pertama ketemu aja selalu bikin emosi, heran banget deh apa salah gue ketemu lu lagi hari ini.”


“Emang kenapa? Gue buat salah sama lu? Nggak kan.”


Lagi-lagi Anggie memberikan eskpresi tak percaya padaku. “Gini ya, gue jelasin buat lu. Ingat kan kemarin waktu Fanie kenalin kita, gue baik lho nyapa lu ramah dan senyum. Respon lu gimana? Ngangguk doang!”


“Terus lu kesal karena gue cuek sama lu?”


Anggie tertawa, terlihat bahwa saat ini dia benar-benar kesal denganku dan entah kenapa ekspresinya justru membuatku gemas dan ingin terus menganggunya. “Nggak lha! Cuma heran aja, ketemu orang nggak ada etika.”


“Ya udah terus kalau nggak kesal dan cuma heran, kenapa sekarang marah-marah?”


“Gue nggak marah dan kesal, astaga!” Jawabnya tegas. “Duh kok bisa sih Fanie mau kenal sama lu.”


“Ya kenapa gue kan ganteng.”


“Amit-amit, ya ampun PD banget jadi orang!”


Aku tertawa gemas, ingin rasanya mencubit wajahnya, tetapi diriku sadar bahwa kami baru kenal dan tak


pantas rasanya aku terlalu SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengannya.


“Malah ketawa lagi!”


“Jadi gimana? Gue di sini salah, ketawa salah.”


“Pulang mangkanya sana, hus hus hus!”


“Lho bukannya lu buatin minum biar gue betah di sini?” Tanyaku kembali menggodanya.


“Gila, mana ada! Dari tadi gue pingin lu cepet balik tahuuuu!”


“Yakin nih ya? Ya udah gue pulang. Tapi... Jangan kangen sama gue.”


“Kangen? Amit-amit, bwek!” Jawabnya menjulurkan lidah.

__ADS_1


                                                                        ♥♥♥♥


__ADS_2