TeaAmore

TeaAmore
Episode 27 - Kebenaran


__ADS_3

“Apakah aku orang kedua yang kamu kunjungin setelah dia?”


Aku menggeleng tanpa sadar, dan hanya terdiam karena bingung harus menjelaskan apa padanya.


Rasanya begitu sulit menutupi segala sesuatu yang tak ingin kusembunyikan darinya, namun aku juga tak bisa


menjelaskan bahwa dia adalah seseorang yang kucintai. Satu-satunya harapanku, Anggie menyadari bahwa segala sesuatu yang kuceritakan padanya adalah hubungan kami.


“Maaf.” Lanjutnya. “Aku lagi pusing, banyak pikiran. Jadi ngomongnya nggak jelas, ngelantur kemana-mana.”


“Aku yang seharusnya minta maaf karena…”


“Ngapain kamu minta maaf? Bukan salah kamu kok, aku aja yang lagi banyak pikiran sampai tanya gitu.” Potongnya. “Ya udah yuk kita makan aja.”


Aku mengangguk setuju. “Aku siap-siapin kamu duduk aja.”


“Dest, boleh tanya nggak?”


“Tanya apa Gie?”


“Kalau menurut kamu, gimana sih kita tahu jatuh cinta sama seseorang?”


“Jatuh cinta?” Tanyaku memastikan.


Anggie mengangguk.


Rintik-rintik gerimis mulai turun membahasi, namun seolah tak peduli aku dan dia terus mendayung perahu menikmati waktu berdua. Peristiwa ini bukan de javu ciuman pertama kami, tapi memang kembali terulang di tempat yang sama.           


Aku bisa melihat Anggie tersenyum manis memandangku, bagiku menikmati waktu berdua di bawah hujan bukan hanya mengingatkan momen spesial tersebut, tetapi juga membuat kami layaknya anak kecil yang berbahagia.


“Gie.”


“Ya, Dest?”


“Menurut kamu, apa yang membuat seseorang sadar bahwa dia telah jatuh cinta?”


“Jatuh cinta bukan karena kamu merasa bahwa dia baik atau dia seperti idola impianmu, dan juga bukan karena


dia selalu memberi apa yang kamu mau. Tetapi perasaanmu akan merasa nyaman saat menghabiskan waktu bersamanya.” Jawabnya membelai lembut wajahku.


Aku tersenyum. “Seperti saat ini maksudnya?”


“Ya.” Jawabnya. “Aku merasa nyaman menghabiskan waktuku sama kamu.”


Aku mencium keningnya, berharap kami akan terus mencintai satu sama lain selamanya.


 


“Jatuh cinta bukan karena kamu merasa bahwa dia baik atau dia seperti idola impianmu, dan juga bukan karena dia selalu memberi apa yang kamu mau. Tetapi perasaanmu akan merasa nyaman saat menghabiskan waktu bersamanya.” Kataku mengutip kata-katanya.


“Kenapa rasanya nggak asing ya dengar kata-kata itu.”


♥♥♥♥


Lucu rasanya melihat diriku menikmati waktu berdua bersama Desta, seolah mengambil kesempatan menghabiskan waktu bersamanya selama seseorang yang Ia cintai belum kembali ingat kepadanya.


Bahkan dengan gampang diriku menyetujui ajakan Desta berkunjung ke rumahnya. Hhh, apa boleh aku melanjutkan ini semua?


“Kamu kenapa Gie?”


“Nggak apa-apa, cuma sedikit capek.” Jawabku mengelak. “Rumah kamu sepi ya?”


“Keluargaku jarang di Indonesia, gimana kalau kamu aku ajarin main piano?” Tawarnya.


“Kamu juga bisa main piano?” Tanyaku terkejut.


“Yap! Mau aku ajarin?”


Aku menggeleng. “Nggak Dest, aku sama sekali nggak bisa main alat musik.”


“Nggak apa-apa dicoba dulu, siapa tahu kamu menemukan bakat terpendam.” Bujuknya.


 


Aku tersenyum dan memberikan tepuk tangan usai lagu milik Christian Bautista selesai dinyanyikannya. “Gila! Kamu main gitar bisa, piano bisa. Iri banget! Aku aja kamu suruh cari nada Do di tuts piano ini pasti nggak akan ketemu.”


Ia mengusap lembut rambutku. “Kan ada aku yang bisa mainin untuk kamu.”


“Tapi kamu belajar ini dari kecil ya?”


“Bokap emang suka musik, jadi dia ajari anaknya main alat musik sejak kecil. Tapi orang pasti nggak percaya aku bisa main alat musik.”


“Iyalah! Orang yang bisa main alat musik kan biasanya romantis.” Balasku tertawa.


“Teori siapa coba?”


“Iya pokoknya gitu deh.” Jawabku asal. “Tapi kamu pasti suka pamer ya sama gebetan-gebetan di Aussie dulu?”

__ADS_1


“Nggak.” Balasnya tertawa. “Aku nggak pernah main piano khusus untuk seseorang. Biasanya sih kalau ada acara sekolah, kampus, gitu aja.”


“Mau aku ajarin main piano?” Lanjutnya menawariku.


Aku tertawa membayangkan diriku bermain alat musik, rasanya pasti akan merusak permainan. “Aduh! Jangan deh gue nggak ada bakat seninya.”


“Nggak apa-apa dicoba dulu, siapa tahu kamu menemukan bakat terpendam.” Bujuknya.


 


“Kamu kenapa Gie?”


“Nggak apa-apa. Hanya...” Kataku terputus.


“Hanya apa?”


“Seperti mengalami dejavu. Rasanya aku pernah mengalami hal ini.” Jelasku. “Ehm. Tapi nggak usah dibahas.


Kamu mau main lagu apa?” Lanjutku mengalihkanpikiran tak jelasku.


“All Of Me.” Jawab Desta dan mulai menuntunku memainkan nada-nada piano.


“What would I do without your smart mouth?


Drawing me in, and you kicking me out


You've got my head spinning, no kidding, I can't pin you down


What's going on in that beautiful mind


I'm on your magical mystery ride


And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright


My head's under water


But I'm breathing fine


You're crazy and I'm out of my mind.”


Cause all of me


Loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me


I'll give my all to you


Even when I lose I'm winning


'Cause I give you all of me


And you give me all of you, ohoh


“How many times do I have to tell you


Even when you're crying you're beautiful too


The world is beating you down, I'm around through every mood


You're my downfall, you're my muse


My worst distraction, my rhythm and blues


I can't stop singing, it's ringing, in my head for you


My head's under water


But I'm breathing fine


You're crazy and I'm out of my mind


'Cause all of me


Loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me


I'll give my all to you

__ADS_1


Even when I lose I'm winning


'Cause I give you all of me


And you give me all of you, ohoh


Give me all of you


Cards on the table, we're both showing hearts


Risking it all, though it's hard


'Cause all of me


Loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me


I'll give my all to you


Even when I lose I'm winning


'Cause I give you all of me


And you give me all of you


I give you all of me


And you give me all of you, ohoh.”


♥♥♥♥


Aku menutup kedua mataku, menikmati sejuknya udara setelah hujan. Rasanya menghabiskan waktu mendengarkan rintikan air membuat hatiku merasa nyaman.


“Iya dok saya tahu bahwa itu untuk kebaikan dirinya, tapi untuk sekarang orang yang bersangkutan tidak ingin mengikuti terapi tersebut.” Jelas Brian kesal.


Dok? Apakah maksudnya dokter? Lalu terapi? Apa yang sedang Brian bicarakan? Tanyaku dalam hati penasaran karena walaupun kesal, namun volume suaranya terdengar tertahan seolah tak ingin oranglain mengetahui.


“Iya saya juga tahu dok, bahwa dengan tidak ikut terapi ini amnesianya akan lebih lama pulih. Tapi Anggie tak ingin ikut terapi dan ingin semuanya pulih dengan sendirinya, jadi saya nggak ingin memaksa.”


Anggie? Apakah Anggie yang dimaksud itu aku? Tapi kenapa Brian menyebutku amnesia?


Aku mengambil nafas, berusaha berpikir maksud dari perkataannya yang sama sekali tak kupahami. Apa mungkin maksud Brian kenalanya yang bernama sama denganku?


Prank.


Bunyi vas pecah bersamaan dengan jatuhnya diriku, membuat Brian sadar dan segera berlari kecil menuju teras. “Kamu nggak apa-apa Gie?” Tanyanya khawatir, membantuku berdiri.


“Bri, aku nggak sengaja dengar kamu telfon.” Balasku tanpa peduli pada tanganku yang berdarah akibat pecahan kaca. “Apa maksudnya?”


“Kamu dengar?”


Aku mengangguk. “Iya dari tadi aku di sini, kamu lupa teras ini tepat samping kamar kamu?”


“Jadi maksudnya apa Bri? Apa aku amensia?” Lanjutku karena Brian hanya terdiam.


“Gie aku punya penjelasan kenapa lakuin ini semua.”


“Penjelasan?” Tanyaku kesal karena telah dibohongi olehnya.


“Aku lakuin ini semua karena sayang sama kamu.”


“Kamu sayang sama aku?” Tanyaku tak percaya. “Jelas-jelas aku dengar kamu bilang aku nggak mau ikut terapi, padahal aku nggak tahu apa-apa tentang amnesia yang kualami. Ini yang kamu sebut sayang Bri?”


“Maaf.” Balasnya. “Kamu sangat mirip dengan almarhum adikku. Bukan cuma sifat kalian yang sama, bahkan cara kamu tersenyum membuatku merasa bersama dia. Aku nggak mau kalau kamu ingat semua, kebersamaan kita akan berakhir.”


“Emang kenapa kalau aku ingat semua?” Tanyaku tak mengerti.


“Karena kalau kamu ingat semua, kamu akan sadar bahwa bukan aku yang dihati kamu. Tapi orang lain.”


“Bentar, bentar.” Jawabku masih tak mengerti maksud percakapan kami. “Aku benar-benar nggak ngerti maksud kamu apa. Lagi pula bagaimana mungkin aku amnesia, aku masih ingat kamu, Tania, bahkan orangtuaku yang memilih bersama pasangan baru mereka.”


“Kamu terkena  Amnesia retrograde. Amnesia yang membuat kamu lupa sebagian peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Usia kamu saat ini bukan enam belas tahun, tapi dua puluh tiga tahun. Apartment ini juga milik kamu, bukan aku. Aku juga tidak sedang berlibur ke Indonesia, tapi memang sudah pulang ke sini untuk melanjutkan


pekerjaanku.”


Aku terdiam berusaha mencerna setiap perkataan Brian dan kejanggalan yang selama ini kurasakan seolah terjawab. “Lalu siapa maksud kamu dengan orang yang aku sayang?”


“Kamu pasti tahu siapa dia.”


“Desta?” Tanyaku ragu.


Brian tertawa. “Sekalipun kamu nggak ingat, tapi hatimu nggak bisa bohong.”

__ADS_1


♥♥♥♥


__ADS_2