
Aku selalu merasa, bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa bikin aku bahagia. Jadi, aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku.” atau bagaimana bila seperti ini, “Kebahagian bisa datang dari mana saja. Prestasi, sahabat, ataupun kesuksesan. Namun buatku itu nggak akan lengkap tanpa adanya kamu yang mendampingiku.”
Hm, rasanya kalimatnya terlalu aneh didengar.
“Anggie, aku ingin menghabiskan seluruh waktu yang kumiliki bersamamu. Bagiku setiap waktu yang kita jalani bersama sangat berharga, jadi maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”
“Hhh, terlalu berbelit.” Kataku lagi-lagi mengeluh.
Aku melihat sekeliling, taman tempat pertemuan pertama kami tak begitu ramai di malam hari, sehingga diriku dapat dengan mudah menghias sesuai dengan keinginanku, tentunya setelah mendapatkan ijin dari pengelolahnya.
Walaupun telah menyiapkan diri dan waktu untuk membuat tempat ini semakin cantik dengan beberapa lilin, namun rasa gugup tak bisa kuingkari mengusik hatiku. Ya mungkin ini adalah momen pertama aku ingin menjadikan seseorang sebagai istriku.
Selain menyiapkan itu, aku juga sengaja membeli kembang api yang dapat mengeluarkan tulisan “Marry me?” dan berniat memasangnya ketika Anggie tiba di tempat perjanjian kami.
Aku kembali menarik nafas panjang berharap perasaanku dapat sedikit lebih rilek, karena rasanya saat ini bagaikan berada di persidangan dan menanti keputusan hakim “Hhh.”
“Anggie. Hidup di dunia ini hanya sekali… Dan… Ehm dan aku sangat ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Aku harap kamu bersedia menjadi pendamping…”
Brrt~
Brrt~
“Dest kamu di mana?”
“Di taman Er, kenapa?” Tanyaku khawatir karena suara Erika terdengar menahan tangis.
“Anggie Dest.”
“Anggie kenapa?”
“Anggie Dest…”
“Iya Anggie kenapa?” Tanyaku kesal karena panik.
“Gue terakhir emang telfon dia, tapi dia masih baik-baik aja.” Jelas Erika, “Tapi nggak lama ada yang telfon lagi bilang dia kecelakaan.”
♥♥♥♥
“Gie. Kamu udah bangun? Ada yang sakit?” Tanyanya khawatir.
Aku mengangguk lemas, rasanya seluruh bagian tubuhku terasa sakit, bahkan penglihatanku serasa tak berfungsi
__ADS_1
dengan baik.
“Apa yang sakit? Aku panggil dokter?”
“Nggak perlu, memangnya aku kenapa?”
“Kamu habis kecelakaan.”
“Kecelakaan?” Tanyaku bingung, karena sama sekali tidak ingat. “Terus mata aku kenapa diperban?”
“Mungkin karena kamu baru sadar dari koma, jadi jangan dipikirin ya.” Pintanya lembut dan memintaku kembali beristirahat.
“Tapi mata aku kenapa? Kamu siapa dan kenapa di sini?” Desakku karena tak mendapatkan jawaban yang kuinginkan.
“Gie. Aku Brian.”
Aku terdiam, apakah benar dia Brian yang kukenal? Suaranya terdengar lebih berat dari terakhir kali aku mengingatnya. Seakan dia telah pergi sangat lama sehingga aku tak lagi mengenali, “Brian?”
“Iya. Aku Brian.” Ulangnya dan mengenggam lembut tanganku.
“Kenapa kamu pulang?” Tanyaku menipis tangannya. “Aku tunggu kamu. Apa harus aku kecelakaan seperti ini, supaya kamu pulang! Kemana aja kamu? Kenapa nggak kasih aku kabar? Kamu nggak tahu gimana aku kesepian nggak ada kamu!” Lanjutku kesal.
“Gie maksud kamu apa?” Tanya Brian bingung.
“Maaf, aku nggak maksud pergi tinggalin kamu. Sekarang aku janji akan selalu ada untuk kamu.” Jelasnya, memelukku agar tenang.
Aku masih terisak sedih, walaupun senang bisa bertemu dengannya tetapi hatiku merasa ada bagian dalam hidupku yang hilang.
“Kamu mau maafin aku?”
Aku mengangguk, rasanya tak ada artinya aku marah karena waktu tidak mungkin mengembalikan perasaan sakitku.
“Sekarang kamu istirahat, biar cepat sembuh. Okay?”
“Aku istirahat, tapi tolong kamu kasih tahu mata aku kenapa diperban? Aku masih bisa lihat kan?” Tanyaku menyelidik.
Brian terdiam. Aku hanya dapat mendegar hembusan nafasnya, seolah dia sedang berpikir alasan apa yang tepat untuk memberitahuku.
“Bri. Tolong. Aku juga butuh tahu apa yang terjadi sama diriku.” Pintaku memohon, karena dia tetap terdiam.
“Aku nggak tahu gimana kejadiannya. Tapi… Dokter. Ehm. Dokter bilang kalau ada donor yang tepat kamu bisa sembuh dan melihat seperti biasa.”
__ADS_1
“Jadi maksudnya aku sekarang nggak akan bisa lihat? Aku buta?” Tanyaku memastikan.
“Gie. Aku janji akan jadi mata kamu. Kamu nggak perlu khawatir, aku akan cari donor mata yang tepat.”
“Kamu nggak perlu kasihan sama aku, selama ini aku di sini sendiri dan baik-baik aja!”
“Gie aku janji nggak akan pergi lagi, biarin aku jaga kamu ya.”
♥♥♥♥
Setelah Erika memberitahuku di mana lokasi Anggie di rawat aku segera pergi ke Rumah Sakit tanpa peduli pada rencana kejutan yang telah kusiapkan. Saat ini harapanku hanya agar Ia baik-baik saja.
Sayangnya empat jam aku menunggu, dokter hanya berkata bahwa Anggie masih dalam keadaan koma. Tentunya Brian yang datang terlebih dahulu berhasil memasuki ruang perawatan yang hanya boleh dimasuki oleh satu pengunjung setiap kamarnya.
Hhh, pastinya bukan tanpa usaha aku ingin mencoba masuk. Namun penjaga mengatakan bahwa ini adalah aturan rumah sakit dan tak memiliki hak untuk meminta pengunjung keluar selama dokter mengijinkan.
“Dest, Brian belum keluar?” Tanya Erika yang baru saja kembali dari kantin bersama Tania.
Aku menggeleng. “Er. Seandainya gue nggak bikin kejutan hari ini, semua nggak bakal terjadi.”
“Dest, lu bukan Tuhanyang tahu segalanya! Pasti ada rencana dibalik ini semua, okay?” Hibur Erika padaku.
Aku mengangguk pasrah, berharap semua pikiran buruk bahwa Ia tak dapat lagi kembali bangun dan sehat seperti semula hanyalah ketakutanku saja.
“Bri.” Panggilku lega saat melihat Brian keluar. “Anggie gimana? Dia baik-baik aja kan?” Tanyaku penuh harap.
“Baik-baik aja?” Tanyanya tak percaya. “Dia aja tiba-tiba bingung kenapa gue di Indonesia! Terus lu harus tahu, gimana sedihnya gue jelasin ke dia bahwa sekarang nggak bisa lihat lagi!”
“Maksudnya?” Tanya Fanie tak mengerti.
“Anggie amnesia dan penglihatannya rusak.”
Aku terdiam, bukan hanya karena terkejut namun juga merasa sangat bersalah bahwa niat baikku justru membuatnya mengalami hal seperti ini.
“Tapi kenapa dia bisa inget sama lu?” Tanya Tania.
“Dia mengalami amnesia retrograde. Saat ini Anggie berpikir bahwa gue baru pergi ke Amerika satu tahun, dia sama sekali nggak ingat apapun kejadian setelah itu.”
“Kok bisa gitu? Memang seistimewa apa lu?” Tanya Erika tak percaya.
“Hhh. Bukan istimewa, tapi karena kepergian gue tepat setelah orangtuanya memilih pergi dari Indonesia dan berbahagia dengan keluarga baru mereka masing-masing. Pasti buat Anggie itu sangat menyakitkan, hingga berbekas dihatinya.” Jelas Brian.
__ADS_1
“Dest.” Panggilnya serius kepadaku. “Gue tahu kalian saling mencintai. Tapi saat ini dokter berpesan bahwa Anggie nggak boleh dipaksa mengingat atau bisa berbahaya dan karena gue telah menyakitinya selama ini, tolong biarkan gue yang jaga dia buat menebus semua kesalahan gue.”