TeaAmore

TeaAmore
Episode 28 - Pergi


__ADS_3

Aku sedikit terkejut mendapati Anggie menghubungiku pagi-pagi dan memintaku datang ke tempat tinggalnya. Namun yang lebih membuatku bingung adalah keadaan apartemennya yang mendadak seperti sedia kala.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua barang milik Brian tidak lagi dapat kujumpai? Apakah mungkin Ia


tidak ingin lagi merawatnya? Namun rasanya sangat tak mungkin bila dia berbuat demikian, mengingat bahwa kami sama-sama sangat mencintai Anggie.


“Kok rasanya ada yang beda ya?”


“Beda?”


Aku mengangguk. “Iya rasanya ada beberapa barang yang menghilang.”


Anggie membulatkan bibirnya tanda mengerti. “Brian ingin memberiku waktu sendiri dan dia membawa semua barangnya kembali ke rumahnya.”


“Maksud kamu?” Tanyaku tak mengerti.


“Brian udah jelasin semua. Aku tahu, bahwa aku Amnesia retrograde.” Jawab Anggie. “Jadi siapa kamu sebenarnya?”


“Aku Desta.”


Anggie tertawa. “Maksud aku hubungan kita gimana? Kenapa Brian bilang kalau kamu adalah orang yang aku sayang?”


Aku terdiam bingungmenjawab apa, karena semula Brian memintaku agar tetap diam dan membiarkan


Anggie mengingat dengan sendirinya.


“Kenapa Dest?” Tanyanya lagi.


“Karena memang demikian Gie.”


“Maaf aku nggak ingat semua.” Sesalnya.


“Bukan salah kamu.”


“Mau kan kamu bantu aku ingat semua?”


Aku mengangguk antusias, tanpa sadar. “Tentu! Apapun itu akan aku lakuin.”


“Kapan pertama kali kita bertemu?”


“Sebelas tahun lalu.”


“Oh iya? Lalu kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu?”


Aku tersenyum. “Ceritanya sama, dengan orangyang aku ceritakan.”


“Maksud kamu, soal pacar kamu yang lupa ingatan?”


“Ya. Itu kamu.” Jawabku. “Maaf karena aku kamu seperti ini.”


Anggie terdiam. “Jadi perasaan tidak asing, perhatian kamu, sekaligus sikapmu yang mengelak dengan bingung, karena aku orang yang selalu kamu ceritakan?”


Aku mengangguk. “Ya, kamu dia.”


“Kenapa kamu nggak jujur?” Tanyanya menangis. “Aku merasa bodoh berharap sama


seseorang yang aku pikir sudah menjadi milik orang lain.”


“Maaf, aku nggak ingin bikin keadaan kamu makin buruk.”Jelasku memeluk dan menghapus air matanya.


“Jadi hari di mana aku bertemu Evan, dia berkata jujur? Tapi kenapa Brian bohong sama aku?”

__ADS_1


“Karena Brian juga sayang kamu. Dia nggak ingin ingatan kamu semakin buruk, sesuai saran dari dokter.”


“Jangan bilang kalau Laurensia Erine mantan kamu?” Tanya Anggie memastikan semua. “Karena perasaanku mengatakan bahwa nama dia, berita di media yang aku dengar sama sekali nggak asing.”


“Iya, itu benar.”


Anggie menghela nafas. “Kenapa aku sama sekali nggak ingat! Bahkan aku terlihat bodoh di depan Evan karena sama sekali tidak bisa mengingat kamu.”


Aku tersenyum dan kembali memeluknya. “Gie itu bukan mau kamu, kita akan berjuang bersama buat kembaliin semua ingatan kamu, bahkan mencari donor kornea di semua tempat.”


“Maaf ya aku jadi repotin kamu.”


“Anggie, kamu nggak perlu minta maaf. Aku senang bisa bantu kamu! Bahkan bila kita harus memulai semua dari awal itu juga nggak masalah, selama aku nggak kehilangan kamu.”


♥♥♥♥


Dua bulan kemudian…


Hari ini akhirnya tiba juga, waktu di mana aku diberikan kesempatan untuk mendapatkan penglihatanku kembali.


Rasanya baru kemarin aku bisa kembali bersama Desta dan perlahan mulai mengingat semua. Waktu memang begitu cepat berjalan dan membuatku merasa hidup di dunia begitu singkat.


“Hhh.” Aku menghirup nafas panjang, berusaha membuat diriku tenang.Sekalipun tahu bahwa 90% operasi ini dipastikan berhasil, tetapi tetap saja ada perasaan khawatir bahwa harapanku tak terwujud.


“Anggie.” Panggil dokter Gunawan. “Sudah siap?”


Aku mengangguk ragu.


“Sekarang coba buka mata kamu perlahan.”


“Pelan-pelan aja Gie, kamu pasti bisa.”Hibur Desta.


“Gie?”


Aku menatap Desta yang berada di sampingku, wajahnya sama seperti ingatakanku padanya. Namun saat ini rautnya menunjukan rasa khawatir.


“Kamu nggak perlu khawatir, kita bisa coba lagi cari donor kornea.”


“Dest aku sudah bisa lihat.” Jawabku tertawa.


“Serius?”


Aku mengangguk.


Desta tersenyum memelukku, rasanya hari ini aku benar-benar merasa bahagia hingga tak tahu cara mendiskripsikan perasaanku.


“Oh iya Dest, kamu udah kasih tahu Brian kan?”


“Kenapa Dest, kamu nggak berhasil hubungin dia?”Lanjutku bertanya karena Desta hanya terdiam.


“Kita bahas masalah ini besok aja ya, kamu sekarang harus istirahat lagi.” Pintanya tanpa menjawab pertanyaanku.


“Brian nggak ingin ketemu aku lagi?” Tanyaku memastikan, karena Desta terlihat menyembunyikan sesuatu dariku.


Desta menggeleng. “Dia selalu sayang sama kamu Gie.”


“Lalu kenapa dia nggak di sini sekarang?”


“Gie. Kita bahas ini setelah kesehatan kamu pulih. Kamu perlu banyak istirahat.”


“Nggak Dest! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Paksaku.

__ADS_1


Wajah Desta terlihat khawatir, sekilas ia menatap dokter Gunawan meminta persetujuan. “Kalau memang itu kemauan kamu, aku nggak bisa menolak. Cepat atau lambat kamu sendiri akan tahu.”


♥♥♥♥


Walaupun dua bulan ini, Anggie tak berhubungan lagi dengan Brian karena merasa kecewa dengan sikapnya, entah mengapa sebelum operasi dilakukan Ia memintaku mencari Brian untuk menjenguknya.


Bukan berarti aku tak ingin membahas hal ini lebih jauh karena cemburu, hanya saja perasaanku begitu khawatir bila Anggie tahu yang sebenarnya akan membuatnya terguncang dan bahaya untuk kesehatannya. “Hhh.”


“Dest kok kita muter-muter di Rumah Sakit, emang Brian juga ada di sini?”


Aku mengangguk.


“Terus kenapa dia nggak langsung ketemu sama aku?”


Seandainya dia bisa Gie, Brian akan melakukan itu tanpa kamu ataupun aku minta.


"Dia marah sama aku?” Desak Anggie karena aku hanya terdiam.


“Dia sama sekali nggak marah sama kamu.”


“Kenapa berhenti?”


Aku menjawab dalam diam dan membukakan pintu dihadapan kami. Suasana sepi, gelap, dan juga dingin seakan


menyelimuti. Bahkan baru berdiri di depan saja, aku sudah merasakan bahwa tidak lama lagi Anggie akan merasakan perasaan sakit.


“Kenapa kita ke sini Dest?” Tanyanya bingung, melihat sekeliling yang dipenuhi dengan lamari besi bewarna abu-abu, lengkap dengan notes nama, penyebab, serta waktu seseorang meninggal.


Aku menarik pelan lemari di depan kami. Namun aku langsung tahu bahwa Anggie saat ini sedang terisak, karena menyadari dihadapannya adalah Brian.


“Dest ini becanda kan?”


“Gie nggak mungkin aku dan Brian becanda gini ke kamu.”


“Nggak!” Pekiknya. “Aku nggak mau percaya ini!”


“Nggak mungkin Brian tinggalin aku gitu aja.” Lanjutnya menangis tak percaya.


“Gie tenang.” Pintaku memeluknya. “Brian nggak akan senang lihat kamu gini.”


Anggie mengangguk, namun aku tahu bahwa Ia masih menangis. “Kenapa Brian sampai bisa me… me… meninggal Dest?” Tanyanya masih dengan isak tangis.


“Kamu tahu berita kecelakaan beruntun di Puncak? Brian salah satu korbannya.”


“Tapi kan, dari tujuh mobil hanya dua yang mengalami kerusakan parah. Kenapa Brian bisa jadi salah satunya?”


“Aku nggak tahu Gie. Pastinya sebelum meninggal Brian pesan supaya kamu nggak perlu sedih.”


“Gimana aku nggak sedih Dest?” Tanya Anggie masih terisak. “Dia pergi tanpa pamitan apapun sama aku!”


“Gie.” Kataku. “Brian benar-benar udah ikhlas pergi, terutama dia bisa memberikan hal yang kamu inginkan.”


“Maksud kamu?”


“Dia pesan ke dokter bahwa ingin menyumbangkan korneanya untuk kamu.”


“Jadi kornea yang aku terima ini milik Brian?”


Aku mengangguk. “Dia juga minta maaf karena rasa sayangnya membuat dia begitu egois. Tapi dia mau kamu bahagia, dan relain dia pergi.”


♥♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2