
Rintik-rintik hujan mulai berubah menjadi deras, bau air menyentuh tanah menghasilkan harum yang khas. Dinginnya udara di puncak, membuatku merasa nyaman dan ingin terus menikmati sejuknya udara hari ini.
“Mau?” Tawar Brian memberiku secangkir teh hangat buatannya.
Aku tersenyum dan menerima pemberiannya. “Makasih.”
Brian mengangguk dan membalas senyumanku. Wajahnya yang tampan sudah pasti akan memikat banyak wanita di luar sana, tetapi dia memilihku sekalipun aku tak pernah membalas cintanya.
Memang aku sempat merasa sedih kehilangan dirinya, namun setelah Ia kembali aku sadar bahwa perasaan sayangku padanya hanya sebatas sahabat yang selalu ada. Sehingga bagaimanapun Ia memberikan perhatian layaknya kekasih, aku tak bisa merasakan rasa itu.
“Gie.”
“Hm.” Gumanku.
“Kamu suka hujan?”
Aku mengangguk, karena hujanlah yang membuatku merasakan ciuman pertamaku. Sekalipun merupakan kenangan indah yang tak bisa lagi kuulang dan membuatku terluka mengingatnya, namun aku tetap menyukai hujan yang menyentuh tubuhku.
“Kalau matahari?”
“Sinarnya. Bukan panasnya.” Jawabku tertawa. Karena memang aku tidak suka panas matahari, apalagi sejak global warming panasnya sangat menyengat. Kendati demikian tanpa adanya matahari, bumi akan gelap gulita.
“Bagaimana dengan angin?”
“Suka. Karena angin bisa menyejukan perasaanku di saat sedih. Memangnya kenapa Bri?”
“Kamu tahu William Shackespear?”
ku mengangguk. Tentu aku tahu siapa itu William Shackspear. Sastrawan terkenal yang menulis tiga puluh delapan
sandiwara, karyanya juga diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Bahkan tulisannya di tahun 1585 sampai 1613 masih terkenal hingga sekarang, terutama cerita yang sangat melekat dan legendaris seperti Romeo and Juliet.
“You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains. You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines. You say that you love wind, but you close your windows when wind blows. This is why i’m afraid you say that you love me too.”
“Itu adalah salah satu tulisan dari William Shackespear. Apa kamu masih ingat dengan kejadian sebulan yang lalu,
saat kita dinner.”
Restoran berkonsep kaca menjadi daya tarik tersendiri. Selain makan malam menjadi romantis, kesan spesial terasa ketika melihat pemandangan seluruh kota yang dipenuhi cahaya lampu.
Kali ini Brian memberikan kesempatan untukku menikmati suasana tersebut. Bahkan dia menyewa satu malam
penuh untuk kami berdua. Dia memang romantis, bahkan sangat baik. Aku tahu dia mengeluarkan uang cukup banyak untuk ini semua. Namun itu tidak menjadi masalah untuknya yang memiliki beberapa perusahaan diseluruh Asia.
“Kamu suka?” Tanyanya penuh harap.
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengangguk. “Tentu.” Kataku. Aku memang menikmati pemandangan kota dari sini. Begitu indah. Namun bila diminta untuk memilih, aku akan menjatuhkan pilihan pada pantai. Seringkali aku berharap, Desta menyatakan perasaanya padaku ketika kami berlibur ke pantai.
“Malam ini kamu cantik Gie.”
Aku kembali tersenyum menerima pujiannya.
“Gie.”
“Iya?”
“Aku sayang kamu.” Kata Brian menggenggam lembut kedua tanganku “Maaf aku pernah pergi.”
Aku mengangguk. “Aku juga sayang kamu. Han...”
“Serius? Makasi. Aku senang mendengar itu langsung dari mulut kamu.” Potong Brian tanpa mendengar penjelasanku bahwa aku sayang dengannya hanya sebagai sahabat.
♥♥♥♥
Rasanya memang aneh. Aku yakin bahwa ini apartemenku, dilihat dari tata letak ruangan, foto-foto yang terpajang, dan barang yang berada di sini semua memang milikku. Namun sejak kapan aku memiliki piano?
Aku berjalan mendekat ke arah piano yang berada di pojok ruangan. Alat musik ini langsung membuatku teringat dengan Desta. Bagaimana kami bermain dan bernyanyi bersama. Agh! Sungguh membuatku semakin rindu kepadanya.
Perlahan aku mencoba menggerakan jemariku di atasnya, seakan telah terlatih lantunan musik “Without You” mengalir dengan indah.
But I still want you here
Let me show you how I feel ~
Since the night when you walked out my life
My heart feels so empty
Now I’m sitting here all alone
Knowing you won’t come back
Everyday I gotta wake up to
A room with your memories
It’s too late to say
It’s so hard to say
I just can’t let go
__ADS_1
Let me hold you tight
Let me love you right
Baby, would you give me one last chance?
I won’t let you go
I won’t say good bye
Baby, you’re everything I need
I can’t live without your love
I can’t breath without you here
You’re the only one I need
So baby …”
“Anggie. Aku di sini.” Sapa Desta yang mendadak telah berada di sampingku. Aku tak peduli kapan Ia datang, yang pasti rasa senang ini membuatku langsung memeluknya.
“Dest... Aku. Aku sayang kamu.” Akuku jujur. “Jangan pergi.”
Desta tersenyum dan menghapus air mataku. “Aku juga Gie. Aku akan di sini sama kamu. Bukan hanya
sekarang tapi untuk selamanya.”
Aku tersenyum mendengar itu semua. Seakan semua ini seperti mimpi. Begitu mudah mengungkapkan semua
yang kurasakan dan mendapatkannya kembali.
BrrtBrrt ~ BrrtBrrt ~
Aku membuka mataku yang terasa berat, dan melihat sekelilingku. Pukul empat dini hari. Aku tertidur dengan televisi masih menyala. “Hhh. Ternyata memang mimpi.” Kataku lesu. “Apa yang kuharapkan, Desta kembali
kepadaku? Hahaha.”
“Anggie. Stop bertingkah bodoh.” Peringatku pada diriku sendiri. “Desta bersama wanita yang lebih dari kamu. Seberapa besar kamu mengharapkannya, nggak akan mampu membuatmu bersanding dengan Erine. Hhh.”
BrrtBrtt ~
Aku melihat layar ponselku yang kembali berdering. Ada beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab, tapi tak ada satupun yang dari Desta. Hanya operator, Brian, Tania, dan beberapa pesan promosi.
♥♥♥♥
__ADS_1