TeaAmore

TeaAmore
Episode 18 - Gengsi


__ADS_3

Aku menatap langit yang dengan cepat berubah menjadi gelap pertanda hujan akan segera turun. Kepalaku masih terasa pusing, aku tak tahu dengan diriku yang bisa-bisanya dengan bodoh mabuk dan pergi ke tempat Anggie.


“Hhh.” Ada apa denganku, selama ini aku tak pernah minum sampai mabuk. Namun rasanya perasaan sakit ini membuatku seakan kehilangan akal sehat!


Aku membuka piano yang telah lama tak tersentuh olehku, bahkan hanya dengan duduk terdiam di sini membuatku langsung teringat pernah menghabiskan waktu berdua tertawa bersamanya.


“If you ever leave me, baby.” Lantunku mengikuti nada-nada lagu yang sedang kumainkan.


“Leave some morphine at my door


Cause it would take a whole lot of medication


To realize what we used to have


We don't have it anymore


There's no religion that could save me


No matter how long my knees are on the floor


So keep in mind all the sacrifices I'm makin


Will keep you by my side


And keep you from walkin' out the door


Cause there'll be no sunlight


If I lose you, baby


There'll be no clear skies


If I lose you, baby


Just like the clouds


My eyes will do the same if you walk away


Everyday, it'll rain, rain, rain


I'll never be your mother's favorite


Your daddy can't even look me in the eye


Oooo if I was in their shoes, I'd be doin' the same thing


Sayin' there goes my little girl


Walkin' with that trouble some guy


But they're just afraid of something they can't understand


Oooo but little darlin' watch me change their minds


Yea for you I'll try I'll try I'll try I'll try


I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding


If that'll make you mine


Cause there'll be no sunlight


If I lose you, baby


There'll be no clear skies

__ADS_1


If I lose you, baby


Just like the clouds


My eyes will do the same if you walk away


Everyday, it will rain, rain, rain


Oh don't just say, goodbye


Don't just say, goodbye


I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding


If that'll make it right


Cause there'll be no sunlight


If I lose you, baby


And there'll be no clear skies


If I lose you, baby


And just like the clouds


My eyes will do the same if you walk away


Everyday, it'll rain, rain, rain.”


                                                                        ♥♥♥♥


“Anggie.” Sapa Gio. “Sendiri? Oh iya, kenalin. Ini teman gue Desta. Kita satu kampus waktu di Aussie.” Jalas Gio memintaku berjabat tangan dengan Desta.


Aku mengangguk. “Anggie.” Kataku canggung.


 “Jangan dimasukin hati Gie! Dia memang selalu dingin sama wanita, tapi yang buat gue heran, banyak banget yang suka sama dia.” Jelas Gio tertawa.


Aku tersenyum tanda mengerti. Namun tak bisa bohong bahwa mendadak suasana tenang menghabiskan waktu seorang diri berubah menjadi canggung seperti ini.


Bila orang berkata dunia sangat sempit, aku akan setuju dengan pendapat tersebut. Bagaimana tidak, Gio adalah teman baik sepupuku Jericko dan ternyata Ia berteman dengan Desta. Hebatnya lagi, kami bisa dengan tanpa sengaja bertemu seperti ini.


“Kosong Gie?” Tanya Gio melihat keadaan sekeliling yang ramai.


Aku mengangguk. “Duduk di sini aja nggak apa-apa.”


“Boleh?” Tanya Desta memastikan.


Aku mengangguk mengijinkan. Sekalipun tak melihatnya, berada didekatnya seperti ini membuatku kembali berharap tentang hal yang tak mungkin terjadi. “Hhh.”


“Gimana kabar Jericko?”


“Baik. Kemarin gue baru balik dari Bandung. Sekarang dia lagi sibuk sama persiapan kelahiran anak pertamanya.”


Jawab Gio. “Lu sendiri kapan nyusul Jericko?”


Aku berusaha tertawa menanggapi pertanyaan Gio. “Pacar aja nggak punya, gimana mau nyusul?”


“Kan ada Brian.” Potong Desta.


“Dia ada bilang kan kalau hubungan kami belum resmi.” Kataku mengingatkannya tentang pertemuan kami di tempat sushi. “Beda sama kamu dan Erine yang udah go public.” Lanjutku menyindirnya.


“Erine itu...”


“Erine?” Potong Gio. “Wanita mana lagi Dest? Baru? Cantik?”

__ADS_1


“Cantik. Model.” Jelasku pada Gio, menggantikan Desta.


Gio membulatkan bibirnya. “Oh iya Gie. Kamu masih dekat sama Brian?” Tanyanya bingung.“Bukannya kalian sudah lama nggak pernah berhubungan.”


“Brian pulang Indonesia, demi Anggie.” Jelas Desta menggantikanku.


Gio terdiam dan menjadi salah tingkah. Entah dia sadar atau tidak bahwa aku dan Desta saling mengenal. Akupun


ikut terdiam malu, karena tanpa sadar menunjukan perasaan cemburuku. Sekalipun waktu telah berlalu satu tahun lamanya, namun rasa sayang untuknya tak pernah bisa berkurang.


“Kamu bahagia bersama Brian?” Tanya Desta.


Aku mengangguk, berbohong. Walaupun Brian baik dan selalu ada untukku. Namun perasaan bahagia yang selalu kurasakan saat bersama Desta tidak bisa kurasakan bila bersama Brian. Rasanya berbeda. Hambar. “Dia baik dan tidak pernah memberikan harapan kosong.” Sindirku.


                                                                        ♥♥♥♥


Setelah pertemuan yang berakhir dengan aku pergi tanpa berpamitan dengan Gio, Gio menghubungiku


untuk bertemu berdua. Aku pun menyetujuinya, karena merasa tak enak telah meninggalkannya begitu saja kemarin.


“Sudah lama Gie?” Sapa Gio.


Aku menggeleng. “Kenapa Gi, mau ketemu berdua? Kangen?” Candaku padanya.


Gio tertawa. “Gila lu! Anak istri gue di rumah gimana?”


Aku balas tertawa melihat reaksinya.


“Gie. Lu kenal Desta?”


“Eh!” Kataku terkejut karena tak menyangka Ia bertanya tentang hal ini. “Kenapa Gi?”


“Iya aneh aja suasana kemarin, nggak kayak dua orang yang baru kenal.”


Aku mengangguk tertawa konyol mengingat bagaimana pertemuanku dengan Desta kemarin. “Gue emang kenal sama dia.”


“Pagi. Order apa kak?” Potong pelayan kedai kopi.


“Moccalatte.” Jawab Gio.


“Baik ditunggu pesanannya kak.”


“Balik lagi.” Kata Gio. “Terus kenapa kalian kayak saling nggak kenal gitu.”


“Panjang Gi ceritanya!”


“Nggak apa-apa waktu gue banyak buat mendengar keluh kesah lu.”


Aku tertawa melihat antusias Gio yang ingin tahu. Perlahan aku menceritakan bagaimana kisah kami yang bisa mengenal satu sama lain, bagaimana perjanjian menjadi pacar sandiwara, dan kejadian-kejadian yang telah dilalui bersama hingga akhirnya menjauh.


“Desta nggak pernah nembak lu?”


Aku tertawa. “Ngapain? Kita kan cuma bersandiwara Gi.”


“Emang lu nggak pingin dia ngomong sayang sama lu?”


Aku terdiam. Entah kenapa rasanya Gio dari tadi seakan menebak apa yang ada dibenakku. “Gio, lu kenapa sih jadi detektif gini?” Candaku, mengalihkan pembicaraan.


"Iya lucu aja sih lihat kalian berdua.”


“Lucu?” Tanyaku bingung tak mengerti maksudnya. "Lucu gimana coba?"


“Gie. Gie.” Balasnya terkekeh geli. “Iya kemarin gue tanya hal yang sama, sama Desta. Dari situ gue tahu perasaan kalian sebenarnya. Duh anak muda jaman sekarang ya banyak gengsinya.”


“Gue nggak paham Gi maksud lu apa.”

__ADS_1


Gio kembali tertawa. “Suatu saat waktu kalian bisa jujur dengan diri masing-masing pasti nemuin jawabannya.”


                                                                        ♥♥♥♥


__ADS_2