
Aku tersenyum menatap buku dengan cover merah muda, dengan judul “CARA MEMODIFIKASI RAMBUT WANITA” yang saat ini berada ditanganku.
Hingga saat ini, aku masih tak percaya bisa bertemu kembali dengan wanita yang telah menabrakku tujuh tahun lalu. Aku masih ingat, saat itu Anggie mengenakan seragam dengan atasan putih dan bawahan biru dengan rambut diikat dua.
Saat itu memang aku ingat bertemu dengan seorang gadis yang manis, tapi sama sekali tak menyangka bahwa Ia telah berubah menjadi sangat cantik. “Lu itu cantik. Sayangnya galak.” Kataku tersenyum.
“Dest.” Panggil Erika yang saat ini telah duduk di sampingku. “Lu jatuh cinta sama siapa?”
“Nggak ada.” Jawabku mengelak. “Lungapain ke sini?”
“Nyokap ajak lu ke pertemuan sama teman-temannya biar lu dapet jodoh, katanya gitu.”
Aku hanya menghela nafas panjang. Diusiaku yang baru dua puluh tiga tahun, orangtuaku ingin aku segera mencari pasangan dengan alasan masa mudaku terlalu banyak dihabiskan untuk bekerja dan tak memiliki hiburan. “Bilang ke nyokap Er, males gue. Masih suka sendiri.”
“Lu tahu gimana nyokap.” Jelas Erika. “Dia aja suka maksa gue ketemu sama cowok teman anak-anaknya.”
“Tapi lu tahu kan gue males banget kenalan sama cewek-cewek, apalagi mereka itu cuma lihat kalau gue itu cukup
mapan.”
“Gue tahu!” Jawabnya. “Gue bahkan ikutan capek, kalau lu nggak mau deket sama mereka lagi, terus mereka cari gue buat jadi sarana informasi tentang lu.” Lanjutnya kesal. “Tapi nggak semua cewek sama, nggak ada salahnya coba kan? Seperti cewek cantik tapi galak yang lu bilang itu, mungkin dia adalah orang yang bisa bikin hati batu lu luluh.”
“Dest.” Panggil Erika padaku, karena aku masih tetap terdiam. “Gimana?”
“Apanya?” Tanyaku tak mengerti.
“Iya lu coba aja bawa dia ke nyokap, biar nyokap tahu lu ada cewek.”
“Ha?” Tanyaku masih tak paham maksud Erika.
“Aduh lu ya percuma belajar jauh-jauh.” Serunya kesal. “Iya ajak aja dia sandiwara jadi pacar lu, paling kalau ditanya kapan mau dibawa kejenjang lebih serius? Bilang aja ‘secepatnya’. Beres kan? Lagian bokap nyokap jarang di Indo kan.”
♥♥♥♥
Tok. Tok. Tok.
Aku berdecak kesal membuka mataku dan melihat jam berbentuk panda di samping ranjangku masih menunjukan pukul enam kurang dua puluh. “Hhh. Siapa sih pagi-pagi gini.”
Aku berdiri dan melihat cermin. Pantulan diriku saat bangun tidur, sama sekali bukan hal yang kusuka. Belum lagi, lingkaran hitam di sekeliling mataku akibat banyaknya tugas kuliah serta banyaknya waktu menjaga toko orangtuaku yang saat ini menetap di Jepang.
Tok. Tok. Tok.
Bunyi pintu yang cukup keras membuatku sedikit terlonjak terkejut dan membuatku sadar masih berdiri menatap kaca dengan pandangan kosong karena mengantuk.
“Hhh. Siapa sih itu? Nggak sabaran amat!” Kataku kesal dan berjalan cepat untuk segara membuka pintu.
“Anggie.” Sapanya langsung memelukku.
“Evan.” Kataku kesal dan berusaha melepaskan pelukannya. “Lu ngapain ke sini?”
“Bisa kita bicara?”
Aku menggeleng tanda tak ingin berbicara padanya, karena menurutku urusan kami telah selesai beberapa bulan lalu dan tidak ada hal penting untuk dibicarakan.
“Gie, gue cinta sama lu.”
“Evan, dengar gue baik-baik.” Balasku dan mendorongnya agar tak kembali memelukku. “Gue nggak cinta sama lu, jadi tolong jangan ganggu gue.”
“Gie. Gue beneran cinta sama lu! Kenapa lu tega tinggalin gue?”
“Cinta? Tega?” Tanyaku menatap tak percaya padanya.
Kalau memang dia mencintaiku, tidak mungkin dia berganti-ganti pacar selama masih bersamaku dan aku memutuskan orang yang berkhianat padaku, dari sisi mana dia menyalahkanku?
Justru aku adalah korban yang harus dikasihani karena dikhianiati oleh pasanganku. Namun sayangnya aku tak peduli, karena memang bersamanya hanya untuk mencoba melupakan seseorang yang entah ada di mana.
“Lu gila ya? Sadar dong sebelum bicara! Gimana ceritanya lu cinta sama gue, kalau selama kita pacaran lu pacaran sama si A B dan C?”
“Lu cemburu?”
“Evan!” Balasku kesal. “Gue nggak pernah cinta sama lu, okay? Jadi, nggak ada alasan buat cemburu!” Lanjutku masih emosi, karena menjelaskan hal yang sama berulang kali. “Sekali lagi gue jelasin, gue ngga cinta sama lu dan nggak pernah cemburu.” Ulangku dengan memberi penekanan pada setiap kata.
“Gie. Gue benar-benar minta maaf kalau gue udah berkali-kali kencan di belakang lu.” Katanya kembali meminta
__ADS_1
maaf.
“Van, gue nggak peduli! Tolong jangan ganggue gue, karena sekarang gue udah hidup bahagia sama cowok gue!” Pintaku.
“Cowok? Pacar maksudnya?”
“Iya pacar!” Kataku tegas tanpa sadar. “Jadi jangan ganggu gue.”
“Ajak gue ketemu dia, baru gue percaya.”
“Nggak!” Jawabku tegas bukan karena tidak mau, tapi karena aku tidak memiliki pacar. Jadi bagaimana mungkin aku mempertemukan Evan dengan pacar semuku?
“Kalau gitu lu bohong.” Katanya dan langsung membuatku terdiam karena Ia menebak tepat sasaran. “Jadi selama lu nggak ada cowok, gue masih bebas deketin lu.”
“Gue nggak bohong! Nama cowok gue Desta! Lu bisa lihat KTPnya waktu ketemu, kalau lu nggak percaya.” Kataku tanpa berpikir dan membuatku memakidiriku sendiri kenapa harus menyebutkan Desta sebagai pacarku.
“Oke gue percaya! Sabtu besok ajak Desta ketemu gue, tempatnya nanti gue sms.”
“Sabtu?” Tanyaku terkejut.
“Iya, kenapa? Kalau memang Desta pacar lu. Lu pasti nggak keberatan kan bawa dia kapan aja buat ketemu gue.”
“Oke! Sabtu besok, gue bakal bawa Desta ketemu lu.” Kataku menantangnya. Walaupun sejujurnya aku ingin
pingsan, karena tak tahu bagaimana caranya meminta Desta menemui Evan tiga hari lagi.
♥♥♥♥
“Gue butuh bantuan lu.” Kataku pada Desta, tanpa basa-basi.
“Bantuan gue?” Tanyanya bingung. “Lu butuh bantuan gue? Serius nih?”
Aku mengangguk yakin.
“Tapi biasanya orang yang butuh bantuan ngomongnya sopan, baik, dan paling penting harus ada etika. Nggak kayak lu gini, udah ajak ketemu di tempat makan tapi tawari gue minum juga nggak.”
Aku berdecak kesal, tapi tak bisa menyalahkan dirinya karena memang seharusnya aku menjamu dia dengan baik karena butuh bantuannya. Tapi, rasanya terlalu sulit harus berbasa-basi dengannya.
“Lu tawarin gue minum atau ajak perang?”
Agh, kenapa aku harus berurusan dengan dia! Kenapa juga menyebut namanya dan meminta Evan melihat KTP miliknya. Bagus Anggie, kamu menggali lebih dalam kuburanmu!
“Lu pingin pesen minum apa? Gue pesenin.” Kataku berusaha berbasa-basi sopan padanya.
“Gue nggak haus.”
“Kalau gitu kenapa minta gue tawarin?” Tanyaku kesal.
“Buat formalitas aja.”
Aku melotot kesal padanya, namun tak bisa membalas omongannya karena tidak ingin terbawa perasaan emosi dan justru membuatku semakin sulit mendapatkan pertolongannya. “Hhh.”
“Jadi mau nggak bantu gue?” Tanyaku melunak, dengan harapan Ia merasa iba
dan ingin membantuku.
"Alasan apa gue mau bantu lu?"
“Sabar Anggie, sabar.” Kataku dalam hati. “Mantan gue, minta balikan.” Akuku jujur padanya. "Tapi gue nggak cinta sama dia! Lebih tepatnya nggak pernah cinta. Terus gue bilang, gue udah punya cowok." Lanjutku dengan wajah bersemu merah, karena malu.
“Terus?”
“Terus?” Tanyaku balik padanya dan langsung membentuk huruf O pada bibirku, karena menyadari Ia memintaku
melanjutkan penjelasan. “Lu mau nggak jadi pacar gue?”
Desta menatapku tak percaya. “Lu serius nembak gue?”
Aku melotot pada Desta dan menggelengkan kepalaku dengan cepat. “Ng. Nggak. Nggak bukan gitu.” Jawabku. “Gue cuma mau kita sandiwara di depan Evan. Lu kira, gue mau sama lu?”
“Pertanyaannya, kenapa lu pilih gue? Kenapa nggak Nino, Eriko atau temen lu lainnya?” Tanyanya
menyelidik.
__ADS_1
Aku diam terpaku menatap Desta, merasa perkataannya benar. Kenapa dia, kenapa menyebut namanya dan bukan Nino, Eriko atau bahkan pria lainnya? Kenapa harus Desta?
“Karena apa?” Desaknya karena aku tetap terdiam.
“Gue juga nggak tahu kenapa sebut nama lu.”
“Jadi.” Kata Desta tersenyum senang. “Lu tanpa sadar mikirin gue?”
Aku menatap tak percaya padanya. “Gila! Nggak lha!”
“Udah nggak perlu malu untuk mengakui, udah biasa banget gue ditaksir banyak cewek.” Balasnya percaya diri.
“Gue nggak tertarik sama lu dan nggak akan pernah tertarik.” Jawabku tegas.
“Yakin?” Tanyanya menyelidik dan memajukan kepalanya untuk menatap tajam ke mataku, seoalah mencari kebenaran di sana.
“Yakin.” Jawabku tegas, walaupun sesaat rasanya jantungku merasa berdegup ketika mata kami saling menatap.
“Jadi kalau bukan karena tertarik sama gue, kenapa bisa gue yang ada dipikiran lu?”
“Ya. Ya karena lu satu-satunya cowok paling ngeselin, yang gue kenal. Jadi jelas aja gue selalu ingat lu.” Jawabku segera menyikirkan wajahnya dari depan wajahku, agar tak terus menurus merasa gugup seperti ini.
"Iya udah gue mau bantu. Tapi..."
♥♥♥♥
Aku tersenyum lega mendengar permintaan Anggie, entah kenapa rasanya dunia mendukungku melakukan ide gila
adikku yang meminta kami untuk bersandiwara.
"Tapi apa?" Tanyanya tak sabar karena aku hanya terdiam.
“Lu harus janji bakal bantu gue, kapanpun gue butuh. Gimana?”
“Bantu lu? Bantu dalam hal apa dulu nih?” Tanyanya menyelidik.
“Nanti kalau udah waktunya, gue kasih tahu. Atau sekarang gue nggak usah bantu lu nih?”
Aku kembali tersenyum puas melihat ekspresi Anggie yang terlihat pusing karena tak ada pilihan lain. Sehingga tanpa sadar wajah kesalnya, membuatku ingin terus menggodanya.
“Hmm. Oke. Itu aja kan?” Tanyanya memastikan.
“Nggak dong, enak aja!” Kataku.
“Terus?”
“Lu harus bilang dan jujur sama diri sendiri kalau menurut lu gue ini emang beneran ganteng!” Pintaku.
“Gila lu?” Tanyanya tak percaya. “PD banget! Nggak mau ah! Bohong kan dosa.”
“Iya udah nggak apa-apa, gue juga nggak rugi.”
“Desta, ayolah tolong gue! Kan gue udah janji mau bantu lu kapan aja kalau butuh.” Pintanya memelas.
“Itu sih jelas! Tapi harus ada uang muka dong.”
“Iya udah deh iya.” Jawabnya kesal. “Lu ganteng, puas?”
"Nggak." Jawabku jahil. “Masa iya ngomongnya gitu.”
Anggie mencubit tanganku. "Terus mau gimana?"
“Yang tulus donggg.”
“Desta, lu ganteng banget deh. Seriusan! Mata gue sampai silau lihatnya.”
Aku tertawa geli melihatnya yang hiperbola memujiku, hingga tak kuasa menggodanya lagi.
“Gimana, deal nggak nih?” Desaknya.
“Iya deal.” Balasku menjabat tangannya.
♥♥♥♥
__ADS_1