
Menghabiskan waktu dengan bekerja tanpa henti menjadi rutinitas baru untukku saat ini, bahkan aku sengaja
mengganti jadwal meeting bersama klien menjadi hari sabtu atau minggu agar membuatku tak bosan.
Sayangnya hari ini pekerjaanku benar-benar sedikit, bahkan aku memiliki waktu luang untuk pergi makan siang yang biasanya kulakukan di dalam kantorku.
“Desta?” Sapa seseorang memastikan.
Aku membalikan badan, menatap tak percaya pada wanita di hadapanku. Rasanya begitu senang sekaligus lega bisa kembali melihatnya. Namun diriku sadar, bahwa perasaan senang ini akan membawaku pada perasaan sakit.
“Hei Desta.” Panggilnya lagi kepadaku, karena aku hanya terdiam. “Lupa sama aku?”
Aku menggeleng. Bagaimana mungkin aku lupa dengan seseorang yang seharipun tak pernah absen singgah dipikiranku? “Kamu apa kabar?”
“Baik. Kamu gimana?” Tanyanya balik kepadaku.
“Baik juga.” Jawabku berbohong.
Hening.
“Gimana kerjaan lancar?”
“Lancar. Kuliah kamu?”
“Begitulah.”
Hening.
“Sendirian aja?”
“Iya, kamu juga?”
“Nggak, itu sama Brian.” Tunjuknya kepada pria yang sedang duduk dan memandang serius pada layar laptopnya.
Aku tersenyum palsu menutupi rasa kecewa. Setiap dalam situasi seperti ini rasanya jantungku seperti ditusuk sesuatu hingga terasa sesak menyiksa.
“Selamat siang. Silakan pesananya pak.” Sapa pelayan menyapaku yang telah maju pada barisan terdepan. “Oriental Fried Rice. Take away ya.” Pintaku.
“Kamu nggak makan di sini?” Tanya Anggie.
Aku menggeleng. “Banyak kerjaan.” Jawabku berbohong.
“Ini pesanannya pak. Terimakasih. Selamat datang kembali.”
Aku mengangguk dan mengambil pesanan milikku. “Sorry. Gue duluan.” Pamitku meninggalkan kenyataan yang tak ingin kulihat.
♥♥♥♥
Usai perjumpaan terakhir di restoran dekat kantorku, tanpa sengaja aku dan Anggie kembali bertemu di dekat apartemennya, sehingga aku memustukan untuk mampir
sebentar. Memang aku tak tahu malu,
memanfaatkan kesempatan saat Brian tak di sisinya, namun apa daya rasa rindu
__ADS_1
telah menguasaiku. Kendati demikian, pertemuan kami hanya terisi dengan
keheningan tanpa adanya suara dan tawa.
“Aku mau bicara.” Kata kami bersamaan, sehingga membuatku dan Anggie saling melihat dan kembali terdiam.
Sejujurnyaaku masih tidak yakin ingin berbicara apa saja dengannya, karena banyak sekali hal yang menganggu hatiku. Namun kali ini aku benar-benar ingin memperjelas bagaimana hubungan kami, paling tidak mengetahui apakah Ia pernah mencintaiku.
“Kamu duluan.” Kata kami secara bersamaan dan membuat kami kembali terdiam.
Sebenarnya apa yang ingin Anggie katakan? Apakah tentang hubungannya bersama Brian?
“Kamu mau bicara apa?” Tanyaku padanya.
Anggie masih terdiam dan menundukan wajahnya. Seakan menyembunyikan matanya dariku, agar aku tak dapat membaca perasaanya.
“Gie.”
“Ehm. Kamu dulu.” Jawab Anggie akhirnya.
Aku menggeleng tak setuju. “Ladies first.”
Anggie menghela nafas. “Dia siapa.” Tanyanya. “Wanita di rumah kamu.” Lanjutnya menegaskan, karena aku terlihat bingung.
“Nyokap dan Erika.”
Anggie menggeleng. “Bukan! Wanita yang peluk kamu.”
Anggie menempelkan jari telunjuknya pada bibirku, seakan memintaku untuk diam. “Erine? Nama yang bagus.” Pujinya. “Kalian terlihat serasi, dia juga cantik.”
“Tapi...”
“Tapi kenapa Dest?”
Aku menggeleng, dan memaki diriku sendiri, yang selalu ingin memberikan penjelasan.
“Kamu juga terlihat serasi dengan Brian. Dia baik dan terlihat sayang sama kamu.” Kataku tersenyum palsu.
“Bisa nggak kita nggak bahas Brian?” Pintanya memaksa.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin tahu tentang hubungan kamu dengan Erine.”
“Sama, aku juga ingin tahu hubungan kamu sama Brian.”
“Iya udah deh kalau kamu nggak mau kasih tahu. Aku bisa lihat kok gimana hubungan kalian.” Jawabnya tanpa peduli pada kata-kataku. “Aku cuma ingin aja memastikan langsung, tapi kayaknya nggak perlu.”
“Maksud kamu gimana?” Tanyaku bingung dan tak mengerti maksud perkataan Anggie.
“Maksud aku semoga kita bahagia dengan jalan masing-masing.”
Aku mengangguk pasrah dan menyetujui permintaan Anggie. Seharusnya aku sadar, bahwa arah pembicaraannya adalah mengakhiri hubungan kami secara langsung. Namun memang itu haknya, Ia yang memulai sandiwara kami sudah seharusnya dia yang mengakhiri.
__ADS_1
Walaupun aku sempat berharap, bahwa pertemuan kami ini mengembalikan harapanku agar bisa bersamanya, namun kenyataan tidak selalui sesuai dengan impian.
Bila mimpiku hanya bisa menjadi mimpi, biarkan waktu yang menghapus rasa lukaku. Sebarapa besar aku
ingin bersamanya, namun bila Ia tak mencintaiku hal tersebut hanya akan menjadi anganku.
Biarkanlah rasa bahagia pernah memiliki waktu bersamanya, tetaplah menjadi ingatan yang tak terlupakan.
Seandainya aku dapat mengulang waktu, ingin rasanya mengucapkan kata cinta sekali saja untuknya.
♥♥♥♥
Aku terdiam dan menatap bayangan Desta, yang baru saja berada di sini. Rasanya berbeda, sangat jauh berbeda! Kami bagaikan dua orang yang begitujauh. Terlihat menggelikan, kedetakan kami selama dua tahun, berakhir seperti ini.
Tanpa sadar air mataku kembali menetes, aku benar-benar ingin menyentuh wajahnya, mengenggam tangannya, bahkan memeluknya. Sungguh, aku terlihat menyedihkan!
“Hhh.” Seandainya rasa sakit ini bisa ikut pergi dengannya, mungkin keadaanku akan jauh lebih baik.
“Kamu jahaaat!” Teriakku kesal, melemparkan bantal ke arah pintu. “Kenapa kamu nggak bisa melihat ke dalam mataku, bahwa aku sangat terluka!”
“Kenapa kamu memberikanku harapan, bahwa kamu mencintaiku selama ini! Kenapa. Kenapa Dest?! Kenapa?!”
Air mataku seakan tak bisa berhenti. Rasanya begitu sakit mengetahui Ia bersama Erine. Aku begitu iri melihatnya memeluk Desta, aku benar-benar ingin melakukan hal tersebut!
Seandainya ini hanya sebuah drama, yang dapat kuatur alur ceritanya. Aku akan mengaturnya, bahwa kami akhirnya bisa bersama dan hidup bahagia sampai tua. Sayangnya hidupku dalam kenyataan bukan dunia dongeng.
“Hhh.” Dengusku menatap sekeliling. Hanya lampu di ruang tamu yang kunyalakan, sedangkan di ruangan lain kubuat tetap padam. Aku benar-benar ingin menenangkan diriku, tapi rasanya takdir ingin membuatku semakin tahu siapa wanita yang bersama Desta.
Aku segera mengambil majalah yang terletak di bawah meja. Majalah Tania, yang tertinggal saat kemarin lusa Ia kemari. Aku baru sadar bahwa wanita di cover sangat mirip degan Erine, “Laurensia Erine.” Kataku saat membaca namanya.
Aku menghapus sisa air mata yang membasahi wajahku dan mulai membolak-balik artikel majalah yang saat ini kupegang. Dengan cepat, mataku mencari artikel yang memuat berita Laurensia Erine.
“Ketemu.” Kataku ketika menemukan artikel dan bebarapa foto dirinya.
“Laurensia Erine, seorang model lulusan dari Kanada yang saat ini berusia dua puluh enam tahun.”
Dua puluh enam tahun? Hm, usianya sama dengan Desta. Apakah mereka telah lama saling mengenal?
“Memulai karir sebagai model, sejak sekolah menengah ke atas. Sejak mengikuti orangtuanya pindah ke Kanada, karirnya sebagai model semakin bersinar. Namun beberapa bulan ini gadis cantik kelahiran Bogor ini memilih kembali ke Indonesia.”
Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Dia cantik, memiliki badan yang bagus, lulusan luar negri, dan memiliki karir sebagai model terkenal. Sangat tidak pantas dibandingkan denganku yang hanya begini.
“Dengan kesibukan yang luar biasa. Laurensia Erine, selalu menyempatkan kembali ke Bogor kota kelahirannya. Secara eksklusif dia mengatakan, bahwa Iaingin selalu dekat dengan pacar pertamanya saat SMA.”
Pacar pertama saat SMA? Apakah itu Desta. Aku ingat Desta pernah bercerita bahwa dia memiliki pacar saat SMA, walaupun hanya untuk taruhan. Tetapi bila Erine menjadi lebih cantik, dan memiliki hal yang diinginkan wanita lain. Pria mana yang akan menolak untuk menjadi kekasihnya?
“Hhh.”
Dari hal ini aku mengerti dua hal. Pertama, cemburu akan masa lalu itu ada dan menyakitkan! Karena, aku tidak bisa kembali untuk mengubah masa lalu orang yang telanjur kucintai.
Ke dua, mungkin terdengar egois. Tapi ketika mencintai seseorang terlalu dalam, rasanya sama sekali tidak ingin, orang yang kucintai mencintai wanita lain selain aku.
♥♥♥♥
__ADS_1