
Aku mengamati gantungan berbentuk beruang, dengan baju berwarna putih yang masih tersimpan rapi di dalam plastik. Sejak pertama kali mendapatkan ini, aku memang sengaja tidak pernah membukanya.
Mungkin beruang kecil ini sama sekali bukan benda berharga untuk orang lain. Selain bentuknya hanya sekepal
tangan dan mudah didapatkan di mana saja. Namun karena ini pemberian Desta, benda ini menjadi berharga untukku.
“Hallo. Sendirian?” Sapa Erine, membuatku terkejut karena harus bertemu dengannya.
Aku mengangguk dan mengizinkan Erine untuk duduk di sampingku. Walaupun rasanya tak ingin. Pertama, aku sudah sangat puas bahkan bosan melihat berita tentangnya. Kedua, rasanya aku dipaksa untuk berkaca, bahwa memang tidak layak untuk bersanding dengan Desta.
“Wah, kita memiliki boneka sama rupanya!” Serunya. Saat melihat gantungan boneka yang kuletakan di atas meja. “Desta beli waktu kami masih sekolah. Memang sih gantungan ini baru ketemu.” Jelasnya.
Aku membulatkan bibirku dan kemudian tersenyum membalas senyuman Erine. Walaupun rasanya berat untuk tersenyum disaat seperti ini. Tapi tidak mungkin aku menunjukan sisi rapuhku di hadapannya.
“Desta beli itu di mana?” Tanyaku menyelidik.
“Toko kecil, di samping sekolah kami.”
“Kamu tahu nggak toko ini sudah ada sejak sebelum aku sekolah di sini, dan sekarang pun masih buka. Hebat banget ya!” Jelas Desta, setelah keluar dari toko kecil yang terlihat usang, namun terawat.
“Ehm. Aku kira kamu berkunjung, karena sudah lama tidak berbelanja di sana.”
Desta menggeleng. “Aku sering melewati toko ini. Tapi sama sekali tidak tertarik membeli barang di sana. Karena katanya dia hanya menjual barang untuk pasangan kekasih.”
Aku mengangguk, tanda mengerti.
“Ini buat kamu.”
“Buatku?” Tanyaku bingung. Karena tiba-tiba Desta memberiku gantungan boneka berbentuk beruang kecil, lucu, dan menggemaskan.
Desta mengangguk. “Iya buat kamu. Gantungan ini merupakan simbol cinta. Itu kata pemilik toko.”
“Hanya ada baju putih?”
“Nggak.” Jawab Desta tersenyum. “Hanya saja warna putih mengartikan cinta yang tulus.”
Aku terdiam. Dan memegang erat gantungan tersebut. Aku tidak mengerti maksud dari simbol cinta dan cinta yang tulus. Apakah maksud Desta memberikan ini sebagai, simbol cinta tulusnya kepadaku?
Jadi selama ini Desta membohongiku! Dia tidak memberikan itu untukku saja, tetapi untuk Erine juga. Barang yang sama di tempat yang sama, diberikan padaku. Hanya warna yang membedakan. Milikku putih sedangkan Erine merah. Oke memalukan, aku pernah bahagia menerimanya.
Apakah dia berkata kepada Erine “Aku memberimu warna merah sebagai tanda cintaku yang membara.” Lucu. Sangat lucu, hingga membuatku ingin menertawakan diriku sendiri, yang terlalu berharap padanya.
__ADS_1
♥♥♥♥
“Desta.” Panggil Erine. “Coba lihat.” Pintanya padaku.
Aku mengamati gantungan boneka, yang digantungkan pada tas Erine. Sangat sama dengan yang kuberikan kepada Anggie, hanya saja warnanya berbeda. Seingatku, aku memberikan gantungan dengan pakaian berwarna putih, karena ingin dia tahu bahwa aku tulus mencintainya. Walaupun sampai detik ini, dia tidak menyadari.
“Dapat dari mana?” Tanyaku menyelidik.
“Dapat dari mana?” Tanya Erine terkejut. “Kamu beli ini setelah kita sekolah.” Jawabnya kesal.
“Gue nggak pernah beli apapun untuk lu, jangan ngarang deh!” Kataku kesal.
Erine berdecak-decak kesal, karena aku menyangkalnya. “Ingat nggak dulu kamu temani aku pergi ke toko dekat
sekolah?”
Aku terdiam dan berusaha mengingat kejadian bertahun-tahun lalu yang sama sekali tak kuingat. “Nggak.”
“Duh kamu ya! Jadi waktu itu aku pingin beli boneka yang hits banget di antara anak-anak yang punya pacar di sekolah. Nah waktu itu aku lupa bawa dompet, dan pinjem uang kamu untuk beli ini.” Jelasnya panjang lebar agar aku kembali teringat.
“Rin, gue aja nggak tahu lu beli apa. Emang uang gue, tapi bukan berarti gue yang beliin!” Jawabku menjelaskan, karena tak ingin boneka bermakna cinta ini diartikan sebagai hadiah dariku untuknya.
“Boneka ini?” Tanyaku tak percaya karena Anggie masih menyimpannya.
Erine mengangguk. “Sepertinya baru beli, karena aku lihat masih dibungkus rapi.”
Aku tersenyum mendengar cerita Erine, rasanya seperti mendengar kabar bahagia hanya dengan tahu Ia menyimpan baik pemberianku. “Terus?” Tanyaku ingin tahu lebih jauh.
“Aku cerita sama dia, boneka ini pemberian kamu waktu sekolah.”
“Kamu bilang gitu?” Kataku terkejut.
“Iya. Aku juga cerita dapat ini dari toko samping sekolah.”
♥♥♥♥
Semenjak tadi aku mondar-mandir di depan pintu apartemen Anggie tanpa kepastian. Walaupun aku kemari ingin menjelaskan tentang kesalahpahaman yang mungkin Ia pikirkan, namun beberapa alasan membuatku mengurungkan niat.
Aku menghirup nafas panjang untuk merilekskan diriku. Rasanya aku selalu menjadi seseorang yang bodoh, bila berhadapan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. “Hhh.”
“Desta?” Tanya Anggie tak yakin saat melihatku.
__ADS_1
“Ehm. Hai.” Balasku tersenyum canggung.
“Kamu ngapain di sini?”
Aku terdiam dan kembali berpikir menimbang apakah menjelaskan hal ini berguna karena Ia telah bersama Brian, namun di sisi lain ada pikiran bagaimana bila Anggie memiliki perasaan kepadaku dan menjadi salah paham.
“Kamu ingin bicara tentang gantungan?”Tanyanya seolah menebak pikiranku.
Aku mengangguk. “Jadi gini Gie, Erine cerita ke kamu kan kalau…”
“Bentar ya.” Potong Anggieseakan tak peduli aku sedang menjelaskan maksud kedatanganku. “Aku masuk dulu.”
Aku mengamati jam ditanganku, menanti Ia keluar dari dalam kamarnya. Namun lima menit berselang Anggie tak kunjung kembali padaku. Apakah mungkin dia tak ingin bertemu denganku lagi? “Hhh.” Dengusku nyaris menyerah.
“Sorry, lama.”
“Nggak apa-apa.” Balasku tersenyum karena Ia kembali keluar menemuiku. “Jadi Gie aku mau jelasin sama kamu, kalau sebenarnya…”
“Ini.”Potongnya.
“Lho! Kenapa di balikin Gie?” Tanyaku terkejut, dan berusaha memberikannya kembali gantungan beruang itu untuknya.
“Aku nggak mau simpan itu lagi Dest, dan seharusnya kamu nggak memberikan itu untuk dua orang.” Jelasnya.
“Gie, aku mau jelasin tentang Erine yang punya boneka sama dengan kamu. Tolong dengarin ya?” Pintaku memohon agar Ia memberiku kesempatan menjelaskan kesalahpahaman ini.
Anggie menggeleng.“Nggak perlu Dest, aku nggak butuh penjelasan apapun kok.”
“Tapi Gie...”
“Lho ada Desta?” Tanya Brian terkejut saat melihatku. “Baru datang? Kok nggak masuk?”
“Nggak. Dia cuma sebentar.” Jawab Anggie mewakiliku. “Kamu masuk dulu aja, nanti aku nyusul.”
“Gue masuk dulu ya.” Pamit Brian meninggalkan kami berdua.
Aku balas mengangguk dan tersenyum.
“Aku juga mau masuk dulu.” Pamit Anggie padaku.
“Oh. Oke.” Balasku tersenyum pasrah mengikuti keinginan Anggie, karena sekalipun aku menjelaskan cerita sebenarnya, tak akan mengubah Ia menjadi milikku.
__ADS_1