TeaAmore

TeaAmore
Episode 8 - Cemburu?


__ADS_3

Pukul dua lebih sepuluh, selalu saja demikian bila janjian dengan Tania.Padahal kami janji bertemu pukul


satu tepat, namun hingga saat ini Ia tak kunjung menunjukan tanda-tanda akan


segera datang.


“Hhh.”


Aku melihat sekelilingku, semua yang ada di sini datang bersama pasangannya. Memang ini adalah akhir pekan, sehinggawajar saja banyak pasangan muda yang datang kemari. Beginilah nasib hanya memiliki pacar sandiwara, hari sabtu pun aku hanya bertemu dengan Tania. Itupun karena Eriko sedang pergi.


Aku kembali mengamati sekeliling, berharap sosok Tania segera kutemukan. “Desta.” Kataku pelan pada diriku sendiri, saat melihatnya duduk tidak jauh dari dekatku.


Hmm. Siapa wanita itu? Rekan Bisnis? Nggak mungkin! Ini hari Sabtu. Apa mungkin pacar Desta? Dia playboy. Jadi kemungkinan besar wanita yang saat ini bersamanya adalah teman kencannya!


“Hhh.” Tetap saja aku merasa kesal. Walaupun kami hanya berpacaran sandiwara, namun bila dia telah memiliki pacar seharusnya jujur padaku, agar aku tidak berharap padanya. “Nggak. Nggak.” Kataku pelan pada diriku sendiri. “Bukan tidak berharap, tapi tidak terjebak untuk terus membantunya.”


“Desta, aku tunggu kamu dari tadi. Kamu kemana aja sayang?” Sapaku panjang lebar, dengan nada manis dan manja, walaupun rasanya geli melakukan hal ini.


Aku tertawa dalam hati melihat ekspresi terkejut Desta. Pasti dia tidak menyangka, aku akan berada di sini dan


menganggu kencannya. Rasanya aku bahagia sekaligus merasa jahat karena berbuat seperti ini, hanya untuk membalas rasa kesalku melihat dia dengan wanita lain.


“Kamu kenapa sama ceweklain? Ini selingkuhan baru kamu?” Lanjutku melanjutkan drama di depan Desta dan wanita yang sedang makan berdua dengannya.


“Gie.” Panggil wanita yang bersama Desta, dan langsung membuatku terkejut terdiam saat melihatnya. “Gue


Erika.”


Desta tertawa pelan dan menaikan jempolnya, untuk meledekku.


“Anggie. Lu ini lucu banget deh.” Tawa Erika. “Kalian ini ngomong nggak saling suka, tapi kelakukan kelihatan banget.”


“Er jangan ngaco deh.” Seru Desta.


“Iya Er, ini serius gue masih ada kontak sama kakak lu hanya karena terjebak sama mantan gue.” Jelasku.


“Iya deh terserah kalian.” Balasnya masih tertawa. “Dasar pada batu.”


                                                                        ♥♥♥♥


Bumi itu bulat dan kenyataan ke dua, bogor adalah kota yang kecil. Mungkin sangat kecil karena rasanya aku sering sekali bertemu dengan Anggie, entah sengaja ataupun tidak. Pastinya perasaan senang selalu kurasakan ketika berjumpa dengannya.


Aku berjalan pelan ke arah Anggie agar dia tidak tahu kehadiranku, karena ingin membuatnya terkejut. Entah


mengapa, menjahilinya merupakan kebahagian tersendiri untukku. Apalagi ketika melihat wajah kesalnya, dia terlihat begitu menggemaskan.


“Baa!” Kataku dengan suara keras dan menepuk pelan pundak Anggie dari belakang.


Reflek aku tertawa terbahak-bahak, saat melihat wajahnya penuh dengan cairan merah muda dan menatapku kesal.

__ADS_1


“Lu mau bikin gue mati?” Tanyanya sambil membersihkan wajahnya dengan tissue.


Aku masih tertawa terbahak-bahak melihat cairan ice cream di wajah Anggie yang tak kunjung bersih, sehingga tanpa sadar membuatku membantu membersihkannya.


“Desta!Cari kesempatan mulu ya.” Serunya menyingkirkan tanganku dari wajahnya.


“Ngapain gue cari-cari kesampatan sama lu?” Tanyaku bergidik.


“Lu kenapa sih jadi orang ngeselin banget?”


Aku tersenyum melihat Anggie yang sedang cemberut kesal. Aku sendiri tak tahu sejak kapan menyukai semua


ekspresinya, saat tersenyum, marah-marah, tertawa, bahkan saat dia merasa malu hingga wajahnya bersemu merah.


“Lu ya, gue tanya bukannya di jawab. Malah lu senyum-senyum mesum.” Kata Anggie sambil mengusapkan tissue bekas ice cream ke wajahku.


Aku menghapus pelan ice cream yang ada di wajahku. “Nih rasain.” Balasku, tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat wajahnya kembali kotor.


“Destaaa.” Protes Anggie, dan kembali berusaha membuat wajahku kotor dengan tangannya yang terkena ice cream. Aku tersenyum dan menangkap tangannya yang masih berusaha di arahkan padaku.


Dengan gerakan pasti, aku mengarahkan tangannya pada wajahnya sendiri. Sehingga justru wajahnya yang kembali kotor dengan cairan berwarna merah muda tersebut.


Anggie kembali cemberut dan berusaha membuat wajahku kembali kotor. Tanpa sadar hal ini membuat kami semakin dekat. Kami saling menyentuh, tersenyum, tertawa layaknya kekasih pada umumnya.


                                                                        ♥♥♥♥


“Ckckck.”


“Oke itu sedikit berlebihan.” Kataku meralat diriku sendiri, yang mendapatkan asumsi seperti itu. Bagaimana mungkin tidak mengetahui kabar seseorang dalam seminggu saja, aku bingung bahkan secemas ini?


Aku menghirup nafas dalam, berharap dapat kembali berpikir jernih.Lagi pula, hubungan kami hanya sandiwara di antara Evan dan keluarganya. Tidak lebih! Jadi aku harus sadar, dan tidak berlarut-larut pada perasaan tidak pasti seperti ini.


“Aku pasti bisa! Semangat Anggie! Semangat!” Kataku berapi-api, dan mengepalkan tanganku sebagai bentuk rasa


semangatku.


“Hm. Bisa? Bisa apa memang?”


Aku terkejut saat mendengar suara itu. Bahkan tanpa di dekatku, dia bisa hadir dengan suara-suara menyebalkan. Tunggu... Suara itu berasal dari kamarku bukan hatiku, tapi bagaimana mungkin dia bisa di dalam apartmentku?


Nggak mungkin. Kataku dalam hati dan berusaha mengelak telah mendengar suaranya. Suara itu tidak nyata. Hanya halusinasiku saja. Pasti. Yakinku pada diriku sendiri.


“Nih anak, pura-pura nggak dengar atau emang sekarang jadi bolot sih?” Celetuknya lagi.


“Pergi! Pergiii!” Usirku pada suara-suara Desta yang terus menggangguku. “Tolong jangan ganggu gue.” Lanjutku menutup kedua telinga beserta mataku karena takut terus mendengar suaranya.


Aku bisa mendengar suara tawanya yang semakin mendekat, bahkan bukan hanya suaranya, aku pun bisa merasakan tangan Desta saat ini sedang menyentuh lembut tanganku.


Kalau ini halusinasi, aku telah menciptakan halusinasi sempurna. Di mana aku bisa menghadirkan seseorang yang terus dipikiranku secara nyata.

__ADS_1


“Gie. Anggie. Lu kenapa?” Tanyanya khawatir dan memintaku melepaskan kedua tanganku dari telinga.


Aku mengambil nafas panjang, berharap hal ini dapat menambah keberanianku untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Bila memang Desta tidak di sini, aku harus segera ke dokter untuk menghilangkan halusinasi yang berlebihan ini.


“Desta.” Kataku senang saat melihatnya benar-benar ada dihadapanku. Tanpa sadar aku langsung memeluknya, karena setelah seminggu dia menghilang tanpa kabar akhirnya bisa bertemu dengannya. Sadar atau tidak, hanya dia yang mampu membuatku kesal sekaligus sangat senang hanya dengan berada di sampingnya.


 “Lu kenapa?” Tanyanya bingung. “Kangen sama gue?”


Aku melepaskan pelukanku padanya. Walaupun rasanya ingin terus berada di pelukannya. Tapi, tetap saja. Harga diri nomer satu. Ingat Anggie, Desta hanya pacar sandiwara. Jangan terbawa suasana.


“Kangen? Sama sekali nggak. Gue. Gue kemarin sebelum tidur nonton film horror. Dan kebawa sampai sekarang.”


Jawabku dengan alasan mainstream.


“Oh ya? Film apa memang?” Tanyanya menyelidik.


Sial. Gerutuku dalam hati. Karena terakhir kali aku melihat film horror, saat sebelum menempati apartment ini. Semenjak berada di sini dan tinggal seorang diri aku menghindari film-film bertema horror agar tidak phobia.


“Hm. Gue lupa. Judulnya panjang.”


“Lu nonton di mana? DVD? TV?”


“TV. Karena itu gue lupa judulnya dan gue lebih memperhatikan kualitas cerita dari pada judulnya.”


“Kalau gitu kasih tahu gue ceritanya gimana. Siapa tahu gue udah nonton.” Pinta Desta tersenyum misterius, seakan ingin mengetahui kejujuranku.


Aku melotot kesal padanya. “Idih, penting banget gue cerita lu?”


“Nggak. Gue cuma pingin tahu lu benaran nonton atau sebenarnya memang kangen sama gue.” Jawabnya tersenyum.


“Nggak usah sok tahu. Gue nggak kangen sama lu!” Tegasku. Walaupun sejujurnya aku tak mengerti dengan perasaan yang kurasakan saat ini. Rasanya senang bisa berada di dekatnya, tapi masa iya aku jatuh cinta dengan seseorang yang selalu membuatku kesal?


“Oh iya. By the way, lu ngapain di sini?” Lanjutku sadar, karena Ia bisa masuk apartmentku. “Lu duplikat kunci kamar gue?”


Desta mencubit pelan pipiku. “Ngapain gue duplikat kunci kamar lu? Lu itu tinggal sendiri, cewek lagi. Bisa kan lu lebih hati-hati? Kunci itu kamar! Untung gue yang masuk.” Cibirnya.


“Gue ke sini, karena mau kasih lu ini.” Lanjutnya memberiku sebuah miniatur kaca berwarna biru muda transparan.


“Tumben lu kasih gue hadiah?” Tanyaku curiga, walaupun dalam hati merasa senang. “Pasti ada maunya kan?”


Desta kembali mencubit pelan pipiku. “Lu ini! Kebiasaan ya,gue kasih hadiah bukannya ngucapin ‘Makasih Desta.’ tapi, berburuk sangka sama gue.”


“Ya... Maaf... Abisnya memang lu orang yang pantas dicurigain sih.” Jawabku terkekeh.


“Itu bentuk formalitas gue sebagai pacar sandiwara lu.” Jawabnya tersenyum dan mengacak-acak rambutku. “Soalnya nggak lucu kan. Gue pergi liburan, nggak kasih pacar gue apa-apa?”


Aku membulatkan bibirku, dan mengangguk-angguk tanda mengerti. Aku berharap dengan tetap diam, Desta tidak


melihat rasa kecewaku. Walaupun selalu mengelak jatuh cinta padanya, namun mengetahui dia memberiku barang hanya formalitas rasanya cukup mengecewakan.

__ADS_1


                                                            ♥♥♥♥


__ADS_2