
“ehh rendi, kamu sudah siap, oya turun kita sarapa
dulu hari ini kamu akan membutuhkan banyak tenaga” ajak rizki masuk ke kamar
rendi.
“iya, tapi kakak janjikan bantuin aku kalau ada yang
nggak gue ngerti” ucap rendi memasang dasi di lehernya.
“ok sip, gue yakin kok kalau kamu pasti bisa, bahkan
tanpa bantuan kakak” ucap rizki merapikan rambutnya pada pantulan cermin
“slamat pagi ma” sapa rizki menuruni tangga bersama
rendi
“pagi, wah anak mama udah pada siap nih” ucap rianti
yang tengah mempersiapkan sarapan di meja makan.
“jadi kamu mau kerja di kantor papa” tanya bayu
menikmati secangkir kopi
“iya pa” jawab rizki dengan senyum merekah di
wajahnya
“alasannya?”lirik bayu pada rendi
“nggak ada” jawab rendi menikmati sarapannya
“segitu pentingkah perempuan itu bagi rendi hingga
dia mampu membuat rendi berubah fikiran” batin rianti mengingat reni yang
datang menemui rendi kemarin.
di kantor
rendi yang sering bersantai – santai dengan
kehidupannya, kini nampak serius membaca serta menyusun dokumen yang diberikan
sekertarisnya.
tok tok tok
“masuk” kata rendi tanpa mengalihkan pandangannya
dari dokumen yang sedang ia baca
“makan siang bareng yuk, ren” ucap bayu yang
melonggarkan dasinya
“sebentar lagi, nanggung nih” ucap rendi
“tumben lo bisa seserius ini, salah minum obat lo”
kata rizki yang kini duduk di sofa. rendi hanya menatap tajam singkat ke arah
__ADS_1
rizki.
“apa karena cewek yang ke rumah itu ya, siapa lagi
namanya” kata rizki menebak
“namanya reni kak” ucap rendi dengan masih fokus
pada dokumen di tangannya.
“pacar” tanya riski menaikkan kedua alisnya
“bukan” jawab rendi singkat
“oh kirain pacar kamu, tapi kalau diperhatikan si
reni cantik juga ya, sopan lagi” puji
rizki mengingat sosok reni. rentah perasaan apa yang tiba – tiba muncul dalam
benak rendi, hawa panas mulai menyelimuti kepalanya meski ruangan itu berAC,
serasa darahnya mengalir begitu cepat menuju kepalanya sehingga jantungnya
mulai berdetak lebih kencang dan tak berirama.
“kita makan siang dimana kak” tanya rendi bergegas
memakai jasnya
“emang sudah?” tanya rizki
“ntar aja lanjutnya, gue udah laper nih” ucap rendi
rendi mendahului rendi keluar dari ruangan rendi
setelah pesanan rendi dan riski tersaji diatas meja
mereka, rizki langsung menikmatinya lain halnya dengan rendi yang hanya
mengaduk – ngaduknya dengan sendok dan garpu
“lo kenapa ren, tadi katanya laper” tanya rizki yang
merasa aneh dengan tingkah rendi
“sakit lo” tambah rizki dengan menyentuh kening
rendi.
“gue nggak papa” kata rendi menyibak tangan rizki
dari keningnya
“yakin lo” tanya rizki memperjelas yang hanya
dijawab anggukan rendi
setelah rendi memasukkan beberapa sendok nasi goreng
ke dalam mulutnya, otaknya kembali di penuhi sosok reni hingga ia memutuskan
untuk menyelesaikan semua pekerjaannya lebih awal agar bisa bertemu reni
__ADS_1
ditaman sore nanti
“yaudah gue balik ke kantor dulu ya” ucap rendi
sambil berajak berdiri
“serius lo nggak dihabisin dulu” ucap rizki
“iya gue duluan ya” ucap rendi berjalan menjauh
“ok hati – hati lo” kata rizki
rendi kembali keruangannya untuk kembali melanjutkan
pekerjaannya yang sempat tertunda setelah hampir 3 jam berkutik dengan dokumen –
dokumen tersebut “akhirnya selesai juga” ucap rendi meregangkan otot – ototnya.
setelah sampai di taman rendi yang sempat meminta
reni untuk menemuinya di taman, mencari yang dimaksudnya
“hay, udah lama ya” sapa rendi pada reni yang tengah
duduk di kursi taman
“lumayan, gimana kerjaannya” ucap reni
“lancar dan ternyata nggak sesulit yang kukira” kata
rendi yang tengah duduk di samping reni
“oh syukur kalau begitu, trus apa yang mau lo
omongin tadi katanya penting” kata reni menatap rendi
“trimah kasih ya, karena lo udah dukung gue. jujur
selama ini jarang ada orang yang ngedukung keputusan gue”
“oh itu kan kita teman jadi udah sewajarnya gue
ngedukung lo”
“teman ya” ucap rendi lirih
“iya lah, emang lo maunya?”
“gue maunya bukan sekedar teman tapi lebih dari itu,
lo mau nggak jadi pacar gue” jujur rendi
“uhuk uhuk” sentak reni yang nampak kaget
“iya gue mau bukan hanya sekedar teman buat lo, lo
nggak harus jawab sekarang kok. gue ngerti lo pasti butuh waktu memikirkan ini
tapi gue benar – benar serius” jelas rendi. reni yang mendengar itu hanya diam
dengan pertanyaan – pertanyaan di kepalanya.
jauh di seberang mereka nampak sepasang mata
__ADS_1
mengamati dua orang tersebut dari dalam mobil yang terparkir dipinggir jalan.