Tempat Cinta Berpulang

Tempat Cinta Berpulang
#10


__ADS_3

“ehh rendi, kamu sudah siap, oya turun kita sarapa


dulu hari ini kamu akan membutuhkan banyak tenaga” ajak rizki masuk ke kamar


rendi.


“iya, tapi kakak janjikan bantuin aku kalau ada yang


nggak gue ngerti” ucap rendi memasang dasi di lehernya.


“ok sip, gue yakin kok kalau kamu pasti bisa, bahkan


tanpa bantuan kakak” ucap rizki merapikan rambutnya pada pantulan cermin


“slamat pagi ma” sapa rizki menuruni tangga bersama


rendi


“pagi, wah anak mama udah pada siap nih” ucap rianti


yang tengah mempersiapkan sarapan di meja makan.


“jadi kamu mau kerja di kantor papa” tanya bayu


menikmati secangkir kopi


“iya pa” jawab rizki dengan senyum merekah di


wajahnya


“alasannya?”lirik bayu pada rendi


“nggak ada” jawab rendi menikmati sarapannya


“segitu pentingkah perempuan itu bagi rendi hingga


dia mampu membuat rendi berubah fikiran” batin rianti mengingat reni yang


datang menemui rendi kemarin.


di kantor


rendi yang sering bersantai – santai dengan


kehidupannya, kini nampak serius membaca serta menyusun dokumen yang diberikan


sekertarisnya.


tok tok tok


“masuk” kata rendi tanpa mengalihkan pandangannya


dari dokumen yang sedang ia baca


“makan siang bareng yuk, ren” ucap bayu yang


melonggarkan dasinya


“sebentar lagi, nanggung nih” ucap rendi


“tumben lo bisa seserius ini, salah minum obat lo”


kata rizki yang kini duduk di sofa. rendi hanya menatap tajam singkat ke arah

__ADS_1


rizki.


“apa karena cewek yang ke rumah itu ya, siapa lagi


namanya” kata rizki menebak


“namanya reni kak” ucap rendi dengan masih fokus


pada dokumen di tangannya.


“pacar” tanya riski menaikkan kedua alisnya


“bukan” jawab rendi singkat


“oh kirain pacar kamu, tapi kalau diperhatikan si


reni cantik juga ya, sopan lagi”  puji


rizki mengingat sosok reni. rentah perasaan apa yang tiba – tiba muncul dalam


benak rendi, hawa panas mulai menyelimuti kepalanya meski ruangan itu berAC,


serasa darahnya mengalir begitu cepat menuju kepalanya sehingga jantungnya


mulai berdetak lebih kencang dan tak berirama.


“kita makan siang dimana kak” tanya rendi bergegas


memakai jasnya


“emang sudah?” tanya rizki


“ntar aja lanjutnya, gue udah laper nih” ucap rendi


rendi mendahului rendi keluar dari ruangan rendi


setelah pesanan rendi dan riski tersaji diatas meja


mereka, rizki langsung menikmatinya lain halnya dengan rendi yang hanya


mengaduk – ngaduknya dengan sendok dan garpu


“lo kenapa ren, tadi katanya laper” tanya rizki yang


merasa aneh dengan tingkah rendi


“sakit lo” tambah rizki dengan menyentuh kening


rendi.


“gue nggak papa” kata rendi menyibak tangan rizki


dari keningnya


“yakin lo” tanya rizki memperjelas yang hanya


dijawab anggukan rendi


setelah rendi memasukkan beberapa sendok nasi goreng


ke dalam mulutnya, otaknya kembali di penuhi sosok reni hingga ia memutuskan


untuk menyelesaikan semua pekerjaannya lebih awal agar bisa bertemu reni

__ADS_1


ditaman sore nanti


“yaudah gue balik ke kantor dulu ya” ucap rendi


sambil berajak berdiri


“serius lo nggak dihabisin dulu” ucap rizki


“iya gue duluan ya” ucap rendi berjalan menjauh


“ok hati – hati lo” kata rizki


rendi kembali keruangannya untuk kembali melanjutkan


pekerjaannya yang sempat tertunda setelah hampir 3 jam berkutik dengan dokumen –


dokumen tersebut “akhirnya selesai juga” ucap rendi meregangkan otot – ototnya.


setelah sampai di taman rendi yang sempat meminta


reni untuk menemuinya di taman, mencari yang dimaksudnya


“hay, udah lama ya” sapa rendi pada reni yang tengah


duduk di kursi taman


“lumayan, gimana kerjaannya” ucap reni


“lancar dan ternyata nggak sesulit yang kukira” kata


rendi yang tengah duduk di samping reni


“oh syukur kalau begitu, trus apa yang mau lo


omongin tadi katanya penting” kata reni menatap rendi


“trimah kasih ya, karena lo udah dukung gue. jujur


selama ini jarang ada orang yang ngedukung keputusan gue”


“oh itu kan kita teman jadi udah sewajarnya gue


ngedukung lo”


“teman ya” ucap rendi lirih


“iya lah, emang lo maunya?”


“gue maunya bukan sekedar teman tapi lebih dari itu,


lo mau nggak jadi pacar gue” jujur rendi


“uhuk uhuk” sentak reni yang nampak kaget


“iya gue mau bukan hanya sekedar teman buat lo, lo


nggak harus jawab sekarang kok. gue ngerti lo pasti butuh waktu memikirkan ini


tapi gue benar – benar serius” jelas rendi. reni yang mendengar itu hanya diam


dengan pertanyaan – pertanyaan di kepalanya.


jauh di seberang mereka nampak sepasang mata

__ADS_1


mengamati dua orang tersebut dari dalam mobil yang terparkir dipinggir jalan.


__ADS_2