
“apa kamu tahu alasan reni menghindar dari mu dan
tak berani menatap matamu?” tanya ana setelah duduk di kursi taman rumah sakit.
rendi yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan ana
hanya mampu bersteruh dengan fikirannya.
“apa yang kamu fikirkan tentang reni, semuanya
salah” ucap ana dengan mata yang mulai berkaca – kaca, berusaha membendung air
matanya.
“lalu apa yang benar” kata rendi beranjak duduk
menyusul ana yang sudah duduk
“kalau pandanganku salah mengenai dia lula mengapa dia
hanya diam dan tak pernah berusaha menelasannya padaku” ucap rendi bersandar
pada sandaran kursi
“keluarga kamu belum mengetahui keberaanmu disi serta
kajadian ini kan?” kata ana
“apa hubungannya dengan keluargaku”
“karena yang akan aku ceritakan padamu ada
hubungannya dengan reni serta keluargamu terutama ayahmu”
melihat ekspresi ana yang cukup serius membuat rendi
cukup tertegun kemudian menggambil ponselnya dari saku jasnya lalu menekan –
nekan benda pipih tersebut lalu kembali mengalihkan pandangannya kembali pada
ana.
“aku hanya memberitahu rizki untuk merahasiakaan
__ADS_1
kejadian ini” kata rendi seakan mengerti tatapan ana
“tenang saja dia kakakku” tambah rendi
“maaf reni tapi untuk kali ini aku akan mengingkari
janjiku” batin ana
setelah menarik nafas dan meyakinkan diri untuk
menceritakan kejadian beberapa bulan lalu.
“apa kamu tahu saat reni tak menemui hari itu,
sebenarnya itu adalah keputusan yang sangat sulit yang pernah dia pilih.awalnya
aku juga sempat memiliki pandangan buruk pada reni” ucap ana kembali mengingat
kesalah pahamannya pada sahabatnya
“kau tahu pandangan ku saat itu sangat buruk
padanya. bahwa reni hanya silau dengan semua kekayaan, dan dugaanku semakin
padanya” tambah ana
rendi hanya mampu diam dengan begitu banyak
pertanyaan yang terus berputar diatas kepalanya.
“tapi saat aku melihat kesedihan yang selalu dia
sembunyikan dari semua orang. meruntuhkan semua dugaanku. dan akhirnya aku tahu
bahwa alasannya meninggalkanmu semua untuk keluarganya yang memberi dia
kekuatan untuk hidup, semua untuk panti tempat dia bernaung” lanjut ana dengan
sesekali menyeka sudut matanya dari butiran – butiran hangat matanya.
“percayalah reni sangat menyayangi dirimu, dia tidak
pernah bisa untuk berpaling darimu. buktinya dia selalu meluangkan waktunya
__ADS_1
untuk membuatkanmu makan siang. kamu tahu mengapa? karena kamu yang sudah
membuat tempat khusus di hatinya.” tambah ana mengingat perubahan hidup reni
setelah mengenal rendi
“sudah cukup air matanya untuk penyesalannya meninggalkan
dirimu” ucap ana beranjak berdiri dari duduknya “dan satu lagi jangan biarkan
ayahmu mengetahui keberadaan maupun keadaan reni” ucap ana sebelum berlalu meninggalkan
rendi yang masih membisu dengan fikirannya yang masih mencari jawaban mengapa
ayahnya menemui reni dan maksudnya dengan cek itu apa.
kembali ke ruang reni.
ana yang sudah duduk di kursi samping ranjang tempat
raga reni terbaring kaku. dengan semua alat medis yang menepel di sekujur
tubuhnya. dalam ruang yang cukup lengap ini kesunyian mulai melanda, ana hanya
mampu menatap sedih tubuh sahabatnya yang nampak tertidur pulas tanpa ada beban
yang terukir di wajahnya, yang membuat ana tak bergeming dan tanpa satu kata
yang terucap.
setelah beberapa jam akhirnya ibu panti serta lusi
sampai di ruangan reni, rendi yang berniat kembali ke ruangan reni menghentikan
langkahnya saat mendengar beberapa suara berbeda dari dalam. rendi lebih memilih
kembali ke rumah untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan yang terus mengusik
di kepalanya.
hay para reader, gimana ceritanya seru nggak.
like serta komen dong, biar author tambah semangat
__ADS_1
terima kasih