
"Istirahatlah, besok kita akan kembali ke jakarta" ucap rendi saat sampai di depan pintu kamar rahel.
"Maaf pak" ucap rahel dengan masih sesenggukan pelan.
"Tidak papa, jangan terlalu difikirkan" ucap rendi dengan senyumnya.
"Lagipula masih banyak investor yang bisa bekerja sama dalam proyek ini" tambah rendi menepuk pelan pundak rahel, sembari memberi dukungan moral padanya.
"Trima kasih pak" ucap rahel mengembalikan jas rendi
"Tidak masalah kamu mungkin masih membutuhkannya" kata rendi memakaikan kembali jasnya pada tubuh mungil rahel.
"Istirahatlah, saya juga akan kembali ke kamar saya untuk istirahat" tambah rendi beranjak berlalu meninggalkan kamar rahel.
Sebuah senyum terlukis di bibir tipis rahel menatap punggung rendi yang perlahan menghilang dari pandangannya sambil memeluk erat tubuhnya dengan jas hitam yang cukup mahal harganya.
Rahel yang menyegarkan tubuhnya dengan berendam air hangat, masih membisu dengan fikiran yang kembali mengingatkan akan kejadian beberapa jam lalu
__ADS_1
Flashback on
Saat rendi telah meninggalkan meja, kini hanya ada rahel bersama pak harsono. Dengan sengaja pak harsono menyentuh punggumg tangan rahel. Sontak hal itu membuat rahel menarik tangannya. "Berapa?" Tanya pak harsono
"Maaf, maksud bapak apa?" Tanya rahel sopan.
"Sudahlah tak usah berbelit - belit, saya tau kamu paham arah pembicaraan kita" ucap pak harsono dengan tangannya yang kembali menyentuh punggung tangan rahel, namun untuk kali ini lebih kearah menggenggam disertai elus halus.
"Maaf tapi saya bukan seperti yang bapak maksud" kata rahel dengan intonasi meninggi sambil menarik paksa tangannya dari genggaman pak harsono.
"Dengar ya pak, saya bukan seperti dugaan anda dan berhenti melakukan hal yang menjijikkan, saya kira anda sudah berkeluarga. Apa kata keluarga anda jika mengetahui kelakuan anda yang menjijikan ini" ucap rahel sambil beranjar berdiri. Dan biiurrr segelas air mineral berhasil membasahi wajah dan tubuh rahel.
"Dasar wanita murahan, tau apa kamu tentang keluarga saya" ucap pak harsono dengan geramnya.
Rahel yang masih berusaha menenangkaan dirinya lagi - lagi mendapat tamparan di pipi kirinya yang membuat tubuh rahel makin bergetar, rahel hanya mampu menangis tanpa sepatah kata yang mampu terucap
Rendi yang telah kembali menatap keadaan rahel yang mengingatkannya kembali saat bertemu reni di dekat kantornya. Kejadian yang menimbulkan rasa penyesalan tak berusaha mendengar penjelasan reni. Hingga rendi memberi jasnya untuk melindungi tubuh rahel dari hawa dingin.
__ADS_1
Flasback off
Namun rasa sedih itu cukup terbayar dengan perlakuan rendi padanya. Selama hampir sebulan menjadi sekertaris rendi ini kali pertama rahel melihat sisi lain dari rendi yang tertutup pada siapapun.
Sedangkan rendi yang telah membersihkan dirinya duduk termenung di pinggir tempat tidur menatap layar ponselnya. "Aku begitu merindukanmu disini" ucap rendi mengamati foto reni di layar ponselnya.
"Segeralah kembali, agar aku bisa menebus semua rasa bersalahku padamu" tambah rendi.
"Bukalah mata mu, mengapa melakukan ini padaku, cepatlah sadar disini aku sudah sangat merindukan senyum yang pernah memberiku semangat" ucap rendi dengan bulir hangat yang mulai membasahi pipi mulusnya.
Rendi yang tak pernah menunjukkan air matanya pada siapapun, berusaha tetap terlihat sabar dalam menjalani harinya. Dengan menutup diri dari setiap orang disekelilingnya termasuk orang tuanya. Hingga rendi memilih pindah ke sebuah apartemen untuk ia tinggali sejak kecelakaan reni dan memilih mengurus kantor cabang keluarganya.
Terkadang sebuah penyesalan dapat merubah kepribadian seseorang, namun akankah cinta dapat mengembalikannya. Mengembalikan semua keadaan hidup seperti sedia kala.
__ADS_1