
"Reni sampai kapan kamu tertidur kaku seperti ini" ucap rendi yang sedang menjaga reni, karena ibu fatma kembali ke panti karena ada urusan sedangkan ana mendapat kuliah tambahan.
"sudah hampir dua bulan kamu tak membuka matamu" tambah rendi menggenggam tangan kanan reni yang dingin.
"aku tahu kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini bila bersama, jangan seperti ini" kata rendi menyeka air mata di pelupuk matanya yang hendak mengalir membasahi pipinya.
"aku keluar sebentar ya" ucap rendi berlalu yang sudah tak sanggup menahan tangisnya. Setelah keluar dari ruangan reni, rendi kemudian terduduk di kursi tunggu dengan menunduk menutupi kesedihannya.
"Sudahlah tak perlu sesedih itu, asalkan kamu percaya padanya, dia akan terbangun nanti" ucap rizki sambil menepuk pelan pundak rendi.
"Kakak, sejak kapan disini?" Tanya rendi mengangkat wajahnya.
"Gue baru sampai" jawab rizki sambil memperbaiki buket bunga yang ia bawa
"Jangan terlalu sedih, kamu harus tetap kuat agar dia juga kuat" tambah rizki beranjak berdiri.
"mau kemana kak?" tanya rendi
"Mau ketemu reni, emang nggak boleh" kata rizki hendak menekan knok pintu.
Rendi masih berusaha memperbaiki suasana hatinya tiba - tiba dikagetkan oleh rizki yang berlari keluar dari ruangan reni serta sedikit berteriak memanggil dokter serta perawat.
"Kenapa kak?" Tanya rendi dengan perasaan yang semakin cemas namun tak digubris rizki yang masih sibuk memanggil dokter serta perawat.
"Kak kenapa dengan reni?" Tanya rendi sekali lagi namun dengan suara yang sedikit meninggi yang disambut pelukan oleh rizki. Seketika bayangan akan kehilangan reni kembali menghantui rendi hingga air matanya yang sempat terhenti kembali menganak sungai dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Rizki yang mendengar sesenggukan rendi spontan melepas pelukannya.
"Hei, hentikan tangismu itu" kata rizki memegang kedua pundak rendi dengan erat.
"hanya dia yang mampu mengerti setiap perasaanku, aku sudah sangat nyaman dengan keberadaannya saat itu sebelum aku melepasnya dan kini aku merasa sangat bersalah padanya" ucap rendi
"Maksud kamu apa?" Tanya rizki mengerutkan keningnya
"aku masih belum siap melepasnya kak" kata rendi
"memang siapa yang menyuruhmu berbuat begitu?" Tanya rizki semakin bingung
Belum sempat rendi menjawabnya dokter serta perawat sudah keluar dari ruangan reni.
"Bagaimana keadannya dok?" tanya rizki
"apa kami sudah boleh menemuinya?" tanya riski
" iya silahkan, kalau begitu kami permisi" ucap sang dokter berlalu dengan perawat
"Sebenarnya apa yang terjadi pada reni kak?" tanya rendi memegang tangan rizki
"yah lord, kamu belum tau" ucap rizki yang dijawab anggukan rendi
"reni sudah sadar" tambah rizki. Kalimat yang selalu ditunggu rendi
__ADS_1
rendi langsung berlari kedalam nggak peduli sama rizki yang berdiri di depan pintu dan langsung memeluk reni yang sudah terduduk di atas tempat tidur.
"Trima kasih karena sudah terbangun dari tidurmu" ucapan yang pertama rendi ucapkan pada reni. reni yang berada dalam pelukan rendi cukup bisa mendengar detak jantung rendi.
"Hemm" deheman rizki yang membuat rendi melepas pelukannya
"maaf, aku terlalu bahagia" ucap rendi
"dikondisikan dong, reni kan baru sadar" ucap rizki mendekat kearah mereka
"hai reni, gimana perasaanmu, capek nggak tidur hampir dua bulan" canda rizki yang hanya dibalas senyum tipis oleh reni
"Untung kamu cepat sadar, capek tau nasehatin rendi buat makan" kata rizki dengan tawa kecilnya
"Kak nggak usah bahas itu" ucap rendi
"Kenapa kalian ada disini?" tanya reni
"Kalau gue datang jenguk kamu, kalau rendi tiap hari ada disini" jelas rizki
Mendengar hal itu ada perasaan getir yang reni rasakan yang tergambar jelas dari perubaahan wajahnya.
"Nggak perlu khawatir, ayah nggak tau tentang semua ini" ucap rendi sambil menggenggam tangan reni seakan mengerti arah fikiran reni.
"Trimah kasih buat semuanya" ucap reni dengan mata yang berkaca - kaca
__ADS_1
"Sudahlah nggak perlu difikirkan yang penting kamu harus sehat dulu" ucap rizki
"istirahatlah aku akan mengabari orang ke panti" ucap rendi