
bruukk
“aduh” ucap reni yang menabrak seseorang. dengan
sigap memunguti buku yang terjatuh bersamanya.
“eh lo kalau jalan pake mata dong” ucap seorang yang
bertabrakan dengan reni.
“iya maaf” ucap reni sambil bergegas meninggalkan
orang tersebut.
“main kabur aja tuh anak” ucap orang tersebut dengan
masih mengamati punggung reni yang mulai menghilang di depannya.
“hai rendi, lo kenapa ngomel – ngomel nggak jelas
gitu” ucap seorang perempuan yang berjalan mendekati orang yang dia panggil
rendi.
“tau tuh cewek jalan matanya nggak dipake apa” kesal
rendi.
“mana tuh cewek biar gue masukin dalam daftar hitam
gue” ucap cewek yang penampilannya cukup elegan dengan menggunakan
barang-barang bermerek.
“tau ahh, udah cepat lo tunjukin di mana ruang
administrasinya” ucap rendi sambil mengalihkan pandangannya pada bangunan yang
berada di depannya.
“yaudah sini” kata cewek nyentrik tersebut sambil
menggenggam tangan rendi dan menariknya masuk ke dalam gedung kampus yang bisa
__ADS_1
dibilang cukup luas dan mewah tersebut.
Flash on
drrrttt drrrtt
“halo kenapa bu” ucap reni yang mengangkat panggilan
tersebut.
“nak apa kamu bisa pulang sekarang ibu mau bawa lusi
ke rumah sakit, nggak ada yang bisa jaga panti” ucap ibu fatma selaku pemilik
panti kasih bunda.
“asma lusi kambuh lagi ya, iya bu aku langsung
pulang” ucap reni yang tengah menunggu kelas berikutnya. dengan tergesah-gesah
tanpa memperdulikan apapun yang berada di depannya reni terus berlari karena
yang ada di benaknya saat ini hanya rasa khawatir pada lusi yang sudah seperti
adiknya sendiri. reni terus berlari dan kemudian menabrak sesuatu yang
Flash off
reni yang masih berusaha bernafas dengan baik
langsung masuk ke dalam kamar yang biasa di tempati lusi. “lusi kamu bertahan
ya” ucap reni sambil merangkul tubuh mungil milik lusi dan berusaha
menggendongnya keluar. “bu biar aku saja yang bawa lusi ke rumah sakit, ibu
tunggu di sini saja” ucap reni yang masuh berusaha berjalan dengan membopong
tubuh lusi.
bu fatma yang masih berjalan di samping lusi yang
berusaha menyamai langkah kaki reni langsung menatap reni. “nggak ibu harus
__ADS_1
ikut”
“udah lah bu aku bisa kok, ibu jaga panti aja” kata
reni sambil menatap ke arah bu fatma.
“yaudah tapi kamu harus segera kabarin ibu ya” ucap
bu fatmah yang tahu betul sifat reni yang keras kepala. reni tidak akan mau
mengalah khusunya hal yang menyangkut lusi adiknya.
setelah 15 menit perjalanan akhirnya reni sampai di
rumah sakit, dan sang suster yang melihat itu langsung memberikan tindakan
pertolongan.
“maaf bu silahkan anda tunggu di luar” ucap seorang
suster sambil menahan tubuh reni yang ikut masuk kedalam ruangan.
“iya, tolong selamatkan adik saya” ucap reni sambil
menggenggam erat kedua tangannya.
“maaf ibu harus segera menyelesaikan biaya
administrasinya dulu bu” ucap suster lain yang datang menghampiri reni yang
terlihat sangat cemas.
“baik suster, tapi saya mohon tolong adik saya” ucap
reni sambil berjalan menuju bagian administrasi. reni segera menyelasaikan
biaya administrasi menggunakan tabungannya yang rencananya ingin digunakan
untuk keperluan kuliah. uang yang ia dapat dari bekerja serabutan. kadang ia
membantu di salah satu warteg depan kampus saat dia tak ada jam kuliah, kadang
pula ia mengantar makanan yang ke tempat pemesan, bahkan di pagi hari sebelum
__ADS_1
sang fajar bersinar reni sudah berada di jalan raya untuk menyapu jalan
tersebut.