Tempat Cinta Berpulang

Tempat Cinta Berpulang
#18


__ADS_3

tok tok tok


“masuk” kata rendi dari dalam ruangan.


“maaf pak, saya cuman mau mengingatkan bapak. hari ini kita


ada meeting di cafe dekat kantor sejam lagi pak” kata lisa sekertaris rendi


rendi


“iya saya ingat” ucap rendi menatap sekertarisnya yang masih


berdiri


“baiklah pak, kalau begitu saya kembali ke meja saya dulu” pamit


lisa


“satu lagi, tempatnya sudah kamu siapkan” tanya rendi


“iya semua sudah saya persiapkan” jawab lisa dengan


membalikkan badannya


“baiklah” ucap rendi


“apa masih ada yang ingin bapak tanyakan” tanya lisa


“tidak, kembalilah ke meja mu” jawab rendi kembali fokus


pada laptonya


“baik pak” ucap lisa meninggalkan ruangan rendi


***


setelah hampir 2 jam berada dalam kafe akhirnya meeting


tersebut dapat terselesaikan dengan baik


“terima kasih atas kerja samanya” ucap rendi menyodorkan


tangannya


“terima kasih kembali semoga kerja sama kita berjalan dengan


baik” kata sang investor menyambut salaman rendi


“kalau begitu kami duluan”tambah sang investor


“baiklah, saya antar ke depan” ucap rendi berjalan keluar


kafe bersama patner kerjanya tersebut


setelah mengantar sang investor kedepan kafe rendi kemudian


kembali ke dalam kafe untuk mengambil jas serta laptopnya yang ketingalan.


“ini pak” kata lisa memberikan jas rendi

__ADS_1


“terima kasih” ucap rendi mengambil jasnya


“tidak masalah pak ini juga termasuk dalam tugas saya” ucap lisa


berjalan beriringan dengan rendi.


“reni”ucap rendi melihat sosok perempuan yang berjalan di


depannya


“ada apa pak” tanya lisa


“tidak kenapa – kenapa, kembalilah ke kantor duluan. saya


ada urusan sebentar, nanti saya menyusul” pintah rendi memberikan kembali


laptopnya.


“baik pak” jawab lisa mengambil kembali laptop rendi


***


“tunggu” kata rendi mengenggam erat tangan reni


“re..rendi” ucap reni terbata – bata saat membalikkan


badannya, menyadari siapa yang menarik pergelangan tangannya.


“iya ini aku” kata rendi dengan suara yang sedikit meninggi


reni hanya mampu menundukkan kepalanya, tanpa berani menatap


“ada yang ingin kamu jelaskan?” tanya rendi masih memegang


tangan reni


reni nampak tak mau membuka mulutnya sedikitpun untuk


berkata sepatah kata pun batinnya terasa sesak, mata reni mulai berkaca – kaca,


namun ia dengan sekuat tenaga menahannya.


“ingin rasanya aku memelukmu, namun apa daya untuk menjawab


pertanyaanmu pun aku tak bisa” batin reni


“sekali lagi aku tanya, ada yang ingin kamu jelaskan” ucap


rendi dengan suara dan nafas yang berat


“maaf untuk jalan pilihanku ini” batin reni


“aku rasa semua itu memang benar hahaha” ucap rendi dengan


tawa yang seakan dipaksakan


“apa yang dilihat mata, kadang bukanah yang sebenarnya


terjadi” batin reni

__ADS_1


“apa kau tahu betapa hancurnya hati ku saat ini, begitu


mudah kau menghancurkanny” kata rendi dengan mata yang memerah


“maaf tapi aku juga harus melakukan ini, tapi aku juga punya


banyak hati yang harus ku jaga, sekali lagi maaf karena telah menghancurkan


hatimu” batin reni


“mengapa kamu begitu jahat, ahhh bukan harusnya aku tak


pernah memberikan hatiku pada orang yang hanya bisa menghancurkannya. mengapa


cinta ini membuatku buta, tak mampu meihat kebenarannya” kata rendi dengan sini


menatap reni yang masih menunduk


“cinta ini tak pernah salah, hanya waktu serta keadaan yang


tak membiarkan kita bersama” batin reni


“harusnya aku tak pernah membuka diriku untukmu yang tak


pernah pantas untukku” ucap rendi penuh emosi menghempaskan pergeangan tangan


reni, lalu berjalan menjauhi reni.


“mungkin memang benar aku tak pernah pantas untuk cintamu”


ucap reni lirih yang tak mampu lagi menahan butiran hangat di pelupuk matanya.


daru ketak berdayaan reni mejawab pertanyaan rendi secara


langsung, yang hanya mampu ia jawab dalam diamnya, membuat rendi semakin


hancur. rendi kini semakin menyerah untuk mempertahankan perasaan yang tanpa ia


sadari hadir meukis senyumnya.


“cinta datang begitu cepat, pergi dengan terburu – buru tanpa


meu mengetahui betapa besar sakit yang dia goreskan” ucap rendi dengan bulir


hangat mulai mengalir dari pelupuk matanya, sesekali rendi menyeka bulir hangat


tersebut.


KAU JAHAT PADAKU


MEMANG KAU PENIPU


MANA JANJIMU PADAKU


KAU BIANG MENCINTAIKU SLALU


*lalahuta-penipu


lagu yang terdengar dari kafe tempat rendi duduk termenung,

__ADS_1


yang kian membuat hati rendi tergores lebih dalam.


__ADS_2