
“ya ampun ren lo darimana aja, trus kemaren kenapa
nggak masuk, kenapa nggak kabari kemarin?” tanya ana sahabat reni.
“tanya yang satu-satu dong ana bingung gue jawab
yang mana dulu” jawab reni yang baru masuk ke ruang kuliah dan langsung duduk
di samping ana.
“yaudah cepat lo jawab kepo nih gue” kata ana
menatap reni.
“kemarin asma lusi kumat jadi geu bawa dia ke rumah
sakit” jawab reni dengan santai, sambil mempersiapkan bukunya.
“trus lusi gimana kabarnya sekarang?” tanya ana
“dia udah mendingan kok”
“syukur deh kalau gitu” ucap ana
“eh lo tau nggak kemarin ada anak baru” tambah anak
“ohh” ucap reni singkat sambil membaca buku di
tangannya.
“trus anaknya ganteng, kayaknya anak orang tajir
trus...” kata ana dengan enuh semangat.
“trus.. kenapa lo jadi diam” kata reni yang
mengalihkan pandangannya pada ana yang tiba-tiba diam tanpa kata.
“itu orangnya ren” kata ana sambil menatap pintu
yang menampakkan sekelompok anak elit memasuki ruang kuliah. mereka kemudian
berjejer masuk
*Rendi kusuma
anak dari pasangan rianti dan bayu, keluarga mereka
__ADS_1
memiliki bisnis yang bisa dibilang lumayan besar. dan kekayaan mereka takkan
habis hingga tujuh turunan. rendi memiliki kakak bernama rizki kusuma yang kini
membantu ayahnya mengurus kantor mereka.
*clawdya pramono
anak tunggal dari pengusaha berlian yang di segani
banyak orang di kota tersebut. banyak pria yang mendambakan dirinya menjadi
kekasih namun mereka hanya menjadi mainan clawdya, yaa bisa dibilang bahwa
clawdya seorang playgirl. apapun yang clawdya inginkan bisa dipastikan akan ia
dapatkan dengan mudah.
*Winda H.
orang tuanya juga pebisnis terkenal di kota ini,
meski bisnis orang tuanya masih di bawah bisnis keluarga kusuma namun kekayaan
mereka juga patut diperhitungkan.
sebenarnya dia sepupu dari rendi jadi nggak perlu
ditanya lagi pastinya orang tuanya juga pebisnis handal.
coba saja kalian bayangkan jika semua anak
konglomerat berteman dan bersatu. mereka sering berbuat apapun yang menurut
mereka hanya lelucon namun bagi orang lain itu merupakan seb1uah perbudakan.
tidak ada yang berani melawan kehendak mereka. dengan kekuasaan orangtua mereka
bahkan pihak kampus pun tak berkutik sedikit pun, sebab mereka telah menjadi
donatur yang bisa dibilang lumayan besar terhadap kampus tersebut.
setelah selesai perkuliahan reni tak langsung
pulang, dia pergi ke warteg yang berada di depan kampus karena ia bekerja
sambilan disana. meski ia masih merasa lelah akan kejadian kemarin namun dia
__ADS_1
harus bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. kini uang tabungannya menipis
untuk membayar biaya pengobatan lusi. reni dengan senang hati melakukannya
tanpa rasa malu, menurut reni apapun mampu ia kerjakan selagi pekerjaan itu
halal serta tak mengganggu proses perkuliahannya.
setelah sampai di warteg
“mau makan apa kak?” tanya reni sopan
“nasi campur sama es teh” ucap seorang yang sudah
duduk
“iya kak tunggu sebentar ya” kata reni sambil
melangkah ke dalam mengambilkan pesanan.
“nak gimana kabar lusi” tanya pemilik warteg
“lusi udah baikan kok bu” ucap reni
“syukur kalau lusi udah baikan, apa dia masih di
rumah sakit” ucap bu ajeng pemilik awrteg.
“tidak bu, tadi pagi lusi udah balik ke panti” kata
reni.
“maaf ya ibu nggak bisa jenguk lusi kemarin” ucap bu
ajeng
“nggak papa kok bu, malahan saya yang harusnya
berterima kasih karena udah di kasih izin kemarin”
“iya itu harus nak kan adek kamu lagi sakit”
reni sebenarnya hanya bertugas untuk mencuci piring
namun saat banyak pengunjuk dia akan berinisiatif untuk ikut melayani
pengunjung tersebut. reni bisa pulang ke panti saat jam 6 sore atau lebih
__ADS_1
tepatnya saat warteg itu tutup.