
“ren ini dokumen yang harus kamu pelajari, nanti siang kamu
yang jadi pemimpin rapat bulanan” jelas rizki menyodorkan dokumen
“apa, kakak serius “kata rendi yang cukup terkejut bukan
karena dia yang akan memimpi rapat tersebut namun seperti yang sudah menjadi
rutinitasnya selama sebulan ini. pada jam makan siang dia akan menyempatkan
waktunya untuk makan siang bersama reni.
“jam berapa nanti meetingnya “ tanya rendi meletakkan
dokumen ke atas meja kerjanya
“jam 11 siang” jawab rizki enteng
“emang nggak bisa kakak saja yang pimpin, kan bulan lalu aku
yang yang pimpin.” kata rendi menyusul rizki yang sudah duduk di sofa
“bisa ya kak” tambah rendi memohon pada rizki
“nggak bisa ren, ini tugas sekaligus tanggung jawab yang di
berikan ayah padamu” ucap rizki sambil
meminum air botol kemasan yang ada di meja.
“tapi kak aku ada janji penting siang nanti” ucap rendi
mulai meninggi
“janji ketemu sama reni”kata rizki memicingkan matanya pada
rendi
“udah hubungi saja dia, nanti sorekan kalian juga ketemu”
tambah rizki menepuk bahu rendi sambil melangkah meninggalkan rendi yang masih
diam terpaku.
“mungkin sebaiknya aku turuti saran kak rizki untuk keadaan
ini” batin rendi mengambil handponenya diatas meja
__ADS_1
“hallo reni, kamu dimana” tanya rendi saat panggilannya
tersambung
“hallo ren, kamu nggak papa” tanya rendi mulai resah saat
reni tak menjawab pertanyaanny
“hmm iya, ada apa rendi. aku lagi sibuk nih” ucap reni
dengan suara yang terdengar agak parau di seberang sana
“kamu nggak papa, suara kamu kok parau gitu, apa kamu habis
nangis” tanya rendi memastikan
“aku nggak papa kok, oh iya kamu kenapa hubungi aku” jawab
reni dengan suara yang mulai melemah
“mungkin siang ini kita nggak bisa makan siang bareng
soalnya aku ada meeting siang ini, nggak papa kan kamu makan siang sendiri”
jelas rendi
telfonnya” ucap reni memutuskan panggilan rendi
“aneh kenapa dia agak berubah, apa dia baik – baik saja. apa
dia menyembunyikan sesuatu” ucap rendi masih menatap layar handponenya
“huuffttt, sudahlah nanti sore saja aku tanya saat ketemu di
taman” kata rendi memasukkan handponenya ke dalam saku jasnya
setelah rendi berbicara dengan reni dia begitu resah,
fikirannya kini hanya di isi oleh suara reni yang terdengar habis menangis.
hingga ia memutuskan untuk meminta rizki yang menggantikannya memimpin meeting
tersebut karena ia sudah tak bisa fokus dengan apa yang akan ia sampaikan.
setelah hampir 4 jam dalam ruang meeting rendi terlihat sangat terburu – buru meninggalkan
ruangan tersebut tanpa berkata sepatah kata pun.
__ADS_1
rendi kemudian memacu mobilnya menuju kampus tempat reni
berkuliah, namun saat rendi sampai di sana ia tak menemukan reni
“hay ren, udah lama nggak ketemu. apa kabar” sapa klawdya
yang menghampiri rendi
“hei kabar aku baik. kalau kamu gimana masih betah kuliah”
tanya rendi
“yah mau gimana lagi, daripada gabut di rumah terus” keluh
klawdya
“emang nggak niat buat terusin perusahaan orang tua kamu”
tanya rendi beranjak duduk di kursi dekat mereka
“kalau untuk itu aku masih mikir” kata klawdya menyilangkan
tangannya di dada
“kenapa harus mikir kan nanti juga bakalan kamu yang nerusin
perusahaan tersebut” tanya rendi menggerutkan keningnya
“tumben lo mikir sejauh itu”
“itu karena... ya ampun aku lupa” jawab rendi mengingat
tujuannya ke tempat tersebut
“reni dimana yaa, apa kalian masih ada kelas” tanya rendi
“nggak tahu tuh anak dimana, tapi kelas hari ini udah bubar
sejak siang tadi” ucap klawdya
“kalau gitu aku duluan ya, kapan – kapan kita ngobrol lagi
ok” ucap rendi meninggalkan klawdya.
“apa hebatnya sih anak panti itu sampai kamu segitunya ren”
kata klawdya dengan emosi yang menyulut dalam dadanya.
__ADS_1
dengan mata yang berapi-api