Tempat Cinta Berpulang

Tempat Cinta Berpulang
#13


__ADS_3

“ren ini dokumen yang harus kamu pelajari, nanti siang kamu


yang jadi pemimpin rapat bulanan” jelas rizki menyodorkan dokumen


“apa, kakak serius “kata rendi yang cukup terkejut bukan


karena dia yang akan memimpi rapat tersebut namun seperti yang sudah menjadi


rutinitasnya selama sebulan ini. pada jam makan siang dia akan menyempatkan


waktunya untuk makan siang bersama reni.


“jam berapa nanti meetingnya “ tanya rendi meletakkan


dokumen ke atas meja kerjanya


“jam 11 siang” jawab rizki enteng


“emang nggak bisa kakak saja yang pimpin, kan bulan lalu aku


yang yang pimpin.” kata rendi menyusul rizki yang sudah duduk di sofa


“bisa ya kak” tambah rendi memohon pada rizki


“nggak bisa ren, ini tugas sekaligus tanggung jawab yang di


berikan ayah padamu”  ucap rizki sambil


meminum air botol kemasan yang ada di meja.


“tapi kak aku ada janji penting siang nanti” ucap rendi


mulai meninggi


“janji ketemu sama reni”kata rizki memicingkan matanya pada


rendi


“udah hubungi saja dia, nanti sorekan kalian juga ketemu”


tambah rizki menepuk bahu rendi sambil melangkah meninggalkan rendi yang masih


diam terpaku.


“mungkin sebaiknya aku turuti saran kak rizki untuk keadaan


ini” batin rendi mengambil handponenya diatas meja

__ADS_1


“hallo reni, kamu dimana” tanya rendi saat panggilannya


tersambung


“hallo ren, kamu nggak papa” tanya rendi mulai resah saat


reni tak menjawab pertanyaanny


“hmm iya, ada apa rendi. aku lagi sibuk nih” ucap reni


dengan suara yang terdengar agak parau di seberang sana


“kamu nggak papa, suara kamu kok parau gitu, apa kamu habis


nangis” tanya rendi memastikan


“aku nggak papa kok, oh iya kamu kenapa hubungi aku” jawab


reni dengan suara yang mulai melemah


“mungkin siang ini kita nggak bisa makan siang bareng


soalnya aku ada meeting siang ini, nggak papa kan kamu makan siang sendiri”


jelas rendi


telfonnya” ucap reni memutuskan panggilan rendi


“aneh kenapa dia agak berubah, apa dia baik – baik saja. apa


dia menyembunyikan sesuatu” ucap rendi masih menatap layar handponenya


“huuffttt, sudahlah nanti sore saja aku tanya saat ketemu di


taman” kata rendi memasukkan handponenya ke dalam saku jasnya


setelah rendi berbicara dengan reni dia begitu resah,


fikirannya kini hanya di isi oleh suara reni yang terdengar habis menangis.


hingga ia memutuskan untuk meminta rizki yang menggantikannya memimpin meeting


tersebut karena ia sudah tak bisa fokus dengan apa yang akan ia sampaikan.


setelah hampir 4 jam dalam ruang meeting rendi terlihat sangat terburu – buru meninggalkan


ruangan tersebut tanpa berkata sepatah kata pun.

__ADS_1


rendi kemudian memacu mobilnya menuju kampus tempat reni


berkuliah, namun saat rendi sampai di sana ia tak menemukan reni


“hay ren, udah lama nggak ketemu. apa kabar” sapa klawdya


yang menghampiri rendi


“hei kabar aku baik. kalau kamu gimana masih betah kuliah”


tanya rendi


“yah mau gimana lagi, daripada gabut di rumah terus” keluh


klawdya


“emang nggak niat buat terusin perusahaan orang tua kamu”


tanya rendi beranjak duduk di kursi dekat mereka


“kalau untuk itu aku masih mikir” kata klawdya menyilangkan


tangannya di dada


“kenapa harus mikir kan nanti juga bakalan kamu yang nerusin


perusahaan tersebut” tanya rendi menggerutkan keningnya


“tumben lo mikir sejauh itu”


“itu karena... ya ampun aku lupa” jawab rendi mengingat


tujuannya ke tempat tersebut


“reni dimana yaa, apa kalian masih ada kelas” tanya rendi


“nggak tahu tuh anak dimana, tapi kelas hari ini udah bubar


sejak siang tadi” ucap klawdya


“kalau gitu aku duluan ya, kapan – kapan kita ngobrol lagi


ok” ucap rendi meninggalkan klawdya.


“apa hebatnya sih anak panti itu sampai kamu segitunya ren”


kata klawdya dengan emosi yang menyulut dalam dadanya.

__ADS_1


dengan mata yang berapi-api


__ADS_2