
“ngapain lo disini” ucap reni pada rendi yang tengah
menikmati matahari yang terbenam di bawah pohon yang rindang. rendi hanya
memandang reni yang berdiri di sebelahnya sekejap lalu kembali memandang arah
menghilangnya matahari. reni yang tak digubris sama sekali lebih memilih duduk
di samping rendi.
“lo ada masalah ya? “ tanya reni yang sedari tadi
memperhatikan wajah yang seakan penuh dengan beban. rendi memilih menutup mata
sembari bersandar pada sandaran kursi taman.
“kalau lo mau cerita, lo cerita aja sama gue. gue
akan jadi pendengar setia kok” kata reni yang terus bersuara meski tak mendapat
respon sedikit pun dari rendi,
“mataharinya indah ya, tapi keindahannya akan
membawa suatu kerinduan padanya setelah dia tergantikan bulan, sama halnya
dengan kehidupan kita manusia, meski kita pasti meninggalakan dunia ini tapi
setidaknya kita akan tetap meninggalkan setidaknya sedikit kenangan” kata reni
dengan terus menatap senja
“lo tahu kenangan itu kita dapat dari interaksi kita
sesama” tambah reni
“meski tidak semua kenangan itu sesaui yang kita
inginkan, dan sesekali kenangan itu akan memberi rasa pahit untuk kehidupan
kita, namun terkadang pula kenangan itu mampu membuat kita melukis senyum bukan
hanya untuk diri tapi juga untuk orang lain. apapun yang terjadi hari ini akan
menjadi kenangan”
“dan satu hal yang gue tahu setiap masalah yang kita
alami akan menjadi sebuah kenangan yang kuat di hari kedepannya” ucap reni
kemudian kembali terdiam.
__ADS_1
“kalau lo emang nggak mau cerita sama gue, nggak
papa kok” kata reni sambil tersenyum pada rendi tapi rendi tampak tak
menggubris hal tersebut sehingga membuat reni merasa kurang nyaman.
“bukan maksud gue buat ganggu lo” ucap reni sambil
beranjak berdiri untuk pergi dari tempat itu, namun tiba – tiba rendi menarik
pergelangan tangan reni.
“gue mohon lo tetap disini” kata yang diucapkan
rendi setelah sekian lama tak bersuara
reni kemudian kembali terduduk di kursi taman tanpa
bersuara
“thank’s ya udah nemenin gue” kata rendi
“iya sama – sama, masalh keluarga ya?” tanya reni
yang hanya di jawab anggukan rendi
“saran gue sih, sebaiknya kalian bicara dengan
dampaknya pada semua orang” jelas reni panjang lebar
“hmm iya, bawel bangret sih lo” ucap rendi dengan
mecubit pipi reni dengan gemes.
“sakit tau” ucap reni sambil mengelus pipinya.
“hahaha pulang yuk” ajak rendi dengan beranjak
berdiri
“lo mau terus duduk disitu, ini udah malam. pulang
bareng yuk” kata rendi berbalik menatap reni yang masih terduduk.
rendi kemudian berjalan mendekat keearah reni
kemudian menggenggam tangan reni.
setelah 15 menit perjalanan mobil sport rendi sampai
di panti
__ADS_1
“makasih ya udah diberi tumpangan” ucap reni
beranjak keluar mobil, reni tak mengajak rendi masuk karena ia merasa kurang
nyaman pada orang – orang di dalam panti.
“you’re welcome” ucap rendi singkat
“hati – hati di jalan ya” ucap reni sambil
melambaikan tangannya.
dalam perjalanan kembali ke rumah rendi terus
memikirkan permintaan ayahnya yang membuat mereka bertengkar.
Flash on
“ren ayah mau bicara sama kamu” ucap bayu yang masih
membaca koran.
“kenapa yah” kata rendi duduk di sofa
“besok kamu mulai bekerja di kantor” kata bayu
sambil meletakkan koran ke atas meja
“tapi rendi masih belum siap ayah” ucap rendi
“itu karena kamu hanya nongkrong nggak jelas dengan
teman kamu, harusnya kamu bisa seperti kakak kamu dia mampu membantu ayah
membangun perusahaan kita.” bentak bayu
rendi yang mendengar itu langsung berdiri dan
berjalan ke arah pintu.
“mau kemana kamu?” tanya bayu dengan suara meninggi
“mau nongkrong nggak jelas sama teman aku” ucap
rendi dingin
“rendi kembali kesini, ayah belum selesai ngomong”
teriak bayu yang semakin emosi melihat tingkah anaknya yang pergi membawa mobil
sport kesayangannya.
__ADS_1
Flash off