Tempat Cinta Berpulang

Tempat Cinta Berpulang
#15


__ADS_3

sudah beberapa hari ini rendi menajalani hari-hatinya dengan


murung dan ya semua itu karena dia tidak bisa bertemu dengan reni. setiap hari


rendi selalu mendatangi kampus dan tempat reni dulu bekerja namun reni sudah


tak bekerja ditempat itu lagi. rendi merasa putus asa akan keadaan saat ini,


begitu banyak pertanyaan yang bersarang di kepala rendi mengenai alasan reni


berbuat demikian. hingga rendi mendengar dari klawdya bahwa reni hanya


mempermainkannya, dan kini reni sudah bahagia bersama kekasihnya. awalnya rendi


tak mempercayai itu semua namun saat klawdya memperihatkan layar handponenya memperlihatkan


reni sedang bercanda gurau dengan seorang pria asing, membuat rendi kini mulai


tersulut emosi. darahnya mengalir dengan cepat keatas kepalanya, dan ada rasa


kecewa dalam benak rendi melihat hal itu. sejak kejadian tersebut rendi hanya


melakukan aktivitasnya seperti biasa namun kini ia sudah tak lagi sama seperti


dulu.


“ren nggak sarapan dulu” tanya rianti pada rendi yang


menuruni tangga hendak berangkat ke kantor


“nggak ma, ntar aja di kantor” ucap rendi datar


“tapi kamu dari semalam belum makan apa – apa nak” ucap


rianti mencemaskan rendi yang sudah beberapa hari ini cuek akan kesehatannya


“nggak papa ma” ucap rendi mengeratkan dasi di lehernya


“aku berangkat dulu ma” ucap rendi berlalu meninggalkan


rianti


“kamu kenapa nak, apa telah terjadi sesuatu sama kamu. mama


merindukan kamu yang beberapa hari lalu. yang ceria, dan nggak seperti sekarang


hanya bisa diam dan sibuk sama urusan kantor” ucap rianti dalam hatinya menatap


lirih kepergian rendi


tess tes tes


tanpa terasa airmata kekhawatiran mulai mengalir di pipi


rianti


“mama kenapa” suara rizki yang membuyarkan lamunan rianti


“nak, rendi kenapa akhir – akhir ini dia berubah. apa


pekerjaannya di kantor terlalu berat” tanya rianti mengusap air hangat yang


mengalir di pipinya.


“nggak kok ma, dari awal masuk kantor rendi selalu bisa

__ADS_1


ngehandel semua kerjaannya. tapi beberapa hari ini dia memang agak murung”


jelas rizki duduk di meja makan


“bahkan ni ma, beberapa hari ini dia juga kayak sengaja


menyibukkan dirinya, pekerjaan yang biasanya ditangani bawahannya dia langsung


turun tangan” kata rizki mengingat kejadian di kantornya


“dia juga sering marah nggak jelas ma, kalau ada karyawan


yang bikin kelalaian di kantor” jelas rizki


“emang kamu nggak nanya sama dia” tanya rianti yang menyusul


rendi duduk


“udah ma, berkali – kali malahan dan berkali – kali juga dia


hanya diam” ucap rizki putus asa


“sejak kapan dia setempramen itu” tanya rianti


“sejak temannya datang menemuinya di kantor ma” jawab rizki


menikmati sarapannya


“reni” tanya rianti menaikkan kedua alisnya


“bukan ma, kalau nggak salah yang teman masa kecil rendi ma,


yang sering menghabiskan waktu sama rendi di taman.” ucap rizki karena ia juga


“klawdya maksud kamu” kata rianti memperjelas


“mungkin ma. aku juga nggak tau namanya” ucap rendi


“yaudah ma, aku sudah selesai. aku berangkat dulu ya ma”


ucap rizki mengakhiri sarapannya


“iya kamu hati – hati di jalan ya dan ingatkan adikmu buat


makan dari semalam dia nggak makan apa –apa” ucap rianti


“iya ma” kata rizki meninggalkan rianti sendiri di meja


makan pasalnya suaminya sedang keluar kota untuk mengurus bisnisnya.


setelah jam makan siang rizki melangkah masuk ke ruang kerja


rendi


“ada apa kak” tanya rendi tanpa mengalihkan pandangannya


dari laptopnya


“ni minum” kata rizki menyodorkan minuman bersoda yang ia


bawa


“simpan di meja saja kak, ntar aku minum” ucap rendi tanpa


ekspresi

__ADS_1


“rendi” kata rizki dengan suar yang mulai meninggi


“ok baiklahh” ucap rendi mengalah meninggalkan laptopnya dan


meneguk minuman tersebut


“duduk dulu, inikan jam istirahat. lagi pula tubuhmu bukan


robot yang tujuannya untuk bekerja” kata rizki menarik tangan rendi yang akan


kembali ke meja kerjanya. rendi hanya bisa menghelah nafas panjang lalu


mengikuti keinginan kainginan kakaknya.


“lo ada masalah sama teman lo yang datang ke kantor beberapa


hari lalu” kata rizki membuka percakapan


“nggak” jawab rendi datar


“jadi kenapa lo setempramen gitu setelah dia menemuimu, trus


kenapa lo nggak lagi pergi ketemu sama reni, biasanya juga jam makan siang lo


habisin sama reni” ungkap rizki


“dia hianatin gue” jelas singkat rendi sambil menyandarkan


dirinya


“lo yakin, tau dari mana lo, tapi selama ini dia baik sama


lo” tanya rizki semakin penasaran


“udahlah jangan bahas dia lagi, dia sudah bahagia dengan


pacar barunya” kata rendi dengan suara meninggi


“tapi lo masih sayang kan sama dia” tanya riski melipat


tangannya di dada


“semua rasa sayang gue ke dia udah hilang kini hanya ada


rasa benci”


“lo boleh benci sama dia dan itu wajar, tapi gue mohon


banget sama lo jangan ngebawa masalah pribadi lo kekantor. kasihan


karyawan-karyawan yang tiap hari lo maki, mereka juga manusia jadi wajar kalau


mereka buat kelalaian” jelas riski beranjak berdiri


“dan gue yakin reni nggak bakalan tega buat hianatin lo,


jangan sampai menyesal dengan keputusan lo” ucap rizki keluar dari ruangan


rendi


“kalau dia nggak hianatin gue, lalu kenapa dia menjauhiku,


bukannya itu semakin membenarkan ucapan klawdya” ucap rendi melirik ke arah


pintu. kini yang rendi ketahui reni telah mempermainkan perasaannya.yang datang menyentuh hatinya mengisi setiap kekosongannya, lalu hilang tanpa melihat wajah rendi untuk menjelaskan kepergiannya.

__ADS_1


__ADS_2