
sudah beberapa hari ini rendi menajalani hari-hatinya dengan
murung dan ya semua itu karena dia tidak bisa bertemu dengan reni. setiap hari
rendi selalu mendatangi kampus dan tempat reni dulu bekerja namun reni sudah
tak bekerja ditempat itu lagi. rendi merasa putus asa akan keadaan saat ini,
begitu banyak pertanyaan yang bersarang di kepala rendi mengenai alasan reni
berbuat demikian. hingga rendi mendengar dari klawdya bahwa reni hanya
mempermainkannya, dan kini reni sudah bahagia bersama kekasihnya. awalnya rendi
tak mempercayai itu semua namun saat klawdya memperihatkan layar handponenya memperlihatkan
reni sedang bercanda gurau dengan seorang pria asing, membuat rendi kini mulai
tersulut emosi. darahnya mengalir dengan cepat keatas kepalanya, dan ada rasa
kecewa dalam benak rendi melihat hal itu. sejak kejadian tersebut rendi hanya
melakukan aktivitasnya seperti biasa namun kini ia sudah tak lagi sama seperti
dulu.
“ren nggak sarapan dulu” tanya rianti pada rendi yang
menuruni tangga hendak berangkat ke kantor
“nggak ma, ntar aja di kantor” ucap rendi datar
“tapi kamu dari semalam belum makan apa – apa nak” ucap
rianti mencemaskan rendi yang sudah beberapa hari ini cuek akan kesehatannya
“nggak papa ma” ucap rendi mengeratkan dasi di lehernya
“aku berangkat dulu ma” ucap rendi berlalu meninggalkan
rianti
“kamu kenapa nak, apa telah terjadi sesuatu sama kamu. mama
merindukan kamu yang beberapa hari lalu. yang ceria, dan nggak seperti sekarang
hanya bisa diam dan sibuk sama urusan kantor” ucap rianti dalam hatinya menatap
lirih kepergian rendi
tess tes tes
tanpa terasa airmata kekhawatiran mulai mengalir di pipi
rianti
“mama kenapa” suara rizki yang membuyarkan lamunan rianti
“nak, rendi kenapa akhir – akhir ini dia berubah. apa
pekerjaannya di kantor terlalu berat” tanya rianti mengusap air hangat yang
mengalir di pipinya.
“nggak kok ma, dari awal masuk kantor rendi selalu bisa
__ADS_1
ngehandel semua kerjaannya. tapi beberapa hari ini dia memang agak murung”
jelas rizki duduk di meja makan
“bahkan ni ma, beberapa hari ini dia juga kayak sengaja
menyibukkan dirinya, pekerjaan yang biasanya ditangani bawahannya dia langsung
turun tangan” kata rizki mengingat kejadian di kantornya
“dia juga sering marah nggak jelas ma, kalau ada karyawan
yang bikin kelalaian di kantor” jelas rizki
“emang kamu nggak nanya sama dia” tanya rianti yang menyusul
rendi duduk
“udah ma, berkali – kali malahan dan berkali – kali juga dia
hanya diam” ucap rizki putus asa
“sejak kapan dia setempramen itu” tanya rianti
“sejak temannya datang menemuinya di kantor ma” jawab rizki
menikmati sarapannya
“reni” tanya rianti menaikkan kedua alisnya
“bukan ma, kalau nggak salah yang teman masa kecil rendi ma,
yang sering menghabiskan waktu sama rendi di taman.” ucap rizki karena ia juga
“klawdya maksud kamu” kata rianti memperjelas
“mungkin ma. aku juga nggak tau namanya” ucap rendi
“yaudah ma, aku sudah selesai. aku berangkat dulu ya ma”
ucap rizki mengakhiri sarapannya
“iya kamu hati – hati di jalan ya dan ingatkan adikmu buat
makan dari semalam dia nggak makan apa –apa” ucap rianti
“iya ma” kata rizki meninggalkan rianti sendiri di meja
makan pasalnya suaminya sedang keluar kota untuk mengurus bisnisnya.
setelah jam makan siang rizki melangkah masuk ke ruang kerja
rendi
“ada apa kak” tanya rendi tanpa mengalihkan pandangannya
dari laptopnya
“ni minum” kata rizki menyodorkan minuman bersoda yang ia
bawa
“simpan di meja saja kak, ntar aku minum” ucap rendi tanpa
ekspresi
__ADS_1
“rendi” kata rizki dengan suar yang mulai meninggi
“ok baiklahh” ucap rendi mengalah meninggalkan laptopnya dan
meneguk minuman tersebut
“duduk dulu, inikan jam istirahat. lagi pula tubuhmu bukan
robot yang tujuannya untuk bekerja” kata rizki menarik tangan rendi yang akan
kembali ke meja kerjanya. rendi hanya bisa menghelah nafas panjang lalu
mengikuti keinginan kainginan kakaknya.
“lo ada masalah sama teman lo yang datang ke kantor beberapa
hari lalu” kata rizki membuka percakapan
“nggak” jawab rendi datar
“jadi kenapa lo setempramen gitu setelah dia menemuimu, trus
kenapa lo nggak lagi pergi ketemu sama reni, biasanya juga jam makan siang lo
habisin sama reni” ungkap rizki
“dia hianatin gue” jelas singkat rendi sambil menyandarkan
dirinya
“lo yakin, tau dari mana lo, tapi selama ini dia baik sama
lo” tanya rizki semakin penasaran
“udahlah jangan bahas dia lagi, dia sudah bahagia dengan
pacar barunya” kata rendi dengan suara meninggi
“tapi lo masih sayang kan sama dia” tanya riski melipat
tangannya di dada
“semua rasa sayang gue ke dia udah hilang kini hanya ada
rasa benci”
“lo boleh benci sama dia dan itu wajar, tapi gue mohon
banget sama lo jangan ngebawa masalah pribadi lo kekantor. kasihan
karyawan-karyawan yang tiap hari lo maki, mereka juga manusia jadi wajar kalau
mereka buat kelalaian” jelas riski beranjak berdiri
“dan gue yakin reni nggak bakalan tega buat hianatin lo,
jangan sampai menyesal dengan keputusan lo” ucap rizki keluar dari ruangan
rendi
“kalau dia nggak hianatin gue, lalu kenapa dia menjauhiku,
bukannya itu semakin membenarkan ucapan klawdya” ucap rendi melirik ke arah
pintu. kini yang rendi ketahui reni telah mempermainkan perasaannya.yang datang menyentuh hatinya mengisi setiap kekosongannya, lalu hilang tanpa melihat wajah rendi untuk menjelaskan kepergiannya.
__ADS_1