
sesampainya di rumah rendi terus mengurung diri
dalam kamar, tak ingin menemui siapapun. dalam benaknya kini hanya ada rasa
kecewa pada ayahnya yang selalu membanggakan kakaknya, hal ini membuat rendi
tak mau membiarkan kakaknya menemuinya.
sudah 3 hari rendi tak pernah ke kampus bahkan tak
bisa dihubungi.
reni yang terus memikirkan pertemuan terakhirnya
dengan rendi merasa sedikit ibah dengannya, “dia nggak papa kan, atau gue
kerumahnya saja sehabis kuliah? “ batin reni.
setelah reni sampai di depan rumah rendi, dia mulai
ragu untuk melangkah masuk. setelah berdiri cukup lama akhirnya reni memutuskan
untuk membatalkan niat awalnya.
“kamu siapa?” tanya seseorang dari belakang reni
“engg saya” jawab reni dengan wajah yang takut
seakan dia ketahuan berbuat salah
“iya kamu, ngapain lo disini” kata rizki memperjelas
pertanyaannya
“saya reni kak, teman kampus rendi” jawab reni
“ngapain lo kesini?” tanya rizki dengan tangan yang
terlipat di dadanya
“mau ketemu rendi kak, buat bahas tugas kampus” kata
reni takut - takut
“udah kamu pulang saja, rendi nggak mau ketemu
siapapun” ucap rendi dengan nafas yang berat
“tolong kak, ini penting banget” pintah reni
“yaudah tapi tanggung resiko sendiri ya?” ucap rizki
sambil melihat jam di tangannya, kemudian melangka memasuki rumah disusul reni
dari belakang.
“lo ketuk sendiri sana pintu kamarnya sana” kata
__ADS_1
rizki menunjuk pintu kamar rendi
tok tok tok
reni mengetuk pintu kamar dengan ragu – ragu
“masuk aja bi, pintunya nggak rendi kunci” ucap
rendi dari dalam kamar.
“woi ini gue reni” ucap reni dengan nada sedikit
meninggi.
“ngapain lo kesini” tanya rendi
“makanya lo buka dulu pintunya biar gue bisa
jelasin, kalau kayak gini, lebih miripnya gue bicara sama pintu tau” ucap reni.
mendengar itu rendi membuka pintu kamarnya. “masuk
lo” ketus rendi.
“lo kenapa nggak ke kampus?” tanya reni beranjak
duduk di kursi belajar rendi.
“ngapain ke kampus, gue kesana juga jarang banget
nyimak perkuliahan nggak pernah, lagian ya lulus atau nggak lulus akhirnya juga
“kita bisa ngomong diluar nggak, gue nggak nyaman
dikamar lo” pintah reni
“enak aja lo, nggak lihat apa semua fasilitas kamar
gue lengkap tahu” kata rendi dengan sedikit menyombongkan fasilitas kamarnya.
“bukan itu maksud gue, lo itu cowok dan gue cewek
trus kalau berada dalam satu ruangan gini” kata reni
“ohh gitu, yaudah kita ngobrol di taman belakang”
kata rendi beranjak keluar.
“bi bawain cemilan sama minum ke taman ya” pintah
rendi saat melewati dapur.
“iya den” ucap bibi singkat
“eh ada teman rendi, kapan datang nak” ucap rianti
yang tengah merawat anggrek kesayangannya.
__ADS_1
“barusan tante” ucap reni tersenyum. melihat wajah
dingin rendi membuat rianti masuk kedalam rumah, meninggalkan rendi dan reni di
taman.
“menurut gue sihh lo nggak boleh sedingin itu sama
orang tua lo. biar bagaimana pun mereka sudah merawat serta menyayangi lo”
“maksud lo?” tanya rendi
“sikap lo dingin banget sama mama lo”
“mereka nggak pernah sayang sama gue, mereka hanya
sayang kak rizki” ucap rendi menutup matanya.
“capek gue dibandingin melulu” tambah rendi dengan
melipat tangan di dada
“itu mungkin sebuah dorongan dari mereka, agar lo
berusaha lebih lagi” kata reni memandangi hamparan bunga
“tapi gue udah berusaha juga, tapi mereka nggak
peduli semua” ucap rendi
“kalau gitu lo tunjukin sama mereka kalau kamu juga
mampu”
“gimana lagi gue harus nunjukinnya”
“dengan berbakti pada mereka, lakukan yang diminta.
gue yakin kok mereka ingin yang terbaik buat lo. coba aja dulu, lo pasti bisa
kok” tegas reni.
“kenapa lo yakin kalau gue bisa” tanya rendi
“entahlah, tapi gue yakin aja” jawab reni penuh
keyakinan.
“ok gue akan coba lakuin yang gue bisa”
“den ini minumnya” ucap bibi meletakkan minuman
serta cemilan ke atas meja
“diminum non” ucap bibi pada reni
“iya bi, makasih” kata reni mengambil es jeruk. “kenapa
__ADS_1
gue nyaman banget berbagi kisah dengan dia, apa karena rasa kasian gue sama dia”
batin rendi menatap reni