Tempat Cinta Berpulang

Tempat Cinta Berpulang
#9


__ADS_3

sesampainya di rumah rendi terus mengurung diri


dalam kamar, tak ingin menemui siapapun. dalam benaknya kini hanya ada rasa


kecewa pada ayahnya yang selalu membanggakan kakaknya, hal ini membuat rendi


tak mau membiarkan kakaknya menemuinya.


sudah 3 hari rendi tak pernah ke kampus bahkan tak


bisa dihubungi.


reni yang terus memikirkan pertemuan terakhirnya


dengan rendi merasa sedikit ibah dengannya, “dia nggak papa kan, atau gue


kerumahnya saja sehabis kuliah? “ batin reni.


setelah reni sampai di depan rumah rendi, dia mulai


ragu untuk melangkah masuk. setelah berdiri cukup lama akhirnya reni memutuskan


untuk membatalkan niat awalnya.


“kamu siapa?” tanya seseorang dari belakang reni


“engg saya” jawab reni dengan wajah yang takut


seakan dia ketahuan berbuat salah


“iya kamu, ngapain lo disini” kata rizki memperjelas


pertanyaannya


“saya reni kak, teman kampus rendi” jawab reni


“ngapain lo kesini?” tanya rizki dengan tangan yang


terlipat di dadanya


“mau ketemu rendi kak, buat bahas tugas kampus” kata


reni takut - takut


“udah kamu pulang saja, rendi nggak mau ketemu


siapapun” ucap rendi dengan nafas yang berat


“tolong kak, ini penting banget” pintah reni


“yaudah tapi tanggung resiko sendiri ya?” ucap rizki


sambil melihat jam di tangannya, kemudian melangka memasuki rumah disusul reni


dari belakang.


“lo ketuk sendiri sana pintu kamarnya sana” kata

__ADS_1


rizki menunjuk pintu kamar rendi


tok tok tok


reni mengetuk pintu kamar dengan ragu – ragu


“masuk aja bi, pintunya nggak rendi kunci” ucap


rendi dari dalam kamar.


“woi ini gue reni” ucap reni dengan nada sedikit


meninggi.


“ngapain lo kesini” tanya rendi


“makanya lo buka dulu pintunya biar gue bisa


jelasin, kalau kayak gini, lebih miripnya gue bicara sama pintu tau” ucap reni.


mendengar itu rendi membuka pintu kamarnya. “masuk


lo” ketus rendi.


“lo kenapa nggak ke kampus?” tanya reni beranjak


duduk di kursi belajar rendi.


“ngapain ke kampus, gue kesana juga jarang banget


nyimak perkuliahan nggak pernah, lagian ya lulus atau nggak lulus akhirnya juga


“kita bisa ngomong diluar nggak, gue nggak nyaman


dikamar lo” pintah reni


“enak aja lo, nggak lihat apa semua fasilitas kamar


gue lengkap tahu” kata rendi dengan sedikit menyombongkan fasilitas kamarnya.


“bukan itu maksud gue, lo itu cowok dan gue cewek


trus kalau berada dalam satu ruangan gini” kata reni


“ohh gitu, yaudah kita ngobrol di taman belakang”


kata rendi beranjak keluar.


“bi bawain cemilan sama minum ke taman ya” pintah


rendi saat melewati dapur.


“iya den” ucap bibi singkat


“eh ada teman rendi, kapan datang nak” ucap rianti


yang tengah merawat anggrek kesayangannya.

__ADS_1


“barusan tante” ucap reni tersenyum. melihat wajah


dingin rendi membuat rianti masuk kedalam rumah, meninggalkan rendi dan reni di


taman.


“menurut gue sihh lo nggak boleh sedingin itu sama


orang tua lo. biar bagaimana pun mereka sudah merawat serta menyayangi lo”


“maksud lo?” tanya rendi


“sikap lo dingin banget sama mama lo”


“mereka nggak pernah sayang sama gue, mereka hanya


sayang kak rizki” ucap rendi menutup matanya.


“capek gue dibandingin melulu” tambah rendi dengan


melipat tangan di dada


“itu mungkin sebuah dorongan dari mereka, agar lo


berusaha lebih lagi” kata reni memandangi hamparan bunga


“tapi gue udah berusaha juga, tapi mereka nggak


peduli semua” ucap rendi


“kalau gitu lo tunjukin sama mereka kalau kamu juga


mampu”


“gimana lagi gue harus nunjukinnya”


“dengan berbakti pada mereka, lakukan yang diminta.


gue yakin kok mereka ingin yang terbaik buat lo. coba aja dulu, lo pasti bisa


kok” tegas reni.


“kenapa lo yakin kalau gue bisa” tanya rendi


“entahlah, tapi gue yakin aja” jawab reni penuh


keyakinan.


“ok gue akan coba lakuin yang gue bisa”


“den ini minumnya” ucap bibi meletakkan minuman


serta cemilan ke atas meja


“diminum non” ucap bibi pada reni


“iya bi, makasih” kata reni mengambil es jeruk. “kenapa

__ADS_1


gue nyaman banget berbagi kisah dengan dia, apa karena rasa kasian gue sama dia”


batin rendi menatap reni


__ADS_2