
“wah kalung lo bagus banget” ucap winda memandangi benda yang berkilau melingkari leher
clawdya.
“oh ini, hanya souvenir kecil dari perjalan bisnis
nyokap gue” ucap klawdya dengan memamerkan kalung berliannya.
“lo enak banget ya wid, gue ma boro – boro di
sempatin waktu luang aja nggak pernah” rengek dion yang merasa iri dengan
kehidupan klawdya teman dekatnya.
“udah – udah lo jangan sedih gitu ntar lo mewek
lagi, mendingan kita nongkrong yuk” ucap klawdya
“tau nih dion cowok kok lembek gitu, ayo pergi” kata
winda menyenggol dion dengan sikunya.
“lo ikutkan ren” tanya dion
“ingat lo udah janji kemaren” kata widya
mengingatkan rendi.
“iya gue ikut” ucap rendi dingin
di kafe
terlihat beberapa mobil mewah memasuki kawasan kafe
yang menyita semua perhatian setiap orang berada di tempat itu.
mereka kemudian terlihat duduk teras kafe yang dapat
memperlihatkan keindahan serta keramaian kota, setelah pesanan mereka disajikan
diatas meja. mereka kembali membuka percakap dengan menikmati pesanan mereka.
“lo kenapa ren” tanya dion pada rendi yang nampak
__ADS_1
bungkam sedari tadi.
“tau nih muka ditekuk mulu” timpl winda
“kalau lo ada masalah, lo cerita aja ke kita” ucap
klawdya
“gue nggak papa” kata rendi dengan mengalihkan pandangannya.
“nggak lo pasti nyembunyiin sesuatu dari kita kan?,
rendi yang gue kenal nggak pernah bersikap cuek sama apa yang kita omongin”
“ngacoh kalian orang gue biasa – biasa saja” kilah
rendi.
“tapi lo beda banget beberapa hari ini ren” ucap
dion
“nggak asik deh”
seketika suasana menjadi sepih, hanya pengunjung
riuh.
“udah jangan pada mellow gini kali, nggak seru deh”
ucap dion membuka percakapan
“wid gue bisakan mesen satu paket” kata winda
mengalihkan pandangannya pada kalung klawdya
“mesen apa win?” tanya klawdya yang tak mengerti
pembicaraan winda
“kayak kalung lo, tapi gue mau permatanya di ganti
dengan rubi terus satu paket yaa, cincin, gelang, kalung, sama antingnya jangan
__ADS_1
lupa” sarkaas winda.
“ok, nanti gue tanya sama nyokap gue”
mereka kembali melanjutkan percakapan serta canda
gurau mereka, namun sosok bayangan terus mengusik ingatan rendi, sosok yang
mampu membuatnya mengatakan maaf. entah apa yang terjadi pada rendi namun
setelah dari klub malam tempo hari
Flash on
sang sopir keluar dari mobil, rendi yang duduk di
kursi samping kemudi menangkap sosok reni tang tengah berbicang dengan supir,
“ngapain tuh cewek, kalau dilihat dari penampilannya sepertinya dia yang
membersihkan sepanjang jalan ini” baatin rendi
saat rendi terus menatap ke arah reni ada sebuah
rasa yang berkecamuk di dada rendi, rendi yang menyadari rasa itu tetap
memandang reni dari dalam mobil dengan kaca hitam. bisa di pastikan orang dari
luar takkan mampu menembuskan pandangannya ke dalam mobil tersebut. semakin
lama rendi kian menatap lekat kearah reni dan sesaat reni menatap ke arah mobil.
tatapan rendi sempat beradu meski reni tak menyadarinya.
“kenapa seakan ada rasa penasaran yang terbesik saat
aku menatap wanita itu” batin rendi.
“hei pak ngapain ngobrol disitu” ucap clawdya yang
keluar dari mobil sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.
“iya non, maaf ya dek” ucap sang sopir sambil
__ADS_1
berjalan menuju mobil.
Flash off