
Ting bunyi handpone
reni yang menandakan satu notif pesan
masuk
“apa kita bisa bertemu di taman” pesan rendi
“boleh tapi agak sore, nggak papakan” tanya reni mengirim
pesannya
“tentu, aku tunggu ditempat biasa ok”
reni yang masih berada di warteg kemudian mulai mempercepat
gerak untuk menyelesaikan tugasnya, karena bagi reni menunggu adalah hal yang
paling membosankan sehingga ia selalu berusaha agar ia tak membuat siapappun
menunggunya.
di taman
rendi yang sudah duduk di kursi taman tempat mereka biasa
duduk, dengan rasa rindu yang berkecamuk di dadanya. tak henti – hentinya rendi
terus menatap kearah jalan raya tempat sosok yang ia rindukan datang
“mengapa aku bisa merasakan hal semacam ini dengan sangat
cepat, bahkan aku tak membutuhkan alasan untuk mendapatkan perasaan ini” batin
rendi, yang mulai tak sabar ingin bertemu dengan reni
“ hai ” sapa reni melambaikan tangannya di seberang jalan
rendi yang melihat reni membalas lambaian tangan reni dengan
senyum yang mulai mengembang di bibirnya
“udah lama nunggunya” ucap reni mendekat kearah kursi taman
tempat rendi berada dengan sebuket bunga mawar merah di pangkuannya
“hehe lumayan, ini untuk kamu” ucap rendi sambil memberikan
buket bunga tersebut
“maaf ya udah buat kamu nunggu dan trima kasih bunganya
cantik” kata reni beranjak duduk di samping rendi
“it’s ok, aku ngerti kok kamu harus menyelesaikan kerjaanmu
di warteg terlebih dahulu”
“kamu tahu darimana kalau aku bekerja di warteg tanya reni
penasaran
“kamu lupa ya kita pernah satu kampu, itupun kita satu kelas
__ADS_1
jadi mudah bagiku untuk tahu tentang kamu” jelas rendi dengan melipat tangannya
di dada
“oh iya juga ya” kata reni membenarkan kata rendi
“jadi bagaimana” tanya rendi yang menatap intens ke arah
reni
“bagaimana apanya” tanya balik reni yang tak mengerti arah
pertanyaan rendi
“tentang pertanyaanku kemarin”
“kalau aku sih, iya asalkan masih dalam porsi dan batasan
yang sesuai” jelas reni mengiyakan permintaan rendi kemarin
“kamu serius, makasih ya. aku sangat bahagia dengan jawaban
dari mu” ucap rendi menggenggan tangan reni dengan mata yang berkaca – kaca yang
merasakan kelegaan dalam hatinya.
“iya aku juga bahagia karena tuhan sudah mengirim kamu di
sisiku”
“meski aku tak tahu apa perasaan cinta seperti ini,namun yang ku tahu dan kuyakini cinta akan datang
dan hadir dengan perlahan sejalan dengan kedekatan serta kebersamaan, dan aku
“sayang kamu sudah makan” tanya rendi dengan senyum yang
terus menghiasi wajah
“sayang” ucap reni menaikkan alisnya
“iya kan kita udah resmi nih, jadi nggak papakan aku panggil
sayang”
“ya nggak papa sih, Cuma agak aneh saja dengarnya” ungkap
reni dengan menundukkan kepalanya
“mungkin karena belum biasa” tambah reni mengangkat wajahnya
dengan senyum tipisnya
“tenang saja nanti kamu akan terbiasa, percaya sama aku”
pungkas rendi
“iya aku percaya sama kamu, yaudah pergi makan yuk, aku yang
pilih tempatnya ya” kata reni penuh semangat
“iya apa sih yang nggak buat kamu” ucap rendi berdiri dengan
tanpa melepaskan genggaman tangannya
__ADS_1
mereka kemudian meninggalkan taman menggunakan mobil sport
kesayangan rendi dengan mengikuti petunjuk arah dari reni. tak butuh waktu lama
mereka sampai di tempat yang dimaksud reni, karena jalanan kota tak terlalu
macet.
“kamu yakin mau makan di tempat seperti ini” tanya rendi
yang cukup heran melihat tempat makan di depannya
“iya, tenang saja kualitas makanannya terjamin enak kok,
lagian tempat ini mengutamakan kehigienisan makan serta harganya pas di dompet
jelas reni melepaskan seat belt
“udah percaya aja sama aku” kata reni melihat rendi yang
masih diam mengamati tempat makan tersebut
“yaudah deh, tapi jujur dari kecil aku nggak pernah makan di tempat seperti ini bahkan nggak
pernah ngebayangin makan dipinggir jalan seperti ini” kata rendi
“makanya ayo turun, gue jamin kamu nggak bakal nyesel” ucap
reni meyakinkan rendi
setelah mereka duduk, reni langsun memesan nasi kucing dan
ayam lalapan serta es teh untuk minumnya.
“mari makan” ucap reni, yang melihat rendi yang masih
menatap makanan di hadapan mereka
“gimana enak” tanya reni pada rendi yang memasukkan sesendok
nasi kucing ke dalam mulutnya
“hmmm enak, kalah sama masakan orang di rumahku” ucap rendi menikmati pesanan reni
reni hanya bisa tersenyum untuk menanggapi hal tersebut.
setelah mereka selesai makan rendi langsung mengantar reni
pulang karena malam sudah mulai larut.
di panti
“makasih ya udah dianterin” ucap reni
“iya sama – sama sayang, sana masuk istirahat besok harus
kuliah. slamat malam” ucap rendi tersenyum
“hati – hati dijalan ya” kata reni melambaikan tangannya
“ok sayang sampai jumpa besok” kata rendi membalas lambaian
tangan dari dalam mobil
__ADS_1